Penghuni Kosan?

Penghuni Kosan?
KKN (Part 2)


__ADS_3

Setelah pintu di buka udara pengap langsung menyapa indera penciuman kami, termasuk aku. Segera kami buka jendela ruang tamu yang berukuran kitaran 3x3 meter itu. Di sana ada sebuah sofa empuk berwarna cokelat muda lengkap dengan mejanya. Setelah ruang tamu, ada ruang keluarga yang permukaan lantainya lebih rendah dari ruang tamu. Di sana masih ada sebuah televisi yang saat kami coba nyalakan ternyata masih berfungsi. Kami belum menanyakan secara detail perihal rumah kontrakan ungu itu pada Nani atau pun Ipah. Tapi sepertinya barang-barang di rumah itu banyak yang masih ada di sana.


Aku perhatikan ruang tengah yang mulai ku rasa aneh. Temboknya basah, lantainya juga. Anyep, begitulah orang daerahku menyebutnya. Kentara sekali rumah itu sudah lama tidak ditinggali. Lalu kenapa tidak ditinggali? Bukankah rumah itu masih baru? Dan kenapa dikontrakkan? Kemana pemiliknya?


Ruang tengah yang berkeramik hitam itu diapit oleh dua kamar. Satu kamar ada di depan, yaitu sejajar dengan ruang tamu. Dan satu lagi persis di belakang ruang tamu. Kalian bisa bayangkan kan bagaimana bentuk bagian dalam rumah ini?


Di kamar depan terdapat satu lemari dan satu ranjang. Aku yakin kamar depan itu adalah kamar utama bagi pemiliknya. Sementara satu kamar lainnya kosong, sebut saja kamar belakang. Di sana hanya berisi satu kasur lantai yang sudah menipis, tidak ada apa-apa lagi. Namun aku lebih memilih tidur di kamar belakang bersama beberapa teman lainnya. Anggota perempuan hari itu juga langsung dibagi menjadi dua penghuni kamar.


Dari kamarku, ada jendela memanjang yang kalau di buka maka pemandangan yang di dapat adalah kebun kosong. Ada beberapa pohon mangga yang lumayan besar di sana. Aku buka jendela itu membiarkan udara dalam dan luar bertukar posisi.


Dan ruangan terakhir rumah ini adalah dapur yang sejajar dengan kamar mandi. Benar-benar minimalis. Tapi cukup untuk menampung semua anggota kami. Anggota laki-laki, mereka juga sedang mengetap barang bawaannya di rumah kontrakan yang tak jauh dari rumah ini.


Aku rebahkan tubuhku pada kasur lantai yang kini sudah menjadi dua lapis, satu kasur lantai lainnya adalah milik Avri. Lumayan nyaman sekarang. Aku sendiri hanya membawa boneka bantal yang panjang dan pipih. Boneka serbaguna yang bisa aku pakai menjadi bantal atau pun guling.


"Sudah sana cepat mandi, gantian!" Ucap Tika, salah satu anggota kamarku.


"Nanti saja ah, masih malas," jawab Nani yang masih menelungkupkan badannya di sampingku. Dia juga berada satu kamar denganku. Sementara Ipah ada di kamar depan.


"Ih kalian ini ya!!" Tukas Tika gemas.


"Hahahaha." Ipah tertawa.


Semua anggota KKN adalah temanku. Tapi aku akhirnya lebih dekat dengan teman sekamarku. Bagaimana tidak? Setiap malam kami berhaha-hihi bersama sebelum tidur. Bahkan sampai yang lainnya sudah tertidur pun, kami masih berbincang walau dengan bisik-bisik membicarakan banyak hal.


Hari pertama di kontrakan kami habiskan untuk beres-beres barang bawaan dan juga bersih-bersih kontrakan. Selepas duhur, anggota laki-laki semuanya datang ke kontrakan perempuan. Mereka diminta untuk memindahkan sofa yang ada di ruang tamu menuju ruang tengah. Bekal kami duduk untuk nonton TV nanti. Sementara ruang tamu dibiarkan kosong untuk tempat parkiran motor saat malam nantinya. Rumah kontrakan ini polos yaa tanpa gerbang. Untuk itu kami perlu ruangan untuk mengamankan motor-motor kami.


Malamnya, kami semua berkumpul di ruang tengah untuk membicarakan semua agenda-agenda yang akan dilaksanakan untuk beberapa hari ke depan. Besok kami masih free. Karena besok hanya ada upacara pembukaan pelaksanaan KKN di balai desa yang langsung dipimpin oleh kepala desa setempat.

