
Aku segera mengunci kamarku dan bergegas kembali ke kamar Tatang. Sampai di sana, Tatang masih asik dengan game yang dimainkannya. Aku duduk di meja belajar Tatang sok tenang. Padahal hati dan otakku dipenuhi tanya tentang siapa wanita yang duduk di ranjangku tadi?
Tugasku kini sudah benar-benar selesai. Namun aku tidak mau kembali ke kamarku. Takut juga aku kalau-kalau wanita itu muncul lagi.
"Tang, saya menginap di sini, ya. Tugas saya masih banyak nih. Kalau di kamar sendirian takut ketiduran," ucapku berbohong.
"Siap. Nanti saya buatkan kopi dulu deh biar tambah semangat begadang," ucap Tatang sambil berlalu ke arah dapur.
Aku kini sendiri di kamar Tatang. Namun pikiranku kembali pada kamarku.
'Dispenser sudah aku matikan belum ya?' Gumamku dalam hati yang tiba-tiba teringat kalau air dalam galon sudah akan habis.
'Atau jangan-jangan colokan setrikaan belum aku cabut?' Pikiranku masih berkecamuk sendiri memikirkan keadaan kamar.
Aku tidak mengerti kenapa malam itu rasa khawatirku pada kamar menjadi berlebihan. Aku takut kalau-kalau ada aliran listrik yang kelupaan aku copot yang bisa berakibat fatal nantinya. Tidak lucu kak kalau kosan ini kebakaran karena aku yang lupa mencabut colokan setrikaan? Aku menghela napas khawatir.
Tak lama, Tatang datang dengan membawa dua gelas kopi hitam di tangannya. Aroma kopi itu sedap sekali.
__ADS_1
"Ini, Dan, minum dulu!"
Tatang meletakkan satu gelas kopi itu di atas meja belajar. Sementara satu gelas lainnya dia bawa ke depan komputernya. Malam ini sepertinya dia akan begadang memainkan game kesukaannya itu. Biarlah, walau Tatang asik sendiri dengan aktifitasnya, setidaknya malam ini aku ada teman untuk begadang.
"Eh, Tang, saya balik ke kamar dulu ya. Kayaknya saya lupa mencabut colokan dispenser deh," ucapku pada Tatang seadanya. Karena memang pikiranku tak lepas dari listrik dan listrik.
"Oke," jawabnya singkat.
Akhirnya aku kembali lagi menuju kamarku. Setelah sampai di depannya, perlahan aku masukkan kunci pada lubang pintu itu. Aku takut kalau wanita yang ku lihat tadi tiba-tiba sudah ada di dalam sana. Hiiiiy!!
Aku nyalakan lampu kamar yang aku matikan sebelum aku tinggalkan tadi. Aku cek satu persatu colokan listrik yang ada di kamarku. Semuanya aman, dispenser aman, setrika aman. Ya, semuanya mungkin hanya karena kekhawatiranku saja.
Namun saat sampai di depan kamar Tatang, pintu kamar itu sudah tertutup. Loh???
"Tang, Tatang?!! Aku ketok-ketok pintu kamar Tatang keras yang ternyata sudah terkunci itu.
"Tang???" Aku panggil dia sekali lagi. Senyap. Suara komputernya sudah tak terdengar lagi.
__ADS_1
"Taaaang??" Aku masih berusaha mengetuk pintu kamarnya.
Tak lama, suara jetakan gagang pintu yang sedang dibuka terdengar dari dalam. Setelah pintu dibuka, ku lihat Tatang menguap.
"Kamu tidur??" Tanyaku heran padanya. Karena sepergiku tadi, dia masih dalam keadaan semangat 45 menghadapi musuh dalam gamenya.
"Hoaaam, iya nih. Perasaan saya jadi ngantuk pisan," jawab Tatang sambil menguap lagi. "Lagi pula kenapa kamu datang lagi? Mau ambil buku?" Tanya Tatang masih sambil menguap.
Datang lagi? Apa maksudnya?
"Kok datang lagi sih? Maksudnya gimana nih?" Tanyaku heran padanya. Apa yang terjadi?
"Loh bukannya tadi kamu yang bilang sendiri kalau kamu tidak jadi nginap?" Tatang balik bertanya dengan muka bingungnya.
"Kapan?" Aku malah yang sekarang jadi bingung.
"Barusan tadi. Makanya saya tutup pintu. Lagi pula tiba-tiba saya ngantuk berat ini, aneh ya?"
__ADS_1
Aku menghela napas. Aku benar-benar bingung. Sebenarnya apa yang terjadi?