
Ku pandangi lemari kamarku lekat. Haruskah aku membukanya? Namun aku ragu. Suara dari dalam lemari pun sudah berhenti. Dari pada malam-malam aku membongksr lemari itu, ngeri juga kan? Jadi aku putuskan untuk langsung tidur saja.
Dari beberapa hari ganjil yang aku alami, aku pikir kamarku lah yang bermasalah. Aku pikir wanita yang kemarin duduk di ranjangkulah penunggunya. Pertanyaan teman-teman perihal betah tidaknya aku di kosan itu, akhirnya aku dapatkan jawabannya.
**
Pagi telah datang. Mentari dari ufuk timur sudah menampakkan dirinya. Aku terduduk di ranjang tidurku dengan menghadap ke arah lemari. Aku harus membukanya. Barangkali saja ada tikus besar yang terperangkap di sana semalam kan?
Perlahan ku buka lemari itu, dan sekilas ku lihat tidak ada apa-apa di sana. Ku teliti tumpukan bajuku yang tidak banyak itu, tidak ada yang berubah. Semua masih pada posisinya. Jadi yang semalam gebrak-gebrak lemari itu apa?
Lemariku itu adalah lemari kayu yang setiap bagian bawah raknya sudah terlapisi koran. Kalian bisa membayangkannya kan? Nah saat itu aku coba mencari sesuatu dari bawah lapisan koran itu. Satu persatu dari bagian rak aku telisik. Dan kalian tahu apa yang aku temukan di bagian rak lemari yang paling bawah?
Di rak lemari paling bawah, di bawa lapisan kertas koran aku menemukan satu lipatan kertas yang sudah menguning, SURAT.
Dengan was-was aku ambil surat yang mungkin sudah lawas itu menuju ranjang. Kini aku sudah duduk di atas ranjang sambil menggenggam surat itu khawatir. Aku yakin surat itu adalah milik penghuni kamar ini sebelumnya.
Aku menelan ludah.
Ku buka lipatan kertas itu perlahan.
📨 Dear Anton.
Aku tahu jodoh memang takdir Tuhan. Dan semua yang terjadi dalam dunia ini pun adalah jalan Tuhan. Tapi mengapa kamu tidak memilihku saja untuk jadi pendampingmu? Kenapa kamu malah memilih wanita itu?
Bukankah aku dan kamu sudah lama berpacaran?
Tega kamu!!
Aku sakit saat tahu bahwa kamu memutuskan aku demi wanita yang baru kamu kenal itu. Lalu hubungan kita selama ini kamu anggap apa?
Tapi sudahlah, pernikahanmu dengannya tinggal beberapa hari lagi. Selamat berbahagia. Lupakan aku semaumu. Karena aku pun akan pergi meninggalkanmu dan dunia ini.
Dari aku yang sangat mencintaimu. Lala.
__ADS_1
DEG!!
Jantungku berdegup kencang. Apa maksudnya ini? Apakah Lala mengakhiri hidupnya di kamar ini? Ku pandangi surat itu lagi. Kertasnya sudah menguning, itu artinya surat ini sudah lama ada di bawah lemari itu. Lalu kenapa aku yang dipilihnya untuk membaca suratnya?
Ku lihat bagian belakang surat itu. Di sana ada nama Anton lengkap dengan alamat rumahnya, masih di Bandung.
Segera aku bersiap menuju kampus untuk membahas masalah itu pada teman dekatku yang kebetulan asli orang Bandung. Aku yakin dia pasti tahu daerah yang tertulis dalam surat itu.
--Sampai di kampus.
"Gimana Her, kamu tahu alamat itu kan?" Tanyaku pada Heru saat kami tengah duduk di taman kampus.
Saat baru bertemu dengannya tadi aku langsung menceritakan semua kejadian ganjil yang ku alami di kosan hingga akhirnya aku menemukan surat itu. Aku yakin si pemilik nama Lala itu sengaja menunjukkan dirinya padaku dan mengarahkanku pada surat yang belum sempat dia kirim pada penerimanya itu, untuk meminta tolong padaku.
