
Malam hari itu kami berkumpul di rumah kontrakan, sebut "posko KKN" saja ya, agar mudah diingat . Kami full team berkumpul melingkar di ruang tengah. Tidak ada agenda besar yang kami bicarakan saat itu. Kami hanya membuat jadwal piket les gratis untuk anak-anak SD setempat di siang hari yang akan langsung di mulai besok. Sore harinya, yaitu setelah ashar kami mengajari mereka mengaji di mushola. Acara ini sudah kami beritahukan pada anak-anak kemarin. Malam itu kami hanya mendata jadwal pelajarannya saja. Dalam hal ini jelas kami dari anak keguruanlah yang maju di depan.
Setelah selesai menyusun jadwal, sisa malam itu kami habiskan dengan saling memperkenalkan diri masing-masing, menceritakan ini itu sesuka kami. Seru sekali sungguh. Kalian yang sedang atau akan kuliah, tunggu betapa serunya momen KKN ini yaa. Namun untuk yang tidak bisa melanjutkan kuliah dan lebih memilih bekerja, don't be sad! Semoga kalian semua sukses dengan apa pun jalan yang kalian tempuh. Semangat ya!!
"Oh iya, besok pagi-pagi kita jalan-jalan yuk! Sekalian olahraga," ucap salah satu diantara kami mengusulkan.
"Boleh tuh. Nanti kita main di sungai juga ya!" Imbuh salah satu teman lainnya.
"Eh dimana ada sungai?"
Kami saling bersahutan.
"Di belakang sawah itu loh. Ada sungai besar. Kemarin saya survey kesana. Arusnya lumayan deras sih. Sedikit lagi cocok tuh untuk arum jeram," jawab pak ketua mantap, yaitu Om Indro.
Dia memang pagi tadi bersama beberapa anggota laki-laki sudah menyusur desa walau belum semuanya. Dan dari situlah dia menemukan sungai.
Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Anak laki-laki berpamitan pulang ke poskonya. Dan kami para wanita bersiap untuk tidur.
Begitulah setiap malamnya. Selepas isya anak laki-laki datang ke posko utama untuk makan malam bersama, lalu dilanjutkan dengan mengurus agenda program. Dan jika waktu sudah menunjukkan pukul 11, mereka harus kembali ke kontrakan mereka.
***
"Woooy bangun-bangun!! Katanya pada mau ke sungai?" Ucap Tika menarik-narik kakiku. Walau subuh tadi kami sudah sholat berjamaah, namun setelah itu kami tidur lagi. Tidak baik memang. Hehe, maaf jangan ditiru!
Dengan malas, kami penghuni kamar belakang akhirnya bangun. Beberapa diantara kami mandi, sementara aku tidak dooong, haha. Dengan memakai celana trening dan kaos pendek yang dilapis jaket serta kerudung, aku sudah mantap berkeliling desa walau tanpa mandi.
Kami semua berbondong menikmati pagi dengan berjalan kaki menyusuri desa. Aku yang notabene memang orang desa, seketika menjadi seperti orang kota saat berada di desa Cengkeh. Bagaimana tidak? Di sana masih alami sekali. Sejenis cengkeh, lada, atau apa ya aku lupa. Intinya bahan dapur yang biasanya aku dapat dengan membeli di warung, di sana warga mendapatkannya hanya dengan memetik dari pohon di depan rumahnya. Woaah, keren sih.
__ADS_1
Kami masih menyusuri jalan aspal yang tak terlalu rapi dan hanya bisa dilewati oleh satu mobil itu dengan perasaan senang. Di kanan dan kirinya ada sawah hijau membentang. Dan di depan sana, gunung ciremai terlihat jelas sekali. Woah, aku yang notabene anak pantai, jelas antusias sekali mendapatkan pemandangan yang disajikan desa Cengkeh. Aku khirnya bersyukur telah di tempatkan di desa itu. Udaranya nyaman, tidak dingin, dan tidak panas, sejuk.
Kami kini sudah sampai di persimpangan jalan menuju sungai. Kami harus melewati pematang sawah terlebih dahulu agar sampai di sungai. Kami semua berhenti. Om Indro memimpin jalan, diikuti oleh satu persatu dari kami.
