Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
Cerita si Fardan


__ADS_3

Halo teman-teman PENGHUNI KOSAN? Apa kabar? 😁 Lama tak jumpa. Semoga kalian sehat-sehat dimana pun berada yaa.


Sebelumnya aku minta maaf, karena cerita ini kisah nyata, jadi saat tidak ada stok cerita, yaa aku mandek πŸ˜…


Nah kebetulan kemarin si Fardan whatsApp aku, dia bilang dia baru ngalemin pengalaman ganjil. Akhirnya dia ceritainlah itu pengalamannya ke aku. Daaan, mayan bikin bulu kudukku merinding dooong. Jadi aku tulis di sini yaa.


Jangan copot dulu novel ini dari daftar favorit kalian yaa. Karena nanti kalau ada cerita baru lagi aku bakal Up di sini.


Selamat membaca 😘


Yang punya poin nganggur bisa dooong kasih vote buat KOSAN nya, hehe. Makasih sebelumnya 😘


🌼🌼🌼


POV Fardan.


Malam itu, 11 Januari 2021, di kotaku sedang turun hujan. Hujannya tidak terlalu deras, tapi lumayan membuat badan basah kalau kita berjalan tanpa mengenakan payung.


Kebetulan malam itu aku ingin ngopi. Selepas maghrib, sekitar pukul 19.00 kurang, aku berjalan seorang diri menuju warung kopi yang kebetulan ada di komplek perumahan sebelah. Entah kenapa malam itu aku ingin jalan kaki saja. Padahal jika jalan kaki, butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk sampai di sana. Tapi dengan berjalan kaki dan menikmati rintik huja di bawah payung, pasti akan menyenangkan, pikirku.


Akhirnya malam itu aku keluar rumah dengan payung di tanganku, dan mulai berjalan menuju warung kopi langgananku.

__ADS_1


Jalanan lumayan sepi malam itu. Mungkin karena hujan, jadi warga pada malas untuk keluar. Terkecuali aku. Cuaca hujan begini, memang paling enak kalau ngopi, apalagi di warung kopi. Barangkali saja di sana aku bisa bertemu seorang dua orang kawan kan?


Aku berjalan santai di bawah payung dengan sesekali menghindari genangan air pada jalanan. Untuk mempersingkat jalan, malam itu aku memilih jalan tikus/ jalan potong untuk menuju warung kopi. Jalanannya sempit, hanya cukup untuk satu sepeda motor. Di tambah jalanan itu belum beraspal. Tak apalah, demi untuk cepat menikmati secangkir kopi yang aromanya sudah terbayang di kepalaku.


Jalanan yang aku pilih itu lumayan temaram karena hanya ada penerangan dari lampu rumah warga yang minim. Di sebelah kanan jalanan sempit itu ada lahan kosong seperti sawah sepetak yang tidak terlalu besar. Lahan itu biasa ditanami kangkung atau padi oleh pemiliknya. Dan di sebelah kirinya ada halaman kosong yang ditanami beberapa pohon mangga.


Saat melewati jalan yang temaram itu, aku tidak merasakan apa-apa. Semuanya normal-normal saja. Namun ketika aku berjalan tepat di bawah pohon mangga ...


BRAK BRAK BRAK


Aku kaget bukan kepalang. Jelas sekali aku dengar dan 100% aku takkan salah, dari atas payungku seperti ada telapak tangan yang menggebrak sebanyak tiga kali. Refleks aku hentikan langkahku. Dengan firasat yang sudah tidak enak, aku singkirkan payungku untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Namun tidak ada apa-apa dan tidak ada siapa-siapa. Di atas sana hanya ada dahan pohon mangga yang gelap.


Karena tidak ada apa-apa, aku pakai lagi payungku dan berniat untuk melanjutkan jalanku. Namun belum juga aku berjalan, dari atas payungku seperti ada yang menaburi pasir.


Aku menghela napas. Ada apa lagi? Aku kembali menyingkirkan payungku dan kembali ku tengok bagian atas sana. Masih tidak ada apa-apa. Di atas sana hanya ada pohon mangga yang tenang tanpa tergoyang angin sedikit pun.


Namun tidak lama dari itu, terdengar suara anak ayam, jelas sekali. "CIAK CIAK CIAK."


Oke. Aku sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku sudah hapal betul suara anak ayam itu dan siapa yang akan aku hadapi. Aku sengaja masih berdiam di bawah pohon mangga itu sambil bergumam dalam hati, "Awas saja kalau nongol, aku jambak!!"


Aku sengaja masih diam dan menunggu di bawah pohon mangga itu sekitar 5 menitan. Aku hanya ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

__ADS_1


Daaaaaaan, benar saja.


Tak lama, terdengar suara wanita cekikikan. "HI HI HI HI HI......"


Aku sengaja masih diam di bawah pohon mangga itu. Sambil aku rapal ayat-ayat ruqyah. Tidak lama, suara itu berhenti. Senyap. Tidak ada suara lagi. Setelah memastikan tidak ada suara lagi, aku berniat untuk melanjutkan jalanku. Namun baru juga aku berjalan beberapa meter, dari pohon mangga jelas sekali terdengar seperti ada sesuatu yang terbang dari sana.


GRASAAAAAAKK.


Diikuti dengan suara anak ayam lagi, "CIAK CIAK CIAK." Namun suara itu seperti menjauh.


Aku tahu betul siapa makhluk itu. Tapi alhamdulillahnya dia tidak menampakkan wujudnya.


Tanpa pikir panjang lagi, dan karena sudah tahu siapa yang sedang menyapaku, aku lanjutkan jalanku untuk segera menikmati secangkir kopi yang sedari tadi aku inginkan.


🌼🌼🌼


Oh iya berikut aku kasih satu skrinsotan chat aku dengan Fardan kemarin yaa.


Aku jadi terfikir, kasus Fardan mirip banget dengan kisahku dulu. Aku sudah tulis di sini tapi lupa entah episode berapa.


Pohon mangga. Apakah pohon itu di senangi 'mereka'??

__ADS_1


Pohon mangganya tidak tinggi. Hanya daunnya rimbun. Dulu aku juga sama, malam-malam, dari pohon mangga itu seperti ada yang lepas terbang. KRASAAAAK. Jelas sekali daun-daun pohon itu gerak cepat walau tanpa angin. Kalian bisa bayangkan? Andai di dahan pohon itu ada satu makhluk sedang bertengger, lalu dia ingin terbang ke atas. Bisa bayangkan bagaimana tubuhnya bersenggolan dengan daun-daun di sana? Ya begitulah kira-kira. KRASAAAAK.



__ADS_2