
Tari menghampiri Tommy yang sedang berdiri di depan mobilnya.
"Ayo masuk. Kita ke Cafe deket sini aja." Ajak Tommy sambil membukakan pintu mobilnya.
Tari pun segera masuk ke dalam mobil.
Tommy yang juga sudah masuk ke dalam mobil.
Tommy melirik ke arah Tari.
Seketika Tommy langsung memasangkan seat belt di bangku Tari.
Wajah Tari tampak memerah padam.
Lalu Tommy melajukan mobilnya.
Tak lama kemudian mobil Tommy berhenti di sebuah cafe.
"Ayo turun." Ajak Tommy sambil keluar dari mobilnya.
Tari pun turun dan mengikuti langkah Tommy memasuki cafe.
"Pesan apa mas dan mbak?" Tanya Pelayan cafe menghampiri meja mereka sambil bersiap mencatat pesanan.
"Saya pesan Ice Latte 1, Ice Caramel Machiato 1, Tiramisu Cake 1 dan Red Velvet Cake 1. Terus minta 1 gelas air putih." Jawab Tommy.
"Baik mas. Di Tunggu pesanannya." Balas Pelayan itu sambil meninggalkan meja Tommy dan Tari.
Tari tercengang karena Tommy paham betul menu favoritnya saat berada di cafe tersebut.
"Abang kok tau aku suka minum Caramel Machiato dan makan Red Velvet Cake?" Tanya Tari heran.
"Dulu kita pernah makan bersama pas acara angkatan. Kamu bilang suka banget kedua menu itu." Kata Tommy sambil tersenyum pada Tari.
•••
"Jadi gimana soal pernikahan ini bang?" Kata Tari memulai pembicaraan.
"Ayo kita lakukan saja. Pernikahan ini." Kata Tommy tiba-tiba.
"Tidak bang! Kau tidak mencintaiku! Mana bisa kita bersama!" Jawab Tari dengan nada kesal.
*Tommy Menatap Tari dengan tatapan yang dalam
"*Kau salah Tari sayangku...
Aku mencintaimu, melebihi cintaku pada Christie...
Akan ku tunjukkan saat kita menikah nanti... Sabarlah sayang*..." Gumam Tommy dalam hati sambil menitikan air mata.
*Tari menatap dalam mata Tommy
"Aku mau menikah denganmu...
*Tommy sayangku...
Aku mencintaimu*...
*Ayo kita jalani bang, walaupun kau anggap ini pura-pura...
Aku akan jalani ini dengan tulus...
Aku akan membuatmu mencintaiku nanti setelah kita menikah*..." Gumam Tari dalam hati sambil matanya berkaca-kaca.
•••
"Abang kenapa menangis?" Tanya Tari heran.
__ADS_1
"Aku teringat mamaku. Dia sangat mengharapkan pernikahan ini. Aku takut jantungnya kumat lagi. Aku tidak mau kehilangan mamaku." Jawab Tommy beralasan untuk menarik simpati Tari.
"Baiklah...Ayo kita menikah." Kata Tari sambil menyodorkan tangannya mengajak Tommy bersalaman.
Tommy tersenyum cerah dan menyambut tangan Tari dengan cepat.
"Lalu bagaimana dengan Christie bang?" Tanya Tari.
"Aku akan memberitahukannya setelah kita resmi menikah." Jawab Tommy.
"Tapi aku punya beberapa syarat bang." Kata Tari sambil menyedot minumannya.
"Katakanlah... Aku akan penuhi selama aku mampu." Kata Tommy sambil melipat tangannya di meja.
"Baiklah...Pertama aku ingin kita hidup terpisah dari orang tua kita." Jawab Tari.
"Tidak masalah. Aku sudah membeli rumah sejak tahun lalu." Kata Tommy yakin.
"Kedua, Aku ingin kita pisah kamar. Aku tidak terbiasa tidur satu ruangan dengan laki-laki walaupun kamu sudah jadi suamiku." Lanjut Tari.
"Ehmm... Baiklah." Jawab Tommy lesu.
"Ketiga, Aku tidak akan melarangmu berhubungan dengan Christie. Asalkan kamu menutupinya dengan rapi." Sambung Tari.
"Ya. Ada lagi?" Jawab Tommy dengan nada malas.
"Terakhir... Aku ingin pernikahan ini hanya berlangsung 3 tahun saja." Kata Tari sambil menunduk.
"Apa maksudmu? Kamu mau membunuh mamaku kalau nanti kita bercerai? Orang tua kita tidak bakal setuju. Apa kamu sudah berniat menjadi janda bahkan sebelum kita menikah?" Tanya Tommy geram.
"Karena aku tidak bisa terus hidup disamping suami yang mencintai wanita lain.
Butuh waktu 3 tahun aku melupakan rasa cintaku padamu saat kau meninggalkanku selama 6 tahun lalu.
Dan aku yakin setelah pernikahan kita berlangsung 3 tahun, aku benar-benar bisa melepaskanmu selamanya." Jawab Tari sambil terisak.
"Apa Kau pernah mencintaiku Tari?" Tanya Tommy dengan hati-hati.
Tapi apa artinya itu?
Kau mencintai Christie selama 10 tahun ini...
