
Kisah ini baru saja terjadi, entah awal tahun 2020, atau entah di 2019, aku tidak jago menghapal tanggal kejadian. Intinya kisah ini terhitung masih hangat. Dan ini masih NYATA kisahku sendiri.
Aku tinggal di sebuah desa di Jawa Barat yang masih penuh dengan sawah. Tak jauh dari rumahku juga banyak sawah. Untuk menuju ke pusat kota juga kita akan melewati sawah dan sawah lagi. Selain sawah, kotaku juga dekat dengan laut. Sana sini laut. Tempat wisata di kotaku juga banyak yang mengusung tema laut.
Seperti yang aku ceritakan sebelumnya, aku adalah mahasiswa keguruan. Untuk itu saat ini aku sudah menjadi seorang pengajar di salah satu sekolah swasta di kotaku, alhamdulillah.
Pagi itu, seperti biasa aku mengendari motorku untuk pergi ke sekolah tempatku mengajar. Sekolahku cukup jauh, dari rumah menuju sekolah butuh waktu sekitar 30 menit jika aku mengendarai motorku dengan kecepatan sedang.
Pagi itu dengan santai aku kendarakan motorku sambil menikmati udara pagi. Jalan raya yang kulalui adalah jalan utama yang biasa dilalui para pemudik jika mereka pulang kampung dari ibu kota ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. Namun pagi itu jalanan lumayan legang. Di kanan dan kiri jalan terbentang sawah yang luas entah milik siapa. Semoga suatu saat nanti bisa jadi milikku ya, wekekekek. Aamiin.
Sampai dipertengahan jalan, mataku dibuat terpaku oleh beberapa mobil besar sejenis truk dan teng baja berloreng hijau yang terparkir di tepian jalan di seberangku. Sengaja aku pelankan motorku hanya ingin tahu alasan mengapa mobil-mobil tentara yang sudah disulap menjadi dedaunan itu berhenti di sana. Dari tempat motorku melaju, aku juga lihat beberapa tentara yang topinya penuh dengan daun-daun sedang duduk di pinggiran jalan dekat dengan mobil yang berjejer itu.
"Apakah akan ada perang?" Pikirku saat itu.
Karena selama ini aku belum pernah melihat kawanan tentara sampai beberapa truk dengan hiasan daun-daun di atasnya melewati daerahku. Sudah macam sedang bermanufer untuk mengelabui musuh saja.
__ADS_1
Namun karena aku sedang dalam perjalanan ke sekolah, jadi kawanan truk beserta penumpang tentara yang berjejer itu tidak aku hiraukan.
***
Teknologi semakin hari semakin canggih. Salah satunya yaitu ponsel pintar. Ponsel yang sedang kalian pegang saat ini sambil rebahan dengan kaki yang naik ke atas satu 😅
Berbagai media sosial pun bisa kita akses sesuka hati. Salah satu media sosial yang memiliki banyak pengguna yaitu Facebook. Kalian tentu punya akun Facebook kan? Begitu pula aku.
Malam itu aku sedang asik berselancar di Facebook milikku menilik status-status milik teman di beranda. Hingga sampailah aku pada satu status yang menarik perhatianku. Status itu milik Ika, salah satu teman satu desaku yang tinggal hanya berbeda gang denganku.
Tulisnya di status.
"KERAMAT" adalah nama pemakaman di desaku yang berada di tengah-tengah sawah. Tak jauh dari pemakaman, ada lahan lumayan luas bekas pengeboran minyak Pert*mina yang biasa digunakan warga untuk menjemur padi mereka yang sudah dipanen. Dan di pojok barat lahan luas itu ada sebuah 'balong' tempat penampungan air yang bisa digunakan untuk keperluan apa saja dan oleh siapa saja, terbuka untuk umum.
Mataku mendelik pada status si Ika. Aku klik status itu dan kubaca komentar di sana yang sudah ramai satu persatu.
__ADS_1
-- Eh ada apa memangnya di Keramat?
-- Ramai kenapa tuh?
-- Iya yaa ramai. Tadi aku habis kesana.
-- Ih kok serem yaa.
-- Wah iya Keramat mendadak ramai. Desa kita jadi sorotan ini.
-- Eh memangnya kabar itu benar??
-- Aku tadi ke sana, sampai macet tahu!!
Aku berhenti sejenak. Desaku ramai?? Kok aku tidak tahu. Padahal makam Keramat itu dekat sekali dengan rumahku. Hanya perlu berjalan 7 menitan saja ke arah belakang, maka aku akan sampai di sana.
__ADS_1
Lalu, ada kejadian apakah di sana??