Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
PPL (Part 7-End)


__ADS_3

Masa PPL ku sudah akan tiga bulan. Tandanya aku dan semua teman-teman PPL sebentar lagi akan meninggalkan SMK Mandiri.


Sedih rasanya akan berpisah dengan anak-anak yang sudah seperti teman itu. Mereka juga sedih karena kami akan selesai menemani mereka belajar di kelas. Walau cuma guru PPL, setidaknya kami benar-benar mengajar layaknya guru sungguhan. Ya, perpisahan memang selalu menyakitkan.


***


Pagi itu aku berangkat seperti biasa dari kosan dengan mengendarai motor maticku menuju SMK Mandiri. Jarak kosanku menuju sekolahan lumayan dekat, paling sekitar 10 menit sampai. Itu pun dengan kecepatan 4okm/jam yaa.


Aku kendarai motorku sambil menghirup udara pagi. Oh iya, setiap aku akan ke sekolah, aku pasti melewati rumah kontrakan yang akan disewa teh Wati itu loh. Dan rumah itu masih juga belum laku. Entahlah, mungkin si Bungsu tidak ingin rumahnya ditempati oleh orang asing.


Motorku sebentar lagi akan sampai di SMK Mandiri. Namun baru saja akan memasuki gerbang, aku dibuat terkejut oleh pemandangan di depanku. Pohon besar yang ada di depan sekolahan sudah hilang. Pohon yang berdiri kokoh dengan daun yang lebat itu kini telah menjadi potongan-potongan kayu yang masih berserakan. Ada apa?


Kenapa di tebang?


Bukankah katanya pohon itu tidak boleh di tebang?


"Gawat ini," pikirku dalam hati.


Sampai sekolah, benar saja katanya dari kemarin banyak yang kesurupan. Kebetulan kemarin aku tidak masuk karena tidak ada jadwal.


Oh iya, FYI (for your information), di SMK Mandiri ada seorang penjaga, dia seperti tukang kebun, seingatku sih begitu yaa. Tapi beliau ini penjaga sekolah yang bukan asal penjaga ya. Beliau penjaga spesial karena bertugas untuk menjaga sekolah dari hal-hal yang spesial juga. Seperti adanya serangan dari 'mereka' contohnya. Sebut saja beliau mang Karman, usianya mungkin masih sekitar 55 tahunan.


Seperti siang itu. Mang Karman yang jarang terlihat ada di sekolahan, hari itu sedang berada di kantin di jam istirahat. Aku dan beberapa teman PPL kebetukan sedang duduk di salah satu meja kantin untuk menikmati semangkuk bakso pedas milik pak'e saat itu. Dan kami bertemu dengan mang Karman.


Kebetulan juga saat itu mang Karman sedang berbincang dengan penjual es cup yang jaraknya tidak jauh dari gerobak bakso pak'e. Kami tidak bermaksud menguping obrolan mang Karman dengan penjual es, namun karena suaranya yang lumayan lantang, dan kebetulan jarak kami juga dekat, maka jadilah obrolan mereka kami dengar. Tidak sengaja ya, hehe.


"Ngamuk semalam," ucap mang Karman semangat menjelaskan kejadian semalam di sekolah pada tukang es.


"Semenjak ada kabar kalau pohon di depan harus ditebang, saya seharian berjaga di sini," lanjut mang Karman.


Pohon besar di depan memang tidak boleh ditebang, banyak penunggunya, katanya. Nah hari kemarin akhirnya pohon itu di tebang oleh entah siapa. Tapi intinya, alasan pohon itu ditebang adalah untuk pelebaran jalan raya. Depan SMK Mandiri adalah jalan utama kota.


Perihal penebangan pohon, sebenarnya bukan salah siapa-siapa yaa. Hanya saja aku pribadi sangat menyayangkan pohon seteduh itu harus ditebang. Pohon besar begitu pasti sudah berumur puluhan tahun kan? Sayang sekali. Karena untuk mendapatkan pohon yang sebesar itu lagi juga butuh waktu yang lama.

__ADS_1


Reboisasi!!


Kenapa hutan tidak boleh gundul apalagi sengaja dibuat gundul? Oksigen guys, oksigen.


Bukankah pohon bagus untuk mengurangi pemanasan global? Apalagi dia tumbuh di pinggir jalan. Pohon itu bagus untuk menyerap emisi-emisi karbondioksida dari kendaraan-kendaraan yang lewat. Itu saja sih yang aku sayangkan. Perihal pohon itu banyak demitnya, aku tidak peduli ✌


"Terus bagaimana itu? Demit depan kan yang ngamuk?" Mang es menimpali.