"Aku tidak ikut, ya. Kalian saja!" Ucap teh Meli sambil mengelus perutnya.
Aku melirik perutnya. Memang benar. Dengan kondisi perutnya yang sudah besar seperti itu, tidak mungkin juga kan dia ikut turun ke sawah? Kami akhirnya mengangguk setuju.
"Aku kembali ke posko saja," lanjutnya.
Akhirnya teh Meli putar balik kembali ke posko ditemani oleh dua diantara kami. Sementara aku dan beberapa teman lainnya turun ke sawah mengejar teman-teman lain yang sudah jauh.
Sampai di pertengahan jalan, suara gemericik air sudah terdengar. Nyaman sekali di telinga. Aku percepat jalanku melewati pematang sawah tak sabar ingin cepat sampai di sungai. Dan setelah sungai itu terlihat, benar saja, sungainya besar, arusnya lumayan deras, banyak bebatuan besar terlihat menonjol dari dalam sungai.
Dari permukaan tanah sawah menuju sungai, posisinya menurun. Kami harus berhati-hati saat menuruninya karena jalanannya agak miring. Kalau tidak, bisa saja kami tergelincir dan langsung tercebur ke sungai.
Saat matahari mulai panas, kami memutuskan untuk kembali ke posko. Badan kami setengah basah. Ada juga sebagian dari kami yang masih aman kering.
Sampai di posko, kami di hadang oleh teh Meli di depan pintu.
"Eits, jangan dulu pada masuk! Sana masuk dari belakang, mandi dulu!" Tukas teh Meli lantang.
Semua dari kami menurut. Kami masuk melalui pintu belakang. Tapi ya namanya kamar mandi harus ngantre, jadi aku putuskan untuk masuk ke kamar terlebih dahulu.
"Ih teh Via tidak mandi? Cepat mandi sih, Teh. Nanti setan sungainya ngikut loh!"
Aku tidak tahu apakah perkataan Meli itu benar adanya atau hanya untuk menakut-nakuti, tapi ya ngeri juga kan kalau seandainya memang ada satu makhluk penunggu sungai yang terbawa sampai posko?
__ADS_1
"Ih iya nanti juga mandi, serem amat yaa ngomongnya," protesku.
"Hahaha, ya sudah cepat sana!" Ucap teh Meli sambil mengelus perutnya lalu masuk ke kamarnya.
***
Siang itu beberapa anak usia Sekolah Dasar yang rumahnya dekat dengan posko datang. Mereka antusias ingin belajar bersama kami, Alhamdulillah. Mereka masuk melihat-lihat isi ruangan posko.
"Mereka anak-anak sekitar sini, tapi kok sepertinya mereka baru pertama kalinya masuk ke rumah ini?" Aku membatin.
Setelahnya, mereka dikumpulkan di ruang depan untuk belajar bersama dengan anggota KKN lain, kebetulan hari itu bukan jadwalku. Jadi aku bisa rebahan di dalam kamar sambil bermain ponsel.
Hari sudah beranjak sore. Kami bersiap pergi ke mushola untuk mengajar anak-anak mengaji. Banyak sekali anak yang datang. Untuk itu kami membaginya menjadi beberapa kelompok agar proses mengaji cepat selesai. Kelompok laki-laki dan perempuan, masing-masing 4-5 orang. Kami masih punya agenda selanjutnya.
Aku sedang menghadapi dua orang anak perempuan sekarang. Salah satunya sedang mengaji, sementara satunya lagi duduk di sebelahku.
"Kak, kakak," panggilnya.
"Ya?" Jawabku singkat karena mataku fokus pada anak yang sedang mengaji.
"Kakak tidak takut tinggal di rumah itu?" Tanyanya mulai membuatku curiga. Kenapa anak-anak di sini menanyakan hal itu-itu lagi dari kemarin? Ini sudah anak ketiga yang menanyakan hal itu.
"Tidak dong. Kan di dalam sana ada banyak orang. Ada teman-teman yang lain juga," jawabku.
"Hehehe. Iya ya, Kak."
"Iya. Memangnya ada apa sih? Kok kakak harus takut?" Aku mulai menyelidik.
__ADS_1
"Hehehe," dia menyeringai ragu. Dia berbisik padaku, "Kata orang, di dalam rumah itu ada penunggunya."