Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kosan Teh Lisa (Part 1)


__ADS_3

Aku dan Yoga mendengarkan cerita Fardan dengan seksama. Ada perasaan kasihan dan juga iba.


...Mengapa orang-orang bisa memutuskan untuk bunuh diri padahal hidup lebih indah? Putus cinta, sakit. Melihat orang yang dicintai menikah dengan yang lain, pasti lebih sakit. Tapi bukankah semua itu sudah ketentuan Allah? Si A menikah dengan si B. Kita bisa apa? Kunci hidup hanya berusaha, berdoa, lalu bersabar, menyerahkan semua hasilnya pada Allah. Jika akhirnya tidak sesuai harap, percaya saja, insyaAllah nanti Allah akan gantikan dengan yang lebih baik. Karena sesungguhnya Allahlah sebaik-baik perancang. Yakin pada Allah dan semua rencana-Nya adalah bukti keimanan kita pada-Nya. Wallahualam....


..."Terus bagaimana itu kelanjutan kisah Lala?" Tanyaku kemudian pada Fardan....


..."Ya yang pasti itu bukan Lala kan. Yang datang pada a Fardan itu hanya jin yang menunjukkan diri seolah menjadi Lala," jawab Fardan....


...Ya, aku setuju. Karena semua orang yang meninggal akan kembali pada Allah....


...Bagaimana dengan yang bunuh diri? ...


...Wallaualam ya. Aku sendiri kurang tahu bagaimana nasib mereka. Tapi yang pasti, selalu jauhkan pikiran kita dari rencana macam itu. Menyakiti diri sendiri. TIDAK BOLEH!...


...Pahami diri kita masing-masing. Dan usahakan kita punya minimal satu saja teman untuk kita berbagi cerita. Berbagi cerita itu sangat perlu. Jangan sampai kita berlarut-larut membiarkan otak kita hanya terfokus pada masalah berat yang hanya kita nikmati sendiri . Bisa stress nanti....


...Menangislah jika ingin menangis. Teriaklah jika ingin teriak. Ini hidup kita. Jadikan hidup kita senyaman mungkin yang kita bisa. Cintai diri kita. Kita semua berhak bahagia....


...Lupakan semua orang yang pernah menyakiti kita, maafkan mereka. Lupakan semua dendam yang ada pada hati kita, lepaskan!...


...Karena dendam sesungguhnya hanya akan menyiksa diri kita sendiri. Dan itu sangat merugikan, sungguh!...


...Jadi, untuk semua teman-teman Bebee, selalu semangat jalani hari yaa 😚...


"Terus setelah a Fardan menyerahkan surat itu pada Anton, sosok Lala masih suka datang tidak?" Tanya Yoga ikut penasaran.


"Masih. Hanya saja tujuannya tidak sespesifik seperti saat Lala minta a Fardan untuk menyampaikan suratnya itu," jawab Fardan sambil menyeruput es dalam gelas yang tadi dia pesan di warung kosan.


"Eeh pas a Fardan cerita perihal kejadian yang a Fardan alami pada teman-teman kosan, ternyata katanya si hantu ini tinggal di pohon rambutan depan kosan itu. Jadi tempat utama dia di pohon rambutan, dan tempat keduanya di kamar a Fardan. Jadi si makhluk itu kerjaanya bolak balik antara pohon rambutan dan kamar a Fardan saja," jelasnya kemudian.


Aku dan Yoga mengangguk paham. Pantas saja teman-teman kosan Fardan menanyakan perihal betah atau tidaknya Fardan di kosan, rupanya alasannya adalah karena si makhluk itu bersemayam di kamar Fardan. Ya, ya. Kisah Fardan clear!

__ADS_1


"Jadi ya sudah, kamu tidak usah takut kalau ada kejadian-kejadian aneh di kosan. Karena memang ya rata-rata kosan memang begitu, ada saja kisah seramnya," ucap Fardan kemudian menasehatiku.


Aku mengangguk lagi. Apa pun penghuni yang ada di kosan dengan segala aktifitasnya, semoga tidak sampai melukai kami, para manusia ya.


***


Besoknya, aku tiba-tiba ingin menelepon teh Lisa, rindu juga aku padanya. Semenjak sama-sama pindah dari kosan Citra dulu, aku jadi jarang bertemu dengan semua teman dari kosan Citra, tak terkecuali teh Lisa. Siang itu aku berniat untuk berkunjung ke kosan baru teh Lisa yang sebetulnya masih satu jalur dengan kosanku, namun jaraknya lumayan jauh. Selepas pulang kampus, aku langsung melajukan sepeda motorku seorang diri menuju kosan teh Lisa dengan berbekal alamat yang dia beri.


"Kamu jalan saja sampai SMA Hijau, nah di samping SMA itu ada gang. Kamu masuk saja sampai mentok pengkolan. Kosan Teteh nanti dekat dengan pengkolan itu, bangunan warna biru," tukas Teh Lisa saat di telepon tadi.


