
Saat aku kembali ke kosan setelah KKN, aku nyatanya tidak lama berada di sana. Karena skripsiku sudah memasuki BAB 3 dan itu pun akan selesai. Aku pun hanya bimbingan seminggu sekali. Jadi aku memutuskan untuk bubaran dari kosan dan memilih pulang-pergi rumah-kampus untukku bimbingan nanti.
Namanya wanita, barang-barang seolah terlihat sedikit, namun saat diangkut, mobil pickup yang dibawa bapakku ternyata penuh juga 😅 Ampun yaa.
Siang itu akhirnya aku resmi bubaran dari kosan.
***
📩 Via skripsi kamu revisi total ya. Kamu sebaiknya ganti judul. Karena penelitian yang kamu ambil kurang cocok dengan materi yang kamu pilih.
Deg!!
Aku mematung membaca sederet pesan whatsApp dari dosen pembimbingku. Ganti judul?? Yaa Allah, ujian memang datang dari mana saja. Skripsiku yang sebentar lagi akan selesai, sekarang harus mulai dari awal lagi?
Aku panik bukan kepalang. Pasalnya jika aku harus mulai lagi dari BAB 1, tandanya aku perlu ngekost lagi. Segera aku hubungi Ningsih.
📞 "Ning, kamar kosan masih ada yang kosong?" Tanyaku langsung saat Ningsih sudah mengangkat teleponku.
📞 "Kamar kost untuk siapa?" Tanya Ningsih bingung.
📞 "Untukku. Aku butuh ngekost lagi. Ada yang kosong?"
📞 "Lah, baru juga bubar semingguan sudah mau ngekost lagi? Tapi kamar sudah penuh semua ey. Kamar bekas kamu juga sudah langsung ada yang isi," jawab Ningsih seadanya.
Aku menghela napas. Kosan yang aku tempati itu memang cepat sekali habis, maksudnya kamarnya cepat sekali terisi penuh, laris. Aku bingung harus cari kosan di mana lagi.
📞 "Kira-kira aku enaknya ngekost di mana ya? Yang dekat dengan kosan kita saja," Tanyaku pada Ningsih meminta saran darinya.
📞 "Eh coba di kosan Melati 2 saja. Yang di depan tukang sarapan itu, loh. Barangkali ada yang kosong," Ningsih memberi saran bagus. Aku setuju.
Kosan Melati 2 adalah cabang dari kosan Melati 1 yang pada episode 10 pernah aku ceritakan itu loh. Berhubung aku punya teman yang ngekost di kosan Melati 1, maka aku segera menghubunginya. Aku meminta tolong padanya untuk menanyakan pada ibu kostnya perihal adakah kamar yang masih kosong di kosan Melati 2? Dan Alhamdulillah ternyata ada. Aku segera memboking kamar itu.
Keesokan harinya, aku datang ke kosan Melati 2 dengan membawa barang-barang seperlunya dulu. Bangunan kosan Melati masih sama. Yaitu sesak dan tanpa parkiran. Konsep bangunannya yaitu gerbang, lalu setengah meter setelahnya langsung tembok kamar. Sesak sekali. Kamarnya berhadapan dengan lorong yang lumayan sempit, kitaran kurang dari 1,5m. Dan aku di sana mendapat kamar nomor 3 yang berhadapan dengan kamar nomor 6.
Siang itu aku sendirian beres-beres di kosan menata barang bawaanku yang hanya satu jinjing tas itu. Kamar mandi kosan ini juga berada di dalam kamar masing-masing.
Siangnya, aku masih sendirian. Aku belum mengenal siapa pun di sana. Karena memang mengenal teman kosan itu susah. Di sana banyak sekali anak-anak yang tak acuh. Ada penghuni baru boro-boro kenalan, sekedar ucap say hay pun tidak.
Fix yaa. Di kosan itu aku pasti akan bosan sekali.
__ADS_1
Sore nanti katanya Ningsih dan Nita akan ke kosan baruku. Kosan baruku dengan kosan lamaku masih satu gang, dekat sekali malah. Dengan berjalan kaki tiga menitan saja sudah sampai.
***
"Wedeeh, enak ya kamarnya?" Ucap Ningsih saat dia baru memasuki kamar kosan baruku.
"Iya ey. Kasurnya juga tebal nih," lanjut Nita mengomentari kasur kamarku yang memang lebih tebal dari kasur kosan lama.
