Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Fardan (Part 1)


__ADS_3

📞 "Vi, kosan ada yang kosong, nih," ucap Ningsih di seberang telepon siang itu memberi info padaku.


📞 "Wah iya kah? Kamar mana yang kosong?" Tanyaku penasaran. Aku sudah semangat sekali mendengar kabar bahwa ada kamar kosong di kosan Belimbing, kosan keduaku selama kuliah.


📞 "Kamarnya teh Wini."


📞 "Hah? Memangnya mba Ani kemana?"


Aku bertanya demikian karena mba Ani adalah teman satu kamar teh Wini. Semenjak teh Wini meninggal, jadilah mba Ani tinggal di kamar itu sendirian. Dan sekarang dia pun pindah kosan.


📞 "Mba Ani mau nikah, dia ikut suaminya," jawab Ningsih kemudian.


📞 "Oooh iya, iya."


Aku hanya bisa menjawab singkat. Aku bingung harus mengambil kamar itu atau tidak. Walau almarhumah teh Wini adalah temanku juga dulu saat ngekost, namun tinggal di kamar bekasnya aku takut juga. Jadilah aku galau.


📞 "Bagaimana?" Tanya Ningsih mengagetkan lamunan singkatku.


📞 "Hm, boleh deh aku ambil. Kasih tahu bapak kost ya. Kamar itu untukku."


Kosan Belimbing memang laris sekali. Hari ini kamar kosong, beberapa hari kemudian pasti sudah terisi lagi. Jadi dari pada aku terus tinggal di kosan Melati yang tidak ada teman itu, lebih baik aku tinggal di bekas kamar almarhumah teh Wini dulu saja. Nanti kalau kosan Belimbing ada kamar kosong lagi, aku bisa minta pindah kamar, beres.


Siang itu aku membereskan barang-barang bawaanku untuk dipindahkan ke kosan Belimbing. Walau masa sewaku masih kurang seminggu lagi, tak apa, aku harus cepat keluar dari kosan Melati. Siapa juga kan orangnya yang betah hidup dalam kebosanan?


Jadi aku tinggal di kosan Belimbing hanya selama 3 minggu saja.


***


Sore itu aku hampir selesai mengetap barang-barang bawaanku di kamar nomor 6, yaitu kamar bekas almarhumah teh Wini. Desain kamar ini berbeda dengan semua kamar lainnya. Kamar kosan Belimbing semuanya berbentuk persegi. Namun kamar nomor 6 ini membentuk memanjang. Dari pintu menuju tembok ujung lumayan jauh. Dan ternyata kamar itu terasa ngeri saat malam harinya.


Malam itu adalah malam pertamaku tidur di kamar nomor 6. Walau aku sudah cukup lama tinggal di kosan Belimbing dulu, namun tinggal di kamar nomor 6 benar-benar bukan dugaanku.

__ADS_1


Aku rebahkan tubuhku pada kasur busa yang juga pernah ditiduri almarhumah. Yaa Allah, aku ngeri sendiri sungguh. Walau almarhumah meninggal di rumahnya, namun tetap saja kamar itu adalah kamarnya dulu selama tinggal di kosan bertahun-tahun.


Aku pandangi langit-langit kamarku. Di tembok belakang kamarku terdapat satu lubang kecil yang ditutupi koran. Kata Ningsih, di belakang kamar baruku itu adalah kebun kosong. Makanya kenapa lubangnya di tutup. Alasannya adalah agar binatang-binatang kecil yang berterbangan tidak masuk ke dalam kamar.


Aku menghela napas. Sudah pukul 11 malam. Kosan sudah sepi. Semua anak kost sudah masuk ke kamarnya masing-masing dan mungkin sudah tidur. Namun aku tidak bisa tidur. Otakku mengajakku berpikiran macam-macam. Aku takut kalau mataku terpejam, akan ada makhluk-makhluk lain yang menyapa. Terlebih aku terbayang-bayang wajah teh Wini. Yaa Allah.


Jam 1.


Jam 2.


Sampai menjelang jam 3, aku belum juga terpejam. Serius aku takut. Lampu kamar yang biasanya aku matikan kalau menjelang tidur, malam itu aku biarkan menyala. Ya mungkin aku tidak bisa tidur karena lampu yang terang menyala. Namun jika kumatikan, aku pun tak sangguuuuup. Takuuuuut.


