
"Sudah masuk semua?" Aku mengecek anak-anak dalam reguku.
Aku lihat mereka sudah bersiap-siap akan tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Hari pertama di perkemahan memang hari santai. Anggap saja hari perkenalan dengan alam yang akan menjadi tempat tinggal mereka beberapa hari ke depan. Malam itu mereka harus tidur cepat karena besok harus bangun pagi-pagi dan menghadapi banyak aktifitas yang melelahkan.
"Sudah, Bu." Jawab mereka kompak.
Kami para guru PPL sama-sama mengecek regu masing-masing untuk segera masuk ke tenda dan bergegas tidur. Karena ya, ada saja beberapa diantara mereka yang masih asik berhaha-hihi di tenda temannya yang lain.
KRIK KRIK KRIKKK
Suara jangkrik malam ramai terdengar. Suara desiran angin yang membelai ranting pinus pun terdengar syahdu.
Kalian bisa bayangkan suara pohon-pohon hutan yang tertiup angin malam? Yaa begitulah suaranya. Kayak ada ngeri-ngerinya gitu.
Untuk seketika, kami para guru PPL masih berdiri di depan tenda menyaksikan tenda anak-anak yang mulai sepi. Pertanda mereka mulai terlelap tidur.
Tenda kami, para guru PPL lumayan besar. Karena kami menyewa tenda khusus dari pengurus bumi perkemahan. Dalam posisi tubuh kami yang berdiri pun, atap tenda masih tak tersentuh. Tenda guru semuanya ada dua saat itu. Yaitu tenda guru asli SMK Mandiri, dan tenda kami, para guru PPL.
KRIK KRIK KRIK
Suara jangkrik masih berbunyi, lengkap dengan suara hewan gunung lainnya. Malam itu, kami semua tidur dengan nyenyak.
***
"Bangun, bangun, bangun!!"
Suara Pak Abas terdengar membangunkan para siswa pada jam 4 pagi. Anak-anak harus bergegas mandi sebelum mengantri walau air gunung sangat dingin saat itu. Untuk selanjutnya, anak-anak dibimbing sholat subuh berjamaah.
Dan kami para guru PPL, tentunya sudah mandi sebelum anak-anak bangun doong, hehe.
Kalian bisa bayangkan betapa dinginnya air gunung di jam 3-4 pagi? Brrrrr, sudah mirip air es saja.
Pagi itu anak-anak berkumpul di lahan terbuka untuk olahraga. Dan acara selanjutnya setiap anak berkumpul dengan regunya masing-masing dan bersiap melaksanakan tugas dari kakak seniornya.
Pelantikan hari itu sebenarnya lebih khusus diadakan untuk anak-anak kelas X (dibaca 10) yang mengikuti ekstrakulikuler. Sehingga anak kelas XI lah yang membimbing mereka. Anak-anak kelas X dibimbing untuk menjalankan tugas utama, yaitu hiking naik turun bukit melewati pos demi pos dan menyelesaikan misi dari masing-masing pos tersebut.
Hingga malam pun tiba ....
KRIK KRIK KRIK
Suara binatang malam kembali terdengar.
Kakak senior menginstruksikan setiap regu untuk berpencar mencari tempat yang nyaman untuk berkumpul dengan regunya masing-masing. Ada yang berkumpul di atas bukit, ada yang memilih di bawah, ada yang di lapang terbuka, ada yang dekat dengan masjid, yaa dimana pun boleh, intinya jangan berdekatan antara satu regu dengan regu lainnya.
Mereka berbondong-bondong mencari tempat di malam buta dengan hanya bermodal senter yang dipimpin oleh kakak senior. Kami para guru PPL diminta mendampingi masing-masing regu itu. Dan aku memilih untuk mendampingi rebu Elang, sebut saja begitu.
"Siap grak!!" Salah satu kakak senior dari reguku memberi komando pada adik-adik juniornya.
Satu, dua wejangan telah di sampaikan oleh kakak senior yang lain di depan barisan bara junior.
"Awas jangan melamun!" Kakak senior yang bertugas berkeliling mengingatkan.
Karena kalian tahu sendiri kan? Di pegunungan rawan sekali kesurupan apabila pikiran kita kosong. Dan berkali-kali kakak senior berteriak pada adik-adiknya agar pikiran jangan sampai kosong.
__ADS_1
Sudah lumayan lama kami berada di atas sana, hingga satu dua orang junior mulai kelelahan.
"Bu, pusing." Salah satu junior di barisan belakang mengeluh padaku. Kebetulan aku memang mendampingi mereka dengan berdiri di belakang saat itu.
"Sebentar, ya." Aku tanyakan dulu pada si kakak senior perihal juniornya yang merasa pusing. Dan akhirnya ..
"Kalian yang sudah tidak kuat, pusing, lemas, silakan keluar dari barisan dan duduk di depan sini!" Salah satu kakak senior yang lain memberi instruksi.
Akhirnya junior yang tadi mengeluh membubarkan dirinya dan berjalan ke depan barisan lalu duduk meluruskan kakinya. Sedangkan anak-anak yang lainnya masih berdiri dalam posisi siap, masih menerima materi dari kakak seniornya. Sekali-kali aku memutari mereka berkeliling. Tak lama, di depan sudah ada tiga orang yang istirahat karena tidak kuat berdiri lama.
Sampai ...
"Bu," panggil salah satu anak perempuan berambut ikal dari dalam barisan.
