
Halo teman-teman, di episode kali ini adalah kali terakhirku bercerita tentang kosanku ya. Karena memang ceritaku tentang kosan sudah habis. Namun nanti masih ada beberapa cerita yang akan aku tulis di luar kosan sebelum nantinya aku akhiri tulisan ini 😊
Terimakasih untuk semua yang masih baca sampai sini. Dukungan like, komen, dan vote kalian juga terimakasih sekali 🙏
Berhubung tulisanku ini memang KISAH NYATA, jadi aku jelas tidak bisa menambah-nambah cerita sesukanya. Jadi mungkin beberapa episode lagi tulisanku ini akan END.
Namun demikian, semoga ada sedikit pelajaran yang sama-sama bisa kita ambil dari cerita yang aku bagikan ini ya.
Sehat selalu kalian dimana pun berada 🤗
Kini aku sudah memasuki semester akhir, tandanya sebentar lagi aku akan meninggalkan kampus dan juga kosan ini.
Aku sudah pindah kamar sekarang. Baru semingguan aku tinggal di bekas kamar almarhumah teh Wini, Alhamdulillah keesokan harinya kamar nomor 2 kosong. Jadi aku langsung meminta pada bapak kost untuk pindah kamar.
Pagi-pagi sekali, aku memindahkan barang-barangku dari kamar 6 ke kamar 2 satu persatu. Menjelang siang, Alhamdulillah semuanya sudah rapi.
Aku rebahkan badanku pada kasur kamar baruku. Dan entah apa yang berbeda, di kamar nomor 2 adem sekali. Rasanya damai di sana. Sampai malam pun begitu. Selama sebulanan aku tinggal di sana, sama sekali tidak ada sapaan apa pun dari 'mereka'. Jadi ku pikir, apakah 'mereka' hanya ada di kamar-kamar tertentu saja?
Hari-hari terakhir di kampus aku habiskan untuk bimbingan skripsi. Teman-teman di sini yang juga pernah atau sedang menyusun skripsi, kalian pasti tahu yaa bagaimana rasanya, sibuknya, penatnya badan dan otak menyusun kata demi kata hingga menjadi buku skripsi dengan ratusan halaman?
Dan moment skripsiku, kebetulan sangat luar biasa ruwetnya 😅
Aku yang notabene mahasiswa keguruan, harus mengganti judulku TIGA KALI, setelah semuanya sampai di bab 3. Lelah sekali, aku hampir menyerah, sungguh.
Mahasiswa keguruan, menyusun skripsi dengan berbekal hasil penelitian dari sekolahan. Dan sekolah pertama yang aku datangi adalah SMK Mandiri tempat aku PPL dulu. Saat aku kesana, murid-murid yang kemarin ku ajar menyambutku dengan riang, alhamdulillah.
Izin untuk penelitian pun tidak semudah itu. Karena datangnya kami ke sekolah jelas akan mengganggu waktu proses belajar di sekolah kan?
Kami harus menghadap guru pengampu pelajaran terlebih dahulu untuk izin, kemudian menghadap kepala sekolah atau yang mewakilinya, setelah semua beres, barulah kita bisa melaksanakan penelitian.
Dalam skripsi semuanya ada 5 bab ya, mulai dari pendahuluan hingga penutupan. Dan setiap sampai di bab 3, aku selalu diminta dosenku untuk ganti judul. Teganyaaaaa.
Kurang lebih satu mingguan aku penelitian di SMK Mandiri. Setelah semua bahan ku dapat, barulah aku mengolahnya di kosan, dan setiap seminggu, satu atau dua kali aku menyetorkannya pada dosen pembimbing 1 dan 2.
Sedang enak-enak lancar bimbingan, sampai di bab 3 ....
"Kamu harus ganti judul." Begitu kata dosen pembimbing duaku.
__ADS_1
Aku menghela napas.
Mengganti judul, tandanya aku harus mengulang semuanya dari awal.
Oke, aku jalani.
Aku mencari sekolah lain untukku melaksanakan penelitian. Aku memilih salah satu SMP swasta saat itu. Segala izin sudah ku dapatkan. Namun saat ku perlihatkan pada dosen pembimbingku, aku diminta ganti sekolah lagi.
Yaa Allah, rasanya ingin menyerah saja. Aku lelah sekali sungguh. Apalagi saat itu aku jadi tertinggal wisuda gelombang pertama. Rasanya, patah hatiku melebihi diputuskan pacar 😅
Namun aku teringat wajah kedua orang tuaku. Dan wajah merekalah yang selalu kujadikan patokan. Saat ingin menyerah, ku kilaskan wajah mereka pada pikiranku. Pun saat aku ingin berbuat yang tidak-tidak. Wajah merekalah yang pertama aku bayangkan.
Aku anak kosan, dan aku punya pacar saat itu. Sesungguhnya mudah saja untukku jika melakukan hal yang tidak-tidak di sana bukan? Namun wajah orang tuaku adalah penangkal segalanya.
Apa jadinya jika mereka yang sudah susah payah mencari uang untuk kita sekolah, namun kita malah mengecewakannya dengan melakukan hal yang mereka tidak suka?