Dari segi fasilitas kamar, kosan Melati memang unggul jika dibandingkan dengan kosan lamaku. Kasurnya tebal, kamar mandinya juga lebih besar. Dan yang pasti, bangunan kosan Melati masih kokoh mentereng karena memang masih baru. Nyaman sekali memang kamarnya.
"Eh kalau kosan ada yang kosong lagi, segera kabari aku, ya," ucapku pada mereka. Bagaimana juga, bersama mereka dalam satu kosan tetap lebih menyenangkan dari pada di kosan baruku walau memang kamarnya bagus. Di kosan baru aku sendirian. Sepi tanpa teman ngegibah, wekekek ✌
***
Malam datang ....
Malam itu adalah malam pertamaku di kosan Melati. Aku menghela napas sendiri. Ingin nangis yaa Allah? Sepi ðŸ˜
Biasa di kosan dulu setiap malam makan bareng, nonton tivi juga banyakan, seru. Di kosan baru aku nelangsa.
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kosan sudah sepi. Anak-anak penghuni kamar lain sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Aku di kamar masih asik sendiri membereskan pakaianku yang siang tadi belum selesai aku rapikan ke dalam lemari.
"Nggggggggggggggggggggggggg."
Aku langsung menghentikan aktifitasku.
"Suara apa tadi?" Aku bergumam dalam hati. Aku masih diam.
Masih diam.
Namun senyap.
Aku kembali melanjutkan membereskan bajuku. Hingga...
"Nggggggggggggggggggggg."
Suara itu terdengar lagi. Aku menelan ludah. Aku memang tidak salah dengar. Suara itu memang benar ada. Dan aku tahu betul suara apa itu.
Suara itu, aku bisa membayangkannya. Suara tadi terdengar timbul tenggelam seperti melayang. Dalam bayanganku, si pemilik suara melayang di atas genteng sambil berbunyi "Ngggggggggggg."
__ADS_1
Suara itu, adalah suara wanita menangis.
Ya, malam pertama aku sudah disapanya.
Welcome.
***
Keesokan harinya, aku masih sendiri di kosan. Di sana aku hanya mengenal satu orang, yaitu penghuni kamar depanku, namanya Aisyah. Usianya beberapa tahun lebih muda dari pada aku karena dia masih mahasiswa tingkat awal. Aku dan dia pun hanya berhaha hihi sekedarnya saja. Aku bosan.
Mendadak, aku teringat suara ngiungan semalam. Segera aku ambil ponselku dan menghubungi si Vira, temanku yang tinggal di kosan Melati 1.
📞 "Halo Vir," sapaku saat Vira sudah mengangkat teleponku.
📞"Haloooo. Ada apa nih? Tumben telepon?" Tanya Vira di seberang.
📞 "Pengen cerita, hehe."
📞 "Cerita apa?"
📞 "Semalam, di sini aku dengar kayak ada orang nangis tau. Sekilas sih suaranya. Tapi jelas sekali suaranya ada di atas genteng," ucapku langsung pada inti pembicaraan.
📞 "Seriusan?"
📞 "Iya. Kira-kira apa ya? Kosan ini seram tidak sih?" Tanyaku sengaja menyelidik. Bagaimana pun si Vira pasti tahu banyak tentang kosan Melati. Dia sudah cukup lama tinggal di kosan Melati.
📞 "Hm, menurut temanku yang ada di sana sih, katanya pohon nangka yang ada di samping kosan kamu itu ada penunggunya," jawabnya singkat tapi jelas.
Aku manggut-manggut. Di samping kanan kosan baruku ini memang ada pohon nangka besar. Di bawah pohon itu kalau siang suka ada penjual bubur yang mangkal di sana.
📞 "Mungkin suara yang kamu dengar kemarin itu dari sana kali," ucap Vira melanjutkan.
📞"Oooy takut oooy. Sendirian nih aku."
📞 "Hahaha. Ya sudah bismillah saja."
Seusai bertelepon, aku sengaja langsung keluar kamar. Ingin melihat lebih jelas pohon nangka yang dimaksud Vira walau aku juga sebenarnya sudah tahu. Pohon nangka itu memang lumayan besar. Tingginya akan sama dengan tinggi bangunan kosanku. Jika suara semalam berasal dari sana, mungkin makhluk itu memang suka nangkring di sana.
Ya, asal jangan saling ganggu saja ya. "Permisi."
__ADS_1