Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Kisah Sekolah (Part 4-End)


__ADS_3

Tak lama pak Samsul datang. Di temani dengan Ustadz setempat, mereka masuk menemui Maya.


Di dalam sana Maya mengesot mengitari isi mushola dengan mata yang mendelik kesana-kemari. Ditatapnya satu persatu mata orang yang melihatnya. Ada kemarahan di sana. Tubuhnya terduduk dengan posisi kaki menekuk searah ke arah kiri, serta kedua tangannya yang ia letakkan di samping paha kanannya, membuat susana semakin ngeri.


Pak Samsul sengaja mengajak berkomunikasi pada entah makhluk apa itu yang kini bersembunyi di balik tubuh Maya. Maya kini duduk anteng di tempatnya, dengan mata yang masih melotot dan napas yang memburu.


"Keluar kamu!!" Bentak pak Samsul duduk di depan Maya.


Maya diam. Dia hanya menatap pak Samsul tajam melalui pojok matanya.


Pak Samsul akhirnya merapal doa-doa yang seketika itu juga langsung membuat tubuh Maya bergetar. Dan seketika Maya melemah, tergeletak pinsan pada lantai mushola.


Usut punya usut, makhluk yang merasuki tubuh Maya itu menyukai Maya. Dia tidak mau pergi dari sana. Walau malam itu Maya sudah berhasil di sadarkan dari si makhluk, namuan nyatanya setan itu masih bersemayam dalam tubuhnya.


Setelah kejadian malam itu, Maya sering kesurupan di sekolah. Dan yang merasukinya masih sama, yaitu si makhluk ngesot yang di dapatnya dari sawah malam itu.


Maya juga sering bertingkah aneh di dalam kelas. Sehingga itu membuat kami takut untuk berdekatan dengannya. Sampai akhirnya, Maya memutuskan untuk pindah sekolah.


***


Untuk kita para perempuan yang sedang haid, dimohon selalu berhati-hati di mana pun kita berada ya. Apalagi jika kita berada di tempat asing. Lebih-lebih di pegunungan. Ngeri memang.


Dan untuk para kakak senior SMP atau SMA, tolong tiadakan saja acara hiking malam, jurit malam, jerit malam, atau apa pun itu.


Tujuan awalnya memang bagus. Yaitu agar para adik juniornya menjadi manusia pemberani. Tapi masih banyak cara lain yang bisa digunakan untuk melatih keberanian kan? Seperti datang ke acara nikahan mantan contohnya?


Seperti kisahku waktu itu. Masih tentang saat aku SMA.


Saat itu sekolahku mengadakan pelantikan di salah satu bumi perkemahan, Kuningan, Jawa Barat. Masih di kaki gunung Ciremai. Karena memang sekolah-sekolah di daerahku kebanyakan selalu menuju ke bumi perkemahan Kuningan sana jika akan mengadakan kemah. Secara keseluruhan, pegunungan memang tempat yang tepat untuk berkemah. Sumber air di sana jelas banyak. Tak akan habis walau dipakai untuk segala keperluan semua peserta kemah.


Kami satu sekolahan rombongan kesana menaiki mobil elf dan sampai di tempat setelah duhur. Barang-barang dari dalam truk diturunkan oleh anak laki-laki. Sementara kami anak perempuan diminta untuk segera sholat duhur sebelum selanjutnya mendirikan tenda.


Siang itu seru sekali. Kami saling bercanda tertawa bersama menikmati suasana.


Sampai tiba di malam kedua, kami mengadakan acara jurit malam.


Di tengah malam kami yang tengah tertidur pulas dibangunkan dengan masih memakai kaos olahraga yang tidak terlalu tebal itu. Selanjutnya kami di minta berjalan satu persatu melewati rute yang sudah ditentukan oleh kakak senior. Hawa dingin malam pegunungan mulai menyapa tubuh kami.


Suara teriakan-teriakan teman-teman dari kejauhan mulai menggema terdengar di telingaku. Ngeri.


Krik, krik, krik.


Suara binatang malam yang berbunyi di tengah sepi menambah kengerian malam itu. Aku tak mengerti, mengapa dulu jurit malam seolah menjadi menu wajib di setiap perkemahan.


Aku menunggu cukup lama. Hingga akhirnya sampailah giliranku untuk maju.