Untuk teman-teman semua, khususnya wanita, please jaga kehormatan kalian ya. Jaman sekarang susah sekali menjaga diri di tengah maraknya ponsel pintar beserta segala isinya. Segalanya bisa kita temukan dengan hanya mengetik kata kuncinya. Sungguh kemajuan teknologi tidak melulu membaikkan jika kita tidak mampu mengolahnya dengan benar.
Dan aku miris.
Banyak sekali anak SMP jaman sekarang yang nyatanya sudah kehilangan keperawanan. Innalillahi.
Barangkali yang baca tulisanku ini ada anak SMP atau SMA, aku titip pesan pada kalian yaa. Jika pacar kalian mengajak kalian pada hal yang tidak-tidak, segera ingatlah wajah orang tua kalian. Bayangkan orang tua kalian ada di samping kalian saat itu. Bayangkan mereka menyaksikan apa yang kalian lakukan dengan pacar kalian.
Be smart!!
Lelaki yang baik takkan berani menyentuh kalian sebelum HALAL!!
Jangan mau termakan rayu hanya karena satu kata 'I Love You'.
*
Aku kini sudah pindah sekolah lagi di sebuah MTs swasta (Madrasah Tsanawiyah). Dan alhamdulillah hasil penelitianku dari MTs itu akhirnya di acc oleh kedua dosen pembimbing.
Namun cobaan skripsi tak berhenti sampai disitu. Selepas bimbingan, aku hendak pulang ke kosan dengan sepeda motorku. Namun siapa sangka dari belakang ada sebuah motor yang melaju kenjang menabrak motorku.
BRAKK!!!
Aku terlempar jauh. Motorku ke barat dan aku ke timur. Bagian belakang kepalaku membentur aspal keras sekali. Beruntungnya aku selalu memakai helm. Entah apa jadinya jika saat itu aku tak memakai helmku.
__ADS_1
Saat itu kejadiannya masih di depan kampus. Bahan skripsi yang aku pegang tadi berhamburan entah kemana. Mataku hanya mampu terpejam saat itu mendengarkan suara-suara mahasiswa lain yang langsung berkerumun mengelilingiku yang terkapar di aspal.
"Skripsiku mana??"
Itulah kalimat pertama yang keluar dari bibirku saat aku sudah mampu berbicara, namun mataku masih tertutup. Kepalaku pusing sekali sungguh. Aku tidak peduli dengan kondisi badanku, yang aku pikirkan saat itu hanya lembaran kertas yang aku perjuangkan berbulan-bulan ini.
Setelah bisa membuka mata, aku diantar pulang ke kosan. Di sana aku menangis. Karena tinggal menghitung hari untukku ikut sidang final skripsi, dan aku tertabrak motor? Kakiku pincang saat itu. Sakit sekali untuk berjalan.
Namun aku tidak menyerah. Setiap pagi aku bangun dan berlatih berjalan rembetan pada dinding-dinding kamar. Langkah demi langkah. Setiap hari ku lakukan. Hingga alhamdulillah aku sudah bisa berjalan walau masih terasa sakit.
Tinggal satu langkah lagi dan aku akan menjadi sarjana. Maka tidak ada alasan apa pun untukku menyerah.
Hari yang ditunggu pun datang. Tanggal dimana aku harus mempertanggung jawabkan hasil penelitianku.
Di ruangan 'panas' itu, telah ada tiga dosen duduk berjejer siap memberikan pertanyaan-pertanyaan atas apa yang aku tulis pada lapisan-lapisan kertas yang berisi ratusan halaman itu. Aku tegang? Jelas 😅 Berdiri seorang diri di tengah ruangan dengan di tatap oleh tiga pasang mata dosen. Rasanya ... ya begitulah 😅
Namun semua alhamdulillah aku lewati dengan baik.
Saat keluar ruangan, seolah beban berat yang berbulan-bulan ini aku simpan langsung menguap hilang terbawa angin. Enteeeeeng sekali rasanya.
Dan beberapa hari setelah itu, aku resmi meninggalkan kosan. Kosan dengan banyak sekali kenangan di dalamnya.
***
Beberapa minggu kemudian, aku datang lagi ke kosan untuk mengunjungi Ningsih yang masih tinggal di sana. Saat itu dia juga sudah berpindah kamar. Kami berbincang ini itu melepas rindu. Hingga Ningsih memberiku satu informasi,
"Eh Vi, sepertinya di kamar bekas kamu itu memang ada penunggunya deh," ucapnya.
"Masa sih? Tahunya dari mana?" Aku penasaran.
"Pas kamu keluar kosan, kamar nomor 4 bekasmu itu ada yang isi, mahasiswa farmasi. Nah baru beberapa hari dia di sana, dia kesurupan di dalam kamar itu."
Aku mengerutkan dahiku heran. Bisa sampai kesurupan??
Aku terbayang lagi kejadian-kejadian yang ku alami dulu di kamar itu. Mulai dari benda-benda yang bergerak sendiri, ketukan pintu dalam kamar mandi, bau kembang, hingga perwujudan wanita bertudung. Namun beruntungnya, mereka hanya sebatas itu. Mereka tidak sampai merasuk dalam tubuhku.
Seganas itukah 'mereka'?
Namun pada akhirnya, untuk 'kalian' semua penghuni kosan dengan berbagai wujud yang pernah menyapaku, selamat tinggal!!
__ADS_1