"Ya??" Aku mendekat padanya.
"Pusing," katanya.
"Oh ya sudah, ayo duduk di depan saja bersama yang lainnya," aku menawarkan. Namun dia menggeleng.
"Aku kembali ke tenda saja, Bu," pintanya.
Aku tanyakan dulu keinginan anak itu pada kakak senior, dan mereka memperbolehkan.
Akhirnya aku tuntun anak itu untuk kembali ke tendanya. Aku pegangi badannya sambil berjalan, takut dia tidak kuat di tengah jalan lalu pinsan. Jalanan saat itu dalam posisi menurun karena letak tenda anak-anak ada di bawah sana. Regu kami memilih berbaris di tanjakan atas soalnya waktu itu.
Dari barisan anak-anak menuju tenda lumayan jauh. Kami_aku dan anak perempuan itu harus melewati lahan-lahan kosong dengan banyak pohon besar di sekelilingnya. Seram memang. Ditambah jalanan yang gelap dan menurun membuat suasana semakin mencekam. Suara anak-anak di atas mulai terdengar menjauh.
"Bu?" Anak itu memanggilku.
"Hm??" Aku berjalan hati-hati karena penerangan yang minim.
"Di situ ada kepala domba tahu, Bu?" Anak itu memberitahuku.
"Di mana?" Aku bertanya asal hanya untuk menghargai anak itu yang mengajakku berbicara.
"Tuh di situ." Dia menunjuk ke arah kanan yang tak jauh dari posisi kami berjalan. Ku lihat arah yang dia tunjuk, di sana hanya ada semak belukar.
Dalam hatiku sebenarnya ada perasaan takut. Karena sudah dari sore tadi terdengar rumor banyak anak-anak yang melihat sosok kepala domba, ada juga yang melihat sosok domba utuh berlari lalu menghilang.
(Kalian yang berasal dari Ciayumajakuning, pasti sudah tahu bumi perkemahan mana yang aku maksud. Tapi rahasia yaa jangan bilang-bilang) 😁✌
"Kamu lihat?" Aku masih sok-sokan menimpali omongan anak itu. Dia mengangguk.
"Bu?"
"Ya??"
"Aku punya teman."
"Oh iya?" Aku tak menaruh curiga sedikit pun. Karena omongannya memang wajar.
"Tuh teman aku ada di samping ibu."
__ADS_1
DEG!!
Ya Allah, asli, badanku langsung gemetar saat itu.
Anak itu menyeringai aneh. Aku menelan ludah.
Dia punya teman? Dan temannya ada di sampingku????
Aku terpikirkan dengan omongan Nina, sang ketua regu Kamboja yang kemarin memberitahuku tentang anak kelas X yang mempunyai 'teman'.
Ya, ELISA.
Aku saat itu tengah berjalan di hutan gelap berdua dengan ELISA???
Sebenarnya aku masih sanksi apakah anak itu benar-benar Elisa atau bukan. Tapi dari pengakuannya tadi, bukankah kalian juga setuju kalau dia memang Elisa??
Kalian bisa bayangkan jika jadi aku??
Aku tetap memegangi anak itu dengan perasaan takut yang langsung memuncak. Kalau memang yang dari tadi aku tuntun itu adalah benar-benar Elisa, aku harus apa?
Tidak mungkin kan aku tinggalkan dia di tengah jalan sendirian sementara aku lari tunggang-langgang?
Aku percepat jalanku. Aku hawatir dia mengamuk, atau minimalnya yaa kesurupan di tengah jalan yang gelap. Kalau benar begitu, aku harus bagaimana? Tidak ada siapa-siapa di sana.
"Ayo cepat yaa jalannya," ucapku sok santai mengajak anak itu berjalan. Walau jantungku sudah dag dig dug entah apa rasanya.
Dia sudah diam. Wajahnya menunduk. Aku tahu dia sudah membaca bahwa guru pendampingnya ini sudah ketakutan setengah mati.
Aku percepat lagi jalanku. Sampai dari kejauhan aku melihat ada dua orang kakak senior yang sedang duduk di pinggiran jalan di depan. Alhamdulillah, aku menarik napas lega.
Segera aku hampiri mereka.
"Anak-anak, ini ada junior yang sakit," kataku segera mengoper anak yang ku bawa tadi.
"Oh, iya, Bu." Dua senior itu menerima anak itu lalu menuntunnya untuk duduk dulu.
Dan kalian tahu apa yang anak berambut ikal itu lakukan padaku?
Dia menatapku tajam sambil tersenyum menyeramkan, entah apa maksudnya.
Jika benar dia Elisa, mengapa dunia ini sekebetulan itu?
Mengapa harus aku yang dipertemukan dengan Elisa dari semua guru PPL yang ada?
Ya, pada akhirnya, karena inilah kisahku.
Aku ingin mengutip sebaris kalimat bagus dari SimpleMan, seseorang yang suka menuliskan kisah horornya di twitter. Kalian pernah tahu dia?
Begini katanya, "Hal yang seperti ini sebenarnya tidak menakutkan jika diceritakan, tapi semua itu berbeda jika kita mengalaminya langsung."
Yaa, seperti itulah kurang lebihnya.
Seperti kisah-kisahku contohnya. Coba bayangkan jika kalian jadi aku? Bagaimana rasanya kira-kira? Apa yang akan kalian lakukan?
__ADS_1