Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
KKN (Part 5)


__ADS_3

KKN kami berjalanan lancar selama beberapa minggu ini, Alhamdulillah. Mulai dari acara kesehatan, pendidikan, sampai ikut serta dalam pembangunan desa. Kami para anggota KKN semakin harinya semakin dekat. Rasa sayang kami pada masing-masing tumbuh dalam begitu saja. Bagaimana tidak? Kami selama ini sudah hidup satu rumah selama 24 jam berbagi cerita ini itu bersama.


Hingga pada suatu hari aku sakit. Mungkin karena terlalu lelah dengan kegiatan yang seabreg itu. Akhirnya aku diberi izin untuk pulang. Dari pada merepotkan yang lainnya di posko kan?


***


📩 'Ang, cepat balik ke posko dong! Sepi di sini tanpa kamu. Kangen.' (Ang \= mbak/ teteh)


Siang itu aku yang sedang tiduran di rumah mendapat pesan singkat dari anak-anak posko. Aku tersenyum membaca pesan mereka. Aku juga rindu, sungguh. Aku rindu kebersamaan setiap pagi sampai malamnya. Sudah lima harian ini aku terdampar sendiri di rumah, sementara yang lainnya masih berjuang di desa Cengkeh merealisasikan semua agenda yang sudah kami buat.


📩 'Tunggu dua hari lagi yaa. Nanti aku balik ke posko. Aku juga kangeeeeeen.'


Ku kirim pesan balasan pada mereka, teman-teman kamarku. Siang itu kami bercengkrama melalui pesan singkat.


***


Pagi itu aku kembali ke posko di antar ayahku, belum kuat juga aku mengendarai motor seorang diri dalam masa pemulihan itu. Sampai di sana, teman-teman menyambutku senang, Alhamdulillah.


Namun karena pagi itu aku belum terlalu kuat untuk beraktifitas ini itu, jadi hari pertama di posko aku habiskan untuk berdiam diri di rumah kontrakan bersama teman yang mendapat piket hari itu.


Malam pun datang ....


Kami sudah bersiap akan tidur. Aku sudah mengambil posisiku tidur di paling pinggir, yaitu mepet ke tembok yang dekat dengan pintu. Aku sudah memakai selimutku, lumayan dingin di sana kalau malam soalnya.


Anggota kamarku ada sekitar tujuhan orang yaa, aku lupa tepatnya berapa. Malam itu sebelum aku lelap, satu per satu diantara mereka bangun dari tidurnya dan memilih pindah tidur di ruang tengah/ ruang TV, tumben.


"Aku pindah ke depan ya, sumpek di sini," ucap salah satu temanku sambil menenteng bantal dan selimutnya. Aku hanya melirik, lalu lanjut bersiap tidur.


Tak lama, satu temanku lagi bangkit. "Aku ikut ke ruang tengah ah," ucapnya sambil ikut membawa bantal kesayangannya.


Sudah berkurang dua anggota, kini kamar mulai terasa legang. Namun tak lama, salah satu diantara temanku juga bangkit.


"Aku juga ah tidur di ruang tengah ya, ingin nonton TV dulu," ucapnya segera berlalu.


Begitulah, satu persatu teman kamarku pindah ke ruang tengah, semuanya. Hingga sekarang hanya aku sendiri yang tersisa di kamar itu. Aku mengernyitkan dahi heran. Itu anak-anak kenapa?

__ADS_1


"Oy kenapa pada tidur di lantai sih? Sini sih temani aku!" Aku melongok dari pintu kamar mengajak mereka untuk kembali masuk ke kamar.


Di ruang tengah yang biasanya kosong, malam itu menjadi penuh karena teman-teman kamarku yang tiba-tiba hijrah ke sana. Mereka lebih memilih tidur di lantai yang mereka alasi dengan kain tapih atau sarung dari pada di dalam kamar yang jelas ada kasurnya walau hanya kasur lantai. Dua diantaranya malah ada yang tidur di sofa.


"Aku tidur di sini saja ah, bosen tidur di dalam." Salah satu teman menimpali.


"Aku juga di sini saja ah, gerah di dalam," ucap salah satu yang lainnya menambahkan.


Aku mengernyitkan dahi lagi. Bosen, sumpek, gerah? Apa-apaan coba mereka? Padahal sudah berhari-hari ini mereka tidur di kamar ini beramai-ramai, dan aman-aman saja. Mengapa malam itu mereka mengeluh?


"Sudah sana cepat tidur, masih lemas kamu tuh. Aku mau nonton TV dulu," jawab Nani akhirnya.


Aku mengangguk. Karena memang aku masih dalam masa pemulihan. Aku pun sebelum tidur tadi masih meminum obat dari dokter yang belum habis. Aku kembali masuk ke kamar dan merebahkan tubuhku seorang diri di sana. Aku pandangi kamar yang malam itu kosong. Lumayan besar juga kamarnya jika tidak ada siapa-siapa begini.