"Kamu jalan turun ke bawah yaa. Nanti sampai persimpangan depan, ambil lurus. Intinya kamu ikuti saja cahaya lilin. Mengerti?" Ucap kakak senior memberiku instruksi. Aku mengangguk.


Satu langkah, Bismillah.

__ADS_1


Ku tarik napasku dalam-dalam. Aku berjalan seorang diri melewati malam di pegunungan yang senyap. Tenda kami berada di atas saat itu. Dan rute jurit malamnya kami diminta menapaki jalan yang menurun.


Langkah demi langkah aku lewati.


Toilet. Pemandangan pertama yang aku lewati dan membuatku ngeri adalah toilet yang berada di sebelah kiriku. Toilet itu adalah toilet yang kami pakai siang tadi untuk mandi dan lain-lain. Namun toilet itu kini terlihat ngeri. Tiga bangunan berjejer dengan tanpa penerangan sedikit pun. Gelap. Aku mengatur napasku lagi.


Aku lanjut berjalan mengikuti arah lilin yang di tutupi dengan ember tipis, membuat cahayanya terlihat hanya remang. Namun itu lumayan memberi terang di tengah hutan yang penuh pohon-pohon besar.


Satu yang aku sayangkan. Jarak satu lilin dengan lilin lainnya lumayan jauh sekali, sekitar 4-5 meter. Jadi bisa dikatakan malam itu kami menyusuri jalan hutan tanpa penerangan apa pun. Hanya cahaya bulan saja yang lumayan membuat jalanan malam terlihat jelas.


Satu per satu tanda lilin sudah aku lewati. Tidak ada apa-apa. Hanya tadi saja saat melewati toilet, aku lihat ada rumput yang bergerak di sana.


Kini aku sudah sampai di persimpangan. Aku berhenti sebentar di sana. Aku lihat pohon-pohon besar menjulang di depanku. Kosong. Sepi. Aku menarik napas lagi. Dalam mulutku tak hentinya aku bacakan sholawat yang sedikit terdengar dari awal mula aku berjalan tadi. Dengan bersholawat, setidaknya badanku punya tameng dari apa pun makhluk malam yang barangkali berniat menggangguku.


Menurut kakak senior tadi, setelah bertemu persimpangan aku harus ambil jalan lurus. Persis dengan cahaya lilin yang memang mengarahkan aku untuk berjalan lurus. Oke bismillah. Aku lanjutkan kembali jalanku.


Di jalan itu, terdapat entah pohon apa yang tingginya sekira setinggi badanku, semacam pohon daun-daun panjang namun tumbuh berjauhan. Batu-batu kerikil mulai aku rasakan setelah sebulumnya hanya jalanan berlapis tanah yang aku pijak.


Aku masih bersholawat. Mataku aku lirikkan ke kanan dan kiri dengan kepalaku yang tak bergerak. Ada satu orang berjongkok di balik ilalang di sebelah kiriku. Dia bergerak. Tapi dia tidak memunculkan dirinya. Dia tetap berjongkok di sana.


Aku lanjut berjalan. Tiba-tiba dari arah atas kiriku ada sesuatu yang terbang entah apa itu. Dia berwarna hitam. Aku menarik napas. Fuuuuuwh.


Apa pun yang aku temui malam itu, aku anggap semuanya adalah kakak senior. Sudah itu saja. Aku tidak mau berpikiran macam-macam.


Aku berjalan lagi. Sampai dari kejauhan, di depanku terlihat ada salah satu teman entah siapa itu, sedang di tarik-tarik oleh setan apa entah, intinya itu kakak kelas yaa. Dia menyerupa kuntilanak.


Aku menghentikan langkahku. Aku ragu untuk melanjutkan jalanku. Hingga ...


"Astaghfirullah!!" Aku kaget bukan kepalang saat dari arah kananku muncul seorang perempuan yang rambut panjangnya menjulur ke depan menutupi wajah, bergerak dengan cara mengesot. Aku langsung lari. Terus lari sampai aku meninggalkan temanku yang sedang ditarik-tarik oleh setan jelmaan kakak kelas itu.


Fuuuuwwwh. Aku menarik napas dalam saat aku sudah sampai di garis finish. Di sana sudah ada teman-temanku yang lain dengan beberapa orang kakak senior.


"Tarik napas dulu yang dalam dan buang lewat mulut perlahan!" Ucap kakak senior padaku. Aku menurut.


