Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kisah Sekolah (Part 2)


__ADS_3

Atin memulai ceritanya ....


"Jadi kan aku jalan ke lorong depan. Aku lewati kelasnya satu-satu. Nah dari kelas pertama itu kosong-kosong saja. Kelas kedua juga kosong. Kelas berikutnya juga kosong. Nah, sampai di kelas pojok, ada lilin nyala satu...."


Aku diam mendengarkan, membiarkan Atin menyelesaikan ceritanya. Walau bulu kudukku sudah meremang saat itu.


"Karena lilin itulah aku jadi belok ke arah lorong tuh. Dari jauh ada terang nyala-nyala api. Aku pikir jalannya memang kesana. Aku pikir nyala api itu adalah tanda bahwa kita semua memang harus jalan kesana."


"...." aku masih diam.


"Kelas pojok yang ada nyala lilinnya itu sudah aku lewati. Nah, sampailah aku di kelas sebelahnya...."


"...."


"Sebentar! Ini aku benar salah rute? Yakin?" Atin masih meyakinkanku.


"Ih yakin. Orang rute yang asli tuh keluar gerbang lalu belok kiri. Bukan dari lorong terus belok kiri." Aku menjawab pasti.


"Soalnya di kelas sebelah setelah kelas lilin itu ada orang tahu!"


"Hah? Serius?? Orang apa??" Aku kaget bukan kepalang.


"Di kelas sebelah ada orang pakai baju putih, rambut panjang, gerantulan di jendela. Dia malah menatapku. Mukanya datar tanpa ekspresi."


Yaa Allah 😑


Kelas yang di maksud Atin adalah kelas yang berada di samping kanan dari kelas horor yang katanya ada lilinnya itu. Dan kebetulan jendela kelas itu ada teralis besinya. Dan menurut pengakuan Atin, di teralis besi itu ada orang gerantulan??


"Aku pikir dia kakak kelas yang sengaja menakut-nakuti. Jadi pas aku lewat, aku sapa dia, 'Misi kak' begitu kataku."


Aku menelan ludah.


"Terus??" Tanyaku penasaran.


"Ya sudah aku lanjutkan jalan sampai ke masjid."


Saat itu memang tempat finalnya adalah masjid. Kami yang sudah selesai melewati rute tantangan harus berkumpul di masjid sambil menunggu teman-teman yang lain.


"Pas jalan menuju masjid, ada kelas lain yang ada orangnya lagi tidak?" Aku penasaran barangkali Atin menemukan lagi kakak kelas yang dianggapnya sedang memainkan perannya itu.


"Tidak ada. Semua kelas kosong. Kecuali dua kelas tadi," jawabnya.


"Nah kan!! Itu dia!! Kenapa kelas lain kosong? Karena memang tidak ada kakak kelas di sana, Atin!! Jelas-jelas kamu salah rute!" Jawabku menjelaskan semuanya.


Atin terdiam. Pikirannya melayang membayangkan kembali malam itu.

__ADS_1


Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya aku dan Atin mencoba bertanya pada salah satu kakak senior perihal adakah salah satu diantara mereka yang memang bertugas menakut-nakuti kita dari arah lorong kelas??


Dan mereka menjawab TIDAK ADA.


Tidak ada satu pun kakak kelas yang berjaga di lorong kelas. Semua kakak kelas bertugas berjaga dari mulai gerbang hingga masjid, sesuai rute yang sebenarnya.


Lalu lilin yang menyala di kelas pojok itu lilin apa?


Dan yang gerantulan di jendela itu siapa??


KUNTILANAK?


Ya, pada akhirnya kami sadar, Atin memang di sasarkan, atau istilah gampangnya Atin di arahkan oleh mereka untuk melewati lorong kelas malam itu.


Atin adalah teman dekatku. Dia tinggal di desa yang sama denganku. Aku dan dia bersekolah di SMP dan SMA yang sama juga. Namun setelah lulus SMA, kami berpisah. Aku melanjutkan kuliah, sementara dia bekerja di Tangerang. Kami hanya bertemu saat dia pulang kampung saja.


***


Suatu hari Atin mengabariku bahwa dia sedang ada di rumah. Aku yang memang hari itu sudah masuk jadwal pulang, segera menyiapkan diriku. Senin sampai Kamis aku ada di kosan karena jadwal kuliah memang Senin sampai Kamis. Sementara Jumat sampai Minggu aku di rumah. Dan hari itulah aku habiskan untuk berkunjung ke rumah Atin.


Sampai di rumah Atin, kami bercerita ini itu melepas rindu. Namanya perempuan, teman dekat pula, kerjaan kami saat bertemu yaa tidak lain antara curhat dan gibah, itu saja. Wekekekek.


Namun ada yang berbeda dengan pertemuan kami hari itu. Teman sekolahku itu menceritakan pengalaman ganjil yang baru dialaminya.


Tahun 2011.


Malam itu, Atin akan pulang setelah seharian berkunjung ke kontrakan ayahnya yang berada di daerah Ja**b*n*ng, Bekasi karena dia besok masuk kerja. Atin memutuskan pulang ke kosannya yang berada di daerah B*t*ng, Tangerang yaitu kitaran pukul 9 malam.


"Atin pulang dulu ya, Pak," katanya sambil menyalami bapaknya.