"Yaa sudahlah, tidur sendiri lebih enak. Aku bisa merentangkan kaki dan tanganku sesukaku," pikirku dalam hati.


Akhirnya malam itu aku tidur sendirian di kamar.


***


Pagi hari seperti biasa kami ribut sendiri dengan aktifitas masing-masing. Ada yang mengantre kamar mandi, ada yang pergi keluar membeli sarapan, ada yang sibuk menjemur pakaian, macam-macam. Sementara aku masih berdiam diri di dalam kamar karena badanku yang masih kurang fit.


"Ini Vi," ucap salah satunya sambil memberikan kue pesananku.


Aku yang tadi sendirian duduk di kamar, sekarang ditemani oleh tiga temanku. Kami mulai memakan sarapan yang kami beli.


Sedang asik aku memakan sarapanku, ketiga teman di depanku berbisik-bisik dan saling dorong. Aku tidak mengerti ada apa dengan mereka? Sudah dari semalam mereka bersikap aneh.


"Ada apa sih?" Tanyaku penasaran.


"Kamu saja, kamu saja!" Mereka berbisik-bisik. Namun karena jarakku yang tidak jauh dari mereka, otomatis desisan bisikan mereka aku dengar.


"Ooooy, ada apa????" Aku bertanya lagi.


"Hehehe, gini Vi. Aku kasihan juga sama kamu nih...." ucap Asih pada akhirnya mau membuka mulut. Kalimatnya terpotong.

__ADS_1


"Kasihan kenapa?" Aku tidak mengerti.


Mereka saling berpandangan sebentar, lalu seolah memberi kode pada Asih untuk melanjutkan ucapannya.


"Maaf ya semalam kami belum memberitaumu dan malah membiarkan kamu tidur sendiri di kamar," ucapnya ragu.


"Loh memangnya kenapa? Aku semalam tidur nyenyak kok," jawabku sejujurnya. Karena memang semalam aku tidur nyenyak. Apalagi masih ada pengaruh obat tidur dari obat yang aku minum.


"Sebenarnya selama kamu sakit, di sini ada kejadian," ucapnya masih dengan nada ragu.


"Kejadian? Apa tuh?" Aku penasaran. Saat Asih mengatakan 'kejadian', hal pertama yang aku pikirkan adalah salah satu diantara kami ada yang pacaran atau apalah sejenisnya. Karena kami mahasiswa laki-laki dan perempuan sudah bersama-sama selama ini, mungkin saja kan ada beberapa diantara kami yang saling jatuh hati? Cinlok? Cinta lokasi?


"Emmm, malam kemarin, dari bawah jendela kamar itu ada orang nangis," ucap Asih sambil menunjuk jendela kamar yang kami tempati saat itu. Kebetulan di seberang jendela kan kebun kosong yaa, seperti yang aku ceritakan pada episode sebelumnya.


Aku diam mendengarkan.


"Tapi pas di lihat, tidak ada siapa-siapa di sana." Asih melanjutkan ceritanya.


Aku masih diam.


"Kami semua takut kan? Ditambah suara tangisannya masih berlanjut sampai tengah malam. Jadi ..." Asih memutus kalimatnya. Aku menatapnya lekat. "Jadi, mulai malam itu kami semua tidur di ruang tengah."


Aku menghela napas, yaa Allah..pantas saja semalam aku dibiarkan tidur sendirian. Ternyata mereka sudah takut dengan kamar ini dari beberapa hari kemarin?? Aku mendelik tajam. Aku kesal juga pada mereka. Kenapa mereka tidak memberitahuku saja malam itu?


"Hahahaha." Mereka tertawa, paham dengan arti lirikan mataku.


"Iya ang Vi maaf ih. Tadinya kami juga mau memberitahu, tapi kelupaan sampai malam tadi. Jadi ya sudah nih kami ceritaka lagi ini, hehe," ucap Asih dengan raut bersalahnya.


"Ck!!"


Aku diam, aku berpikir. Selama ini semuanya baik-baik saja. Di dalam posko tidak ada hal-hal aneh yang terjadi selama ini. Namun saat aku tidak ada, kenapa 'mereka' baru mulai menampakkan eksistensinya?


"Oh iya mulai besok anak laki-laki mulai tidur di sini," lanjutnya.


"Hah? Tidur di sini? Mengapa memangnya?" Aku terkejut. Karena ya, untuk apa mereka tidur satu rumah dengan kami para perempuan? Toh mereka juga sudah ada posko sendiri kan?

__ADS_1


Namun pertanyaanku tidak Asih jawab. Mereka malah berlirikan satu sama lainnya.


Ada apa?


__ADS_2