"Kalau sudah tenang, sana bergabung dengan yang lainnya!"


Aku manut. Aku berjalan menuju teman-teman yang bergeletakan duduk, tiduran di sana sini. Aku ikut. Aku rebahkan tubuhku yang capek dan ngantuk pada tanah yang ku rasa empuk itu. Aku sungguh mengantuk. Hingga akhirnya aku tertidur di atas tanah yang dingin.


***


Paginya, saat kami sedang santai sarapan, salah satu diantara kami, sebut saja Nina, membuka pembicaraan.


"Eh, ada yang nyasar tau semalam," ucap Nina antusias.


Aku yang saat itu sedang memakan mie kemasan, diam mendengarkan sambil meniup-niup mie yang masih panas sebelum masuk ke dalam mulutku.


"Siapa?" Tanya yang lainnya.


"Itu loh si Erika. Masa setelah persimpangan dia malah ambil jalur kanan coba?" Lanjut Nina.

__ADS_1


"Hah?" Salah satu diantara kami terkejut. Aku masih menjadi pendengar setia.


"Lah sih bisanya Erika malah ambil kanan sih kenapa? Bukannya jelas-jelas sudah ada tanda lilin sebagai petunjuk rute," ucap yang lainnya menimpali.


"Nah itu dia!" Nina memotong kalimatnya. Membuat kami semua penasaran.


"Menurut pengakuan si Erika, dia malah melihat nyala lilin mengarah ke kanan. Makanya dia belok ke sana," lanjut Nana.


Aku merinding. Kenapa selalu saja ada 'mereka' yang jahil sih?


"Lalu yang arah lurusnya bagimana? Kan ada lilin juga?" Tanyaku akhirnya ikut bicara.


"Itu dia masalahnya. Kata Erika, dia malah tidak melihat ada lilin ke arah lurus. Katanya yang ke arah lurus itu gelap. Makanya dia ambil kanan. Karena yang ada lilin malah yang ke arah kanan."


"Astaghfirullah."


Penjelasan Nana sungguh membuat bulu kudukku bergidig.


"Terus gimana? Erika berjalan sampai mana?" Yang lain penasaran.


"Erika masih beruntung malam itu. Pas dia jalan seorang diri ke arah kanan, ada kakak kelas yang tahu. Akhirnya kakak kelas itu manggil-manggil sambil menyusul Erika. 'Kamu mau kemana?' Begitu tanya si kakak kelas."


"Terus??"


"Erika jawab polos. 'Mau ke sana kak lanjutin jalan', katanya gitu."


Kami diam mendengarkan dengan pikiran ngeri kami masing-masing.


"Mendengar ucapan Erika, si kakak kelas kan melongo ya? Orang bukan ke sana rutenya juga. 'Balik-balik, kamu salah arah!' Katanya gitu sambil mengajak Erika putar balik."


"...." kami masih diam.


"Nah di sinilah anehnya. Setelah Erika berjalan dengan kakak kelas kembali ke persimpangan, dia heran tuh kenapa di jalur lurus malah jadi ada lilin. Padahal tadi dia lihat tidak ada apa-apa di sana."


"...."


"Erika penasaran. Dia akhirnya tengok ke belakang melihat jalur kanan, dan yaa Allah, di sana yang malah gelap gulita."


Kami semua merinding. Erika benar-benar akan di sasarkan oleh 'mereka'. Tapi Alhamdulillah Allah mahaBaik masih menyelamatkan dia.


"Kalian tahu? Ada apa jika Erika terus berjalan ke arah kanan?"


Pertanyaan Nana membuat kami tak sabar mendengar kelanjutannya. Kami semua melongo menongakkan kepala ke arahnya.


"Kalian pasti tidak akan menyangkanya," lanjut Nana masih berteka-teki. Kami setia menanti kelanjutannya.


"Kenapa kakak kelas memilih jalur lurus setelah persimpangan? Karena ternyata di jalur kanan tidak ada jalan, mentok. Di ujung sana nanti ada danau."


Aku menelan ludah. Danau?

__ADS_1


Yaa Allah. Jika saja tidak ada kakak kelas yang tahu bahwa Erika belok ke jalur kanan, lalu apa yang akan terjadi dengannya?


Sungguh Allahlah sebaik-baik pelindung. MasyaAllah.


__ADS_2