Aku tahu betul SMA Hijau, karena angkot yang sering aku tumpangi untuk pulang pergi ke supermarket pasti melewati SMA itu. Walau hanya sekedar lewat, tapi setidaknya aku tahu titik di mana aku bisa menemukan kosan teh Lisa.


Tak lama, motorku sudah sampai di SMA Hijau. Dan benar, ada gang di samping gedung SMA itu. Aku masuk ke gang itu dan terus berjalan hingga mentok, sesuai perintah teh Lisa. Dan lagi-lagi benar, setelah pentokan jalan itu aku bertemu dengan bangunan kosan warna biru.


Kosannya persis sekali berada di pinggir jalan. Tanpa ada pagar sama sekali. Di sana hanya ada tiga pintu berjejer, pertanda kosan itu hanya memiliki tiga kamar. Namun aku tidak tahu di kamar mana teh Lisa tinggal. Untuk itu aku mengeluarkan ponselku dan menelepon teh Lisa.


📞 "Teh, aku sudah di depan kosan, nih," ucapku pada teh Lisa yang langsung mengangkat teleponku.


"Sini masuk!" Katanya memintaku turun dari motorku.


Aku tersenyum lega karena aku langsung bisa menemukan kosan teh Lisa tanpa nyasar.


Saat aku masuk ke dalam kosan teh Lisa, rupanya bangunan itu lebih pas aku sebut kontrakan. Karena di dalam sana ada tiga ruangan yang hanya disekat oleh tembok. Satu ruangan depan yang bisa dijadikan ruang tamu, satu ruang tengah yang teh Lisa sulap jadi kamar tidur, dan ruang belakang yang berisi dapur dan toilet.


"Enak ya teh di sini," ucapku sambil masih melihat-lihat kosan teh Lisa.


"Lumayan. Di sini Teteh jadi bisa masak sendiri, lebih hemat," jawabnya sambil mengingat saat kami tinggal di kosan Citra. Di sana tidak ada dapur. Untuk makan sehari-hari kami selalu membeli lauk di warung-warung terdekat.


"Tapi di sini tidak horor kan, Teh?" Tanyaku kemudian setengah meledek.


"Wuiiih jangan salaaaah!!"

__ADS_1


"Hahahaha," aku tertawa mendengar jawaban teh Lisa. "Sama juga?"


"Hehehe, iya."


"Gimana, gimana? Ada kejadian apa, Teh?" Tanyaku antusias. Karena memang dulu di kosan Citra pun aku dan teh Lisa sudah klop kalau berbicara tentang makhluk-makhluk itu.


"Waktu Teteh baru tinggal di sini, tiap malam saat Teteh tidur, selalu saja ada suara kaki di lantai, DUG DUG DUG, mirip orang lari-lari gitu. Awalnya Teteh pikir mungkin itu anak kamar sebelah yang main malam-malam, jadi ya sudah Teteh tidak ambil pusing," Teh Lisa mulai bercerita.


"Oh, memangnya tiga kamar ini semuanya sudah berkeluarga, Teh?" Tanyaku.


"Betul. Yang sebelah Teteh ini punya anak satu masih lima tahunan, yang paling ujung punya anak dua," jelas teh Lisa.


Aku tersenyum bingung. Karena saat itu teh Lisa yang berumur 35 tahunan nyatanya belum dikaruniai momongan. Sementara suaminya masih suka dinas keluar kota, jadi teh Lisa masih saja hidup seolah sendiri di kosan itu. Dulu di kosan Citra teh Lisa banyak teman, ada kami yang selalu membuat rusuh di kamarnya. Namun di kosan ini dia benar-benar sendiri. Kasihan.


"Teh Lisa betah di sini?" Tanyaku kemudian yang lebih terdengar seperti, 'Teh Lisa betah di sini sendirian tanpa teman?'


"Betah. Kalau sore Teteh suka main ke warung depan. Ibunya baik," jawabnya jujur.


Di depan kosan teh Lisa memang ada warung yang menjual berbagai aneka jajanan. Enak juga. Tinggal melangkah lima langkah saja, kita bisa jajan sesuka kita.


"Sukur kalau begitu mah. Oh iya lanjut cerita tadi, Teh!"


"Oh iya lanjuuut. Teteh sudah beberapa malam tuh dengar suara pijakan kaki. Tapi lama-lama kok aneh juga. Masa itu anak tetangga tiap malam lari-larian terus kan? Akhirnya besoknya pas kebetulan si ibu sedang di luar, Teteh tanya tuh," ucap teh Lisa melanjutkan ceritanya.


"Eh mau minum apa ini? Dari tadi belum ada minum," tanya teh Lisa membuyarkan aku yang sedang serius mendengarkan ceritanya.


"Ih Teteh mah. Lanjut dulu ceritanya!" Protesku padanya.


"Hahaha, minum dulu! Nanti Teteh pesankan minum dulu di depan ya."


Teh Lisa lalu berjalan keluar menuju warung depan meninggalkan aku sendiri di ruang tamu.

__ADS_1


__ADS_2