__ADS_1


Malam itu adalah malam pertama penyatuan kami. Para mahasiswa semester 7 dari berbagai jurusan dan berbagai daerah. Suku Sunda dan Jawa menjadi satu. Selama 40 hari ke depan, kami akan tidur bersama, makan bersama, tinggal seatap bersama.


Ada satu kebetulan yang sangat kebetulan di kelompok KKN kami, yaitu ada salah satu anggota kami yang sedang hamil tua. Usia kandungannya sekitar 7-8 bulan. Perutnya sudah besar. Sebut saja dia Meli, teh Meli. Usianya masih seusiaku saat itu, tapi memang kami sengaja memanggil masing-masing kami dengan embel-embel "Teteh atau Ang". Kedua panggilan tersebut berarti "Mbak" yaa 👌


"Eh sini pegang, pegang cepat!!" Teh Meli meminta kami memegang perutnya.


Aku hanya diam. Aku saat itu memang ngeri melihat orang hamil. Terasa cenut-cenut di perutku begitu, hehe ✌


Beberapa diantara kami memegang perut teh Meli.


"Tuh tuh, gerak. Kerasa tidak?" Tanyanya. Bayi dalam kandungannya sedang menendang-nendang.


"Lah iya, iyaaa," jawab salah satunya antusias. Aku masih diam. Aku tidak mau memegang. Takut.


"Waah seru ya, sebentar lagi teh Meli punya dedek bayi," celoteh salah satu dari kami.


***


Pagi ini adalah pagi pertama kami bangun di tempat yang sama. Alhamdulillah kami tidur nyenyak malam itu, mungkin karena capek seharian beres-beres rumah. Oh iya, di rumah itu kami juga sudah membentuk tim piket harian. Jadi dalam satu hari ada dua sampai tiga orang yang piket seharian. Tugasnya yaitu pagi-pagi harus pergi ke pasar membeli bahan-bahan yang akan di masak hari itu. Yang memasak juga yang piket hari itu. Memasak menu besar, nasi beserta lauk pauknya untuk 20 orang dari makan pagi sampai malam. Aku? Apesnya aku tidak bisa masak dan kebetulan dipasangkan dengan bu dokter yang nyatanya tidak bisa masak juga. Nanti saat aku dan bu dokter piket, mau masak apa? Hahaha, ampun deh.


Mahasiswa anak kedokteran di masing-masing kelompok KKN hanya 1 orang. Dan di kelompokku ada Yayu. Sebut saja bu dokter yaa biar gampang ✌


Anggota yang piket hari itu dibebas tugaskan dari segala macam agenda KKN di hari yang sama. Dia hanya harus fokus dengan konsumsi yang akan kami lahap saat kami pulang dengan keadaan lelah setelah melaksanakan agenda harian. Bagi tugas, begitulah kami menyebutnya.


Pagi itu untuk pertama kalinya kami mengantri kamar mandi karena kamar mandinya memang hanya satu. Ditambah dengan air kerannya yang mengucur kecil sekali. Lama untuk satu bak mandi itu terisi penuh.


__ADS_1


(Ini foto real kamar mandi rumah kontrakan KKN ku ya)


Setelah semua mandi, semua rapi, kami semua pergi ke balai desa untuk mengikuti acara pembukaan KKN. Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan khidmat.


***


Sore hari, kami mengantri lagi untuk memakai kamar mandi. Sampai akan menjelang maghrib pun, masih ada saja anggota kami yang belum kebagian mandi. Ampun memang.


TONG TONG TONG TONG!!


Suara kentongan mushola dipukul. Pertanda sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Kami segera membawa perlengkapan sholat masing-masing dan berbondong mendatangi mushola. Sampai di sana, kami menyalami semua jamaah sekalian berkenalan. Mereka menyambut kami ramah.


Setelahnya, aku duduk di tempat pilihanku sambil menunggu imam datang. Aku duduk di sebelah kanan anak kecil kiraan kelas 4 atau 5 SD gitu yaaa. Dia menatapku lalu tersenyum. Aku balas dia dengan senyum.


"Kakak mahasiswa yang KKN ya?" Tanyanya mulai menyapa dengan bahasa Indonesianya yang kagok. Bahasa keseharian mereka adalah Jawa.


"Iya dek, betul," jawabku singkat. Dia mengangguk.


"Kakak nginep di rumah itu?" Tanyanya lagi sambil menunjuk rumah kontrakan dengan matanya.


"Iya, dek. Nanti main-main yaa. Nanti juga akan ada acara untuk anak-anak SD di sini," kataku menjelaskan sedikit dari agenda kelompok KKN ku.


"Kakak betah tinggal di rumah itu?" Dia masih bertanya.


"Iya dek, betah."


"Oh, syukurlah."

__ADS_1


Syukurlah????


__ADS_2