Aku belum tahu pasti permintaan tolong apa yang sebenarnya Lala inginkan. Namun dengan bermodal nama penerima dan alamat rumahnya, setidaknya aku bisa berusaha untuk mengirimkan surat itu pada penerimanya. Mungkin Lala ingin isi suratnya itu tersampaikan pada kekasih hatinya.
"Daerah ini saya tahu sih. Hanya saja untuk alamat tepatnya saya kurang tahu. Tapi ayo lah kita cari kesana," ucap Heru mengiyakan permintaanku untuk mendatangi alamat itu.
Siang itu juga aku dan Heru langsung melaju membelah jalanan Bandung menuju alamat yang tertera pada surat yang aku bawa dengan berboncengan sepeda motor.
Motor Heru berhenti di depan rumah yang ternyata cukup besar. Anton berasal dari keluarga berada rupanya. Aku dan Heru berdiri di depannya ragu.
"Bagaimana?" Tanyaku meyakinkan.
"Masuk lah! Sudah jauh-jauh kemari masa balik lagi?" Jawab Heru yakin.
"Kalau salah alamat bagaimana?"
"Yaa setidaknya kita sudah berusaha. Agar si mbak-mbak yang duduk di kasurmu itu tidak mengganggumu lagi."
Aku mengangguk setuju. Dengan aku berusaha, setidaknya aku sudah menunjukkan pada Lala bahwa aku memang berniat membantunya. Untuk hasil akhirnya, aku pun belum tahu akan seperti apa.
Dengan ragu aku berjalan memasuki rumah itu. Sampai di depan pintu, aku langsung menekan tombol bel yang ada di sana.
__ADS_1
TING TONG.
Suara bel terdengar di telingaku. Aku harap-harap cemas menantikan pemilik rumah untuk membukakan pintu. Dan tak lama, seorang ibu kisaran umur 50-60 tahunan datang membukakan pintu.
"Permisi, Bu," sapaku ramah padanya.
Ibu itu mengangguk ramah dan tersenyum. Sepertinya beliau orang baik.
"Maaf Bu, apakah benar di sini alamat Anton?" Tanyaku kemudian.
"Benar. Kalian siapa ya?" Tanya ibu itu ramah sambil memandangi kamu satu-satu.
"Hm, kami teman lamanya, Bu, ingin berkunjung saja. Soalnya lama kami tidak bertemu dengan Anton," jawabku berhohong.
"Oh begitu, ya. Tapi Anton sudah tidak di sini, sekarang dia sudah tinggal bersama istrinya," jawab ibu itu jelas. "Mari masuk dulu?"
"Hm, tidak usah, Bu. Kalau boleh, kami minta alamat Anton yang sekarang saja, Bu. Biar nanti kami langsung ke sana. Sudah rindu soalnya, hehe," ucapku masih berbohong. Aku ingin cepat menyelesaikan tugas anehku itu soalnya. Aku tidak mau lama-lama terus di ganggu oleh Lala.
"Oh iya boleh."
Si ibu lalu menyebutkan alamat Anton yang segera kami tulis dalam catatan ponsel.
"Oh iya, Bu, kalau boleh kami sekalian minta nomor ponsel Anton ya. Agar nanti kalau Anton tidak ada di rumah, kami bisa menelponnya."
"Boleh. Nanti ibu ambil ponsel ibu dulu ya. Ibu tidak hapal nomornya soalnya."
Si ibu lalu masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya. Tak lama ibu itu kembali dengan menyodori kami nomor Anton yang tersimpan pada layar ponselnya. Aku segera menyimpan nomor itu dalam ponselku.
"Alhamdulillah alamat dan nomornya sudah ada, hatur nuhun pisan ya, Bu. Kami langsung pamit saja," ucapku pada beliau seraya menyalaminya.
"Sami-sami, Jang. Hati-hati!" Ibu itu tersenyum ramah dan melepaskan kami pergi.
------
__ADS_1
- Hatur nuhun pisan \= Terimakasih sekali
- Sami-sami, Jang \= Sama-sama, Nak.