Mataku sudah lelah. Kasur yang semula berada mepet di tembok ujung bagian belakang kamar, kini aku tarik kasurku mendekati pintu. Alasannya sepele, karena aku takut. Dengan posisi kasur yang dekat dengan pintu, minimalnya jika ada apa-apa aku bisa langsung lari.


Ya, akhirnya malam itu aku bisa tertidur di jam 3 malam.


***


"Ya wajar sih. Lagi pula semua kosan juga ada penggunya sih. Lebih-lebih A Fardan dulu," ucap Fardan menenangkan.


"Memangnya dulu bagaimana?" Tanyaku penasaran.


Fardan adalah temanku yang umurnya jauh di atasku. Mungkin umurnya 10 tahunan lebih tua dariku. Dan dia dulu berkuliah di Bandung. Katanya dulu saat dia kuliah, dia ngekost di daerah Gunung Batu, Bandung.


Dan ternyata Fardan yang memang juga peka terhadap hal-hal gaib, dia punya cerita yang menyeramkan.


"Dulu saat A Fardan ngekost, tidak ada satu orang pun yang A Fardan kenal di sana. Kosan yang Aa datangi itu agak unik ya. Soalnya letak kamarnya tidak beraturan," ucap Fardan mulai betcerita.


Aku dan Yoga diam mendengarkan.


"Tidak betaturan bagaimana?" Tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Kalau kamar kosan pada umumnya kan nomornya urut ya. Misal ini kamar nomor 1, sebelahnya pasti nomor 2 kan? Sebelahnya lagi nomor 3, dan seterusnya," jawab Fardan menjelaskan.


Aku mengangguk. Karena selama ini kosan yang aku temui memang seperti itu. Nomor kamarnya pasti berurutan.


"Nah di kosan yang A Fardan tempati itu beda. Di sana nomornya acak. Misal di sini kamar nomor 1, nah di sebelahnya itu kamar nomor 3. Dan kamar nomor 2 nya ada di ujung paling pojok. Ngacak pokoknya," pembicaraan masih diambil alih oleh Fardan. Kami masih menjadi pendengar setia.


"Kosan Aa itu ada dua lantai. Dan di depan kosan itu ada pohon rambutan besar. Tingginya hampir sama dengan tinggi kosan," katanya lagi.


"Enak dong rambutan. Kalau ingin makan tinggal petik," tukas Yoga berandai-andai.


"Itu mah dasar otakmu! Makan mulu!"


"Hahahahaha."


Kami tertawa sejenak lalu diam lagi, bersiap mendengarkan lanjutan cerita Fardan lagi.


"Aa waktu itu tinggal di kamar nomor 4, sebelah A Fardan kamar nomor 6 dan 7. Di sana kosannya campur ya, laki-laki dan perempuan."


Kami manggut-manggut, serius mendengarkan cerita Fardan.


"Nah, A Fardan ceritanya baru tinggal tiga harian di sana. Datanglah tetangga kamar, sebut saja si Anggi. Dia datang ke kamar A Fardan dan nanya, 'Eh Dan, betah tidak di kosan ini?' Ya A Fardan jawab saja betah dong. Sesimpel itu."


"...," kami masih diam.


"Selang berapa hari, saat A Fardan baru pulang kuliah, A Fardan lewati tangga saat itu karena kamar Aa ada di lantai atas. Saat lewat itu, ditanyalah Aa sama salah satu teman lainnya, 'Eh Dan, betah kan di kamar itu?' Aa saat itu hanya bisa nyeringis yaa. Sambil tetap Aa jawab betah."


"...."


"Tapi lama-lama kan Aa penasaran juga. Soalnya sudah ada tiga orang yang tanya ke Aa perihal betah tidaknya Aa di kosan itu. Aneh kan?"


Kami manggut-manggut. Ya memang aneh sih. Untuk apa coba para tetangga kamar menanyakan hal yang itu-itu saja. "Betah tidak kamu di kosan ini?"

__ADS_1


Ada apa memangnya?


__ADS_2