
Dukung selalu "PENGHUNI KOSAN?" dengan like dan komen di setiap episodenya ya teman-teman 🤗 Kalau ada poin nganggur bisa juga bantu vote nya. Terimakasih semuanya 🤗 Selamat membaca.
🍃
"Ini diminum dulu," ucap teh Lisa menyodoriku satu gelas es segar yang berwarna orange dan beberapa bungkus makanan ringan.
"Lanjut, Teh!" Ucapku tak sabar mendengar kelanjutan cerita teh Lisa sambil meminum jamuanku.
"Sampi mana tadi?"
"Sampai Teteh yang ingin menanyakan tentang suara langkah kaki ke tetangga sebelah," jawabku mengingatkan.
"Oh iya. Jadi karena penasaran perihal suara langkah kaki malam-malam itu, akhirnya Teteh tanyakan pada tetangga sebelah. Kebetulan sore itu si ibu sebelah sedang di luar. Jadi Teteh basa basi saja tuh. Teteh tanya, 'Bu, kalau malam anak ibu susah tidur ya? Kayaknya asik main terus sampai malam'."
"Terus si ibu itu jawab apa?" Aku makin penasaran.
"Awalnya Teteh harap si ibu jawab sesuai jawaban yang ingin Teteh dengar. Eeeh tidak tahunya si ibu malah kebingungan," jawab teh Lisa sambil terkekeh.
"Gimana tuh?"
"Si ibu itu jawab katanya anak dia mah tidurnya sore. Sekitar jam 8 juga sudah tidur katanya."
"Nah loh? Jadi yang suara gedugan kaki yang lari itu siapa?" Aku setengah tertawa menanyakan hal itu pada teh Lisa.
__ADS_1
"Hahaha, entahlah." Teh Lisa ikut tertawa. "Anak kecil yang tak terlihat," jawab teh Lisa serius membuatku berhenti tertawa.
Seperti yang aku katakan sebelumnya, kosan baru teh Lisa memiliki tiga ruangan yang masing-masing ruangannya dibatasi oleh tembok. Satu pintu utama di depan lalu jalan lurus ke belakang sampai dapur. Dan sudah, tidak ada pintu belakang di sana. Nah di jalur lurus itulah beberapa malam kemarin teh Lisa mendengar suara pijakan anak kecil yang seolah berlari mondar-mandir, DUG DUG DUG.
"Oh iya, Vi, kamu tadi kesini masuk gang besar kan?" Tanya teh Lisa padaku.
"Iya, Teh. Mobil satu masuk lah," jawabku seadanya karena gang menuju kosan teh Lisa memang besar. Persis seperti gang masuk ke kosanku. "Memangnya kenapa, Teh?"
"Ya syukurlah. Soalnya ada gang satu lagi yang kecil. Sebenarnya sama saja sih, sama-sama bisa dipakai untuk ke kosan Teteh. Tapi kalau yang kecil itu tidak boleh di lewati kalau sudah lepas maghrib."
"Loh kenapa memangnya, Teh?" Aku penasaran dengan ucapan teh Lisa.
"Ada genderuwonya, katanya," jawab teh Lisa pasti.
"Ya pernah. Siang saja tapi. Soalnya jalan lewat gang kecil itu lebih cepat ketimbang lewat gang besar."
Aku mengangguk mengerti. Teh Lisa masih mengajar di TK yang dulu. Dan dia menggunakan angkot untuk pergi dan pulang mengajar. Untuk itu dari jalan raya teh Lisa harus berjalan kaki menuju kosannya. Dan tentu jalan terdekatlah yang lebih teh Lisa pilih.
"Tapi kalau siang aman, Teh?" Tanyaku penasaran perihal gang kecil yang teh Lisa maksud.
"Siang sih aman. Sampai sore pun aman. Cuma kalau sudah masuk waktu maghrib sampai malam, tidak ada orang yang berani lewat sana. Ya kecuali orang yang darurat dan pemberani saja mungkin," jawab teh Lisa seadanya.
Aku mengangguk lagi.
__ADS_1
"Eh Teh, kapan-kapan aku menginap di sini ya, boleh??"
"Boleh dooong!! Teteh senang malah ada temannya. Kabari saja yaa kalau mau nginep," teh Lisa antusias menyambut niatku.
"Siap-siap!!"
***
Sudah beberapa hari berselang dari hari aku mengunjungi kosan teh Lisa. Dan sore ini aku dan dua teman kostku sedang jalan-jalan sore dengan menggunakan dua sepeda motor. Aku membonceng Lulu, dan Nuri seorang diri. Tiba-tiba saja aku terpikirkan teh Lisa.
"Eh nanti mampir ke kosan temanku, yuk!" Ajakku pada Lulu dan Nuri.
Mereka mengangguk. Kebetulan besok tidak ada tugas kampus. Jadi sore itu aku dan teman-teman bebas mengelilingi kota tanpa terpikirkan tugas. Waktu sudah akan menjelang maghrib saat itu. Dan kami bertiga masih di jalan. Aku memutuskan untuk langsung ke kosan teh Lisa saja, tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
Matahari sore mulai tenggelam, langit mulai temaram. Mataku yang memang sudah agak minus mulai sedikit mengabur memandang jalanan di depanku. Posisiku saat itu jalan di depan, motor Nuri di belakang membuntutiku.
Dari kejauhan aku sudah melihat SMA Hijau. Saat itu mungkin sudah sekitar pukul setengah 7 malam. Segera aku menekan seign kanan untuk menyebrang karena posisiku saat itu ada di sebelah kiri jalan sementara SMA Hijau ada di kanan. Setelah menyebrang lalu aku masuk ke dalam gang menuju kosan teh Lisa.
Namun setelah aku memasuki gang, ada yang aneh dengan gang itu. Aku memberhentikan motorku mendadak.
"Woy!! Berhenti kok dadakan? Untung aku tidak nyeruduk," omel Nuri dari belakang.
Sementara aku diam. Sepertinya aku salah masuk gang. Gang yang aku lewati itu sempit. Gelap. Hanya cahaya dari lampu depan motorkulah yang lumayan menerangi semuanya.
__ADS_1
"Aku salah jalan wey!" Aku berucap ragu pada Lulu yang masih duduk anteng di belakangku. Aku menelan ludah.