Anggap saja pernikahan ini hanya untuk membahagiakan keluarga kita...
Dan lupakanlah aku pernah mencintaimu sampai rela menjadi jaksa dan mengubah penampilanku karena ucapanmu di malam fakulter itu...
Aku permisi ke toilet sebentar." Jawab Tari sambil menangis sejadi-jadinya dan berjalan menuju toilet.
Sementara Tommy terlihat mematung setelah mendengarkan pengakuan Tari.
"*Bodohnya aku tidak pernah menyadari dia juga menyukaiku!
Baiklah sayangku, Aku akan membahagiakanmu saat kita menikah...
Aku akan membuatmu tidak ingin bercerai dariku selamanya...
Aku janji Tari sayangku..."Gumam Tommy dalam hati*.
Tari kembali dari toilet dengan wajah yang sudah tenang.
"Maafkan aku tadi bang. Aku terlalu emosional." Kata Tari sambil memegang tangan Tommy.
"Gapapa Tar... Abang paham, maafkan abang yang selama ini tidak peka." Jawab Tommy sambil mengelus tangan Tari.
"Baiklah abang setuju dengan semua syaratmu. Ayo kita menikah." Lanjut Tommy sambil mengeluarkan sebuah kotak berwarna merah dari saku celanya.
Tommy membuka kotak itu, Nampaklah sebuah kalung emas putih berliontin "T".
__ADS_1
"Ini untukmu calon istriku...
Sini aku pasangkan." Kata Tommy sambil berjalan menuju kursi Tari dan memakaikannya di leher Tari.
"Cantik sekali bang. Apa ini sebenarnya untuk Christie?" Tanya Tari dengan hati-hati.
Tommy tertawa. Tari pun semakin bingung dibuatnya.
"Tidak. Aku barusan membelinya sebelum ke rumahmu. Jangan pernah berpikir aku akan memberikanmu barang milik orang lain padamu. Aku akan memberikanmu barang yang paling spesial daripada barang untuk orang lain. Karena kamu akan jadi istriku."Tegas Tommy yang tanpa sadar merangkul Tari dari belakang kursi Tari duduk.
"Makasih bang."Jawab Tari yang tanpa sadar mencium pipi Tommy.
Wajah keduanya memerah.
Untungnya keadaan cafe sudah sepi.
Hanya di meja kasir depan, para pegawai menatap keduanya sambil tersenyum.
"Ayo pulang, sudah malam. Besok pagi kita kerja. Ajak Tommy." Ajak Tommy sambil menggandeng tangan Tari dan menuju ke meja kasir.
"Bang besok masuk kerja. Besok kan libur hari waisak." Tanya Tari yang tangannya masih di gandeng Tommy.
"Oh iya. Abang lupa. Besok rencanamu apa? Tadi mamaku bilang, besok suruh ajak kamu belanja keperluan antaran." Jawab Tommy sambil masuk ke mobilnya.
"Gak ada sih bang. Yaudah besok abang jemput jam berapa?" Tanya Tari.
"Jam 9 gimana?" Soalnya jam 7 malam abang harus kerumah salah satu panitera. Ada open house. Apa kamu mau ikut?" Jawab Tommy.
"Oke bang. Aku malu bang kalau harus ikut ke sana. Belum ada status yang jelas. Lagian besok aku mau kumpul sama temen-temen aku bang. Mereka belum tau rencana pernikahan kita. Di cafe tadi juga kok." Jelas Tari.
"Status gak jelas apanya? Sehari lagi kita tunangan. Bilang aja kamu tunanganku. Oh yaudah kalo kamu mau kumpul sama mereka. Jangan gosip aneh2 ya." Jawab Tommy sambil mencubit hidung Tari.
•••
Mobil Tommy pun sampai di depan rumah Tari.
Bu Lusi pun terbangun mendengar suara mobil di halaman rumahnya.
Ia mengajak Pak Bara bangun untuk melihat melalui jendela ruang tamu.
"Makasih ya Bang..." Kata Tari sambil keluar dari mobilnya.
"Sebentar Tar..." Kata Tommy yang juga keluar dari mobilnya.
Tommy menghampiri Tari lalu memeluk dan mencium kening Tari.
"Good Night Tar... Makasih juga." Kata Tommy mengusap kepala Tari.
"Good Night Bang Tommy..." Jawab Tari sambil tersenyum lebar...
Tommy masuk ke dalam mobilnya lalu melambaikan tangan ke arah Tari sambil melajukan mobilnya meninggalkan halaman Tari.
Tari berjalan masuk ke dalam rumah. Begitu tiba ia terkejut melihat kedua orang tuanya sudah ada di depan pintu.
"Darimana kamu?" Tanya Bu Lusi tersenyum.
"Habis ngopi ma. Aku masuk kamar dulu ya Ma, Pa..." Jawab Tari takut.
"Papa dan Mama lihat semuanya. Makanya cepat nikah biar ketemu terus. Masa baru makan bareng udah kangen lagi?" Kata Pak Bara sambil tertawa.
Tari sangat malu dan langsung berlari menuju kamarnya.
Ia tidak percaya apa yang dilakukannya dengan lelaki impiannya hari ini.
°°°°
Selamat Membaca😃
__ADS_1
Mohon dukungannya✌️
Betha🙋