
"Pa... Gimana keadaan Tari sekarang???" Tanya Bu Lusi dengan mata berkaca-kaca pada suaminya.
Pak Bara seketika tertunduk dan terdiam sejenak.
"Pa... Jawab Pa!!!
Tari baik-baik aja kan???
Apa tadi yang dibilang Dokter itu benar???
Apa Tari sedang hamil???" Tanya Bu Lusi dengan penuh emosi sambil menarik lengan Pak Bara dan menangis.
Dengan segera Pak Bara menggenggam tangan dan memeluk tubuh Bu Lusi yang sudah melemah akibat tangisannya.
"Ma...
Mama harus tenang dulu...
Papa akan jelaskan semuanya dari awal...
Tapi Papa minta Mama berhenti menangis dulu...
Kondisi Mama juga masih sangat lemah..."Bujuk Pak Bara sambil menyeka air mata yang masih mengalir di wajah istrinya itu.
Bu Lusi mengangguk dan perlahan tangisannya pun melemah.
Angga yang sedari tadi berdiri di dekat pintu memperhatikan semuanya. Ia turut merasakan kesedihan dan kekecewaan yang dirasakan oleh kedua Orang Tua Tari tersebut.
Seandainya saja tadi Aku lebih berhati-hati mengemudikan mobil...
Mungkin saat ini janin tersebut masih ada di rahim Tari dan bertemu dengan Ayahnya di Kantor Polisi...
Aku yang bersalah...
Maafkan Aku Tari...
Maafkan Aku Pak Bara dan Bu Lusi..." Gumam Angga dalam hati sambil menitikan air mata.
•••
__ADS_1
Setelah Bu Lusi berhenti menangis dan menjadi sedikit tenang, Pak Bara memenuhi janjinya untuk menceritakan kondisi Tari yang sebenarnya.
"Jadi begini Ma...
Tadi Papa sudah berbicara dengan Nak Angga...
Kemarin setelah pulang dari Bukit yang ada di dekat Pantai, Tari pingsan dan dibawa ke klinik terdekat...
Lalu..." Kata Pak Bara yang terpotong ucapannya karena takut membuat istrinya syok dan pingsan lagi.
Bu Lusi menjadi tidak sabaran mendengar cerita Suaminya yang terpotong tersebut.
"Lalu apa Pa???
Jangan setengah-setengah kalau cerita!