Atin diantarkan bapaknya sampai menunggu bus. Di sela waktu menunggu bus, ayah Atin berpesan agar nanti di jalan nanti jangan putus berdoa. Atin menganggukkan kepalanya.


Tak lama, dari kejauhan terlihat ada satu bus yang datang. Atin menyalami lagi bapaknya berpamitan. Setelah bus diberhentikan, ia segera naik, dan dia mendapatkan tempat duduk dekat dengan pintu karena kursi lainnya sudah terisi penuh.


Dalam perjalanan, Atin memilih untuk memainkan ponselnya agar tidak mengantuk. Namun karena terlalu fokus dengan ponsel, ia hampir saja luput dari satu kejanggalan yang ada di dalam bus itu.


Awalnya Atin merasa aneh karena selama dalam perjalanan, tidak ada satu pun suara yang ia dengar. Tidak ada satu orang pun penumpang dalam bus itu yang berbicara. Atin alihkan pandanganya menyapu seluruh isi bus. Aneh. Semua penumpangnya menunduk, yang lainnya malah seolah tertidur pulas.


"Mungkin penumpang lainnya pada mengantuk," pikir Atin.


Tak lama, tempat tujuan Atin akan sampai. Segera dia bilang "KIRI" untuk menghentikan bus itu. Bus pun berhenti.


Namun keanehan kembali terjadi saat Atin telah turun dari bus. Di jalanan B*t*ng yang selalu ramai walau larut malam sekali pun itu, terlihat berbeda, malam itu sepi sekali. Tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Atin celingukan bingung seorang diri. Dia yakin dia telah turun di tempat yang benar. Tapi kenapa jalanan jadi sepi begitu?


Akhirnya Atin memutuskan untuk berjalan kaki mencari orang yang mungkin bisa ditanyainya. Namun sampai dia sudah berjalan cukup jauh dan kakinya lelah, dia belum juga bertemu siapa pun.

__ADS_1


Atin tak putus asa, dia lanjutkan berjalan. Tak lama, dia menemukan sebuah warung kecil di pinggir jalan. Segera dia datangi warung itu.


"Permisi, Pak. Ini betul kan daerah Tangerang?" Tanya Atin linglung pada si bapak pemilik warung.


"Iya Neng, betul," jawabnya.


"Sekarang saya berada di daerah apa ya pak tepatnya?" Tanya Atin lagi.


"Ini daerah A, Neng."


(Maaf ya teman-teman, saya tidak bisa menyebutkan secara jelas nama daerahnya. Karena si Atin pun lupa apa nama daerah yang di sebut oleh si bapak) 😅


"Oh, ya sudah, Pak terimakasih. Saya numpang istirahat sebentar ya, Pak," izin Atin sambil mengeluarkan ponselnya.


Segera ia hubungi pacarnya yang sudah lama tinggal di Tangerang untuk menanyakan lokasi yang bapak warung sebutkan, karena Atin sendiri masih baru tinggal di Tangerang. Namun saat ia menelepon pacarnya dan menyebutkan dia sedang berada di lokasi A, si pacar malah bingung. Karena setahu si pacar, di Tangerang tidak ada daerah A seperti yang Atin sebutkan.


Atin tambah bingung. Jadi sebenarnya dia saat itu sedang berada di daerah mana?


"Si Eneng memangnya mau kemana?" Tanya si bapak warung akhirnya.


"Aku mau ke B*t*ng, Pak," jawabnya lemas. Atin sudah pasrah.


"Oh, ya sudah ayo bapak sebrangkan, ya."


Tidak ada pilihan lain. Atin hanya manut di tuntun oleh bapak warung untuk menyebrang.


Dan setelah menyebrang, keanehan kembali terjadi. Suasana yang tadinya sepi senyap langsung berubah menjadi ramai. Lalu lalang kendaraan mulai terlihat.


Tak lama, akhirnya ada angkot lewat. Atin segera melambaikan tangannya memberhentikan angkot itu.


"B*t*ng ya, Pak," ucap Atin pada mang supir.


"Loh, Neng. Kalau mau ke B*t*ng untuk apa naik angkot segala? Itu sudah dekat kok." Salah satu penumpang menimpali.


Dan benar saja, belum ada satu menit Atin menaiki angkot, dia sudah sampai di tempat tujuannya. Atin masih linglung.


Sebenarnya apa yang dia alami?


Ini menurut pandanganku pribadi yaa.


Menurutku, Atin telah diajak masuk pada dimensi lain melalui bus yang dia naiki tadi. Dan penumpang yang ada di dalam bus itu jelas bukan orang. Atin telah masuk dalam dunia yang entah tahun berapa itu. Tahun dimana jalanan masih sangat sepi, dan masih jarang ada lalu lalang kendaraan yang lewat. Dan daerah A yang disebutkan bapak warung, aku yakin daerah itu memang ada. Tapi itu dulu. Mungkin sekarang sudah berubah jadi nama daerah lain.


Aku menyimpulkan seperti ini karena saat Atin di sebrangkan oleh bapak pemilik warung, dia telah kembali pada dunianya yang asli. Yaitu B*t*ng yang selalu ramai walau malam hari.


Dan di seberang sana, yaitu tempat Atin menginjakkan kaki saat turun dari bus, mungkin adalah dimensi lain milik "mereka", yaa "mereka".

__ADS_1


__ADS_2