Aku dan teman-teman yang lain diam, pura-pura asik makan bakso padahal sibuk mendengarkan.


"Iya. Dia ngamuk. Semalam saya ajak dia komunikasi. Banyak pisan demitnya."


"...." Mang es juga diam mendengarkan.


"Salah satunya ada Kuntilanak. Dia ngamuk datang ke saya. Katanya, kenapa rumahnya di tebang?" Mang Karman masih menjelaskan.


"Makanya kemarin dia bikin rusuh sekolah dengan masuk ke siswa-siswa sini. Dia ingin menunjukkan kalau dia marah," lanjutnya.


"Saya negosiasi sama dia. Saya bilang jangan ganggu anak-anak sini lagi, dan syukurnya dia mau. Dia cuma minta dicarikan tempat baru saja untuk dia tinggal."


Guys, kalian paham kan mengenai tempat baru? Dan mengapa si tante Kunti sampai minta di carikan? Kenapa tidak mencari sendiri?


Itu karena semuanya tidak sesepele seperti aku yang dulu mencari kosan ya guys 😅


Di alam mereka, mereka sudah punya tempat masing-masing. Di pohon itu sudah ada penunggunya. Di pojok sana sudah ada demitnya. Di atas genteng sudah ada setannya. Dan tempat-tempat lainnya dengan degala macam penunggunya. Yaa intinya mereka hidup seperti kita, dengan tempat tinggalnya masing-masing.


Untuk itu saat rumah mereka dimusnahkan, mereka tidak mudah untuk mencari tempat yang baru.


Bayangkan saja jika rumah kita digusur, kemana kita akan pindah?


Tidak mungkin kan kita pindah ke rumah yang sudah ada pemiliknya? Bisa digebukin warga kita 😅


Ya begitulah kira-kira. Dunia mereka juga seperti itu.

__ADS_1


Si tante Kunti minta tempat baru, dan mang Karman menyanggupi.


Mang Karman sudah beberapa hari ini menginap di sekolahan. Tujuannya hanya satu, menjaga makhluk-makhluk yang terusir dari pohon depan agar tidak asal nemplok di pojok-pojok sekolah dan menjadikannya temlat tinggal mereka. Karena bagaimana pun, sekolah ini sudah penuh dengan mereka. Apalagi kalau ditambah dengan mereka yang baru bubar dari pohon? Sudah bisa mengalahkan populasi penduduk warga Indonesia saja nanti.


Saat berjaga malam, salah satu perwakilan genk sosialita si Miss Kunti itu awalnya mengancam mang Karman bahwa dia akan mengganggu siswa-siswi SMK Mandiri. Namun syukurnya mang Karman bisa menjanjikan tempat baru untuk mereka. Yang entah di mana itu. Yang jelas bukan di sekolahan yaa.


Yang aku pikirkan, mengapa mereka seegois itu? Harusnya mereka tidak bisa dooong melimpahkan semua marah mereka pada kita, manusia? Apalagi tidak semua dari kita bisa melihat mereka. Kita mana tahu mereka lagi duduk anteng di atas pohon atau bahkan di samping kita saat ini?


Mereka mah inginnya dimengerti terus. Kayak kamu. Iya kamu.


"Karena wanita ingin dimengerti."


Bagitulah kata sebait lagu Ada Band.


Oh iya, ada satu info yang aku pernah dapat entah dari siapa, aku lupa.


Yang jelas katanya, di dunia mereka itu jelas ada dua jenis sifat, yaitu jenis baik dan jahat. Tapi katanya, sebaik-baiknya mereka disana itu sebanding dengan sejahat-jahatnya manusia di dunia ini.


Jika mereka yang baik saja setara dengan sejahatnya manusia disini, lalu bagaimana dengan jenis mereka yang jahat?


Wallahu alam.


Selalu tingkatkan iman kita hanya pada Allah saja.


Dan pada akhirnya, senyamannya saya di SMK Mandiri, saya harus mengucapkan selamat tinggal pada semua orang-orang di dalamnya. Terutama untuk murid-murid yang saya ajar, semoga kalian semua sukses.


Sampai jumpa di episode selanjutnya yaa.


Terimakasih yang sudah baca 😘


Nanti kita lanjutkan ceritanya tentang aku saat menjalankan KKN di desa pelosok, atau nyempil dulu cerita saat aku SMA? Kita lihat nanti saja yaa. Mana yang duluan aku tulis 😁


See ya 👋

__ADS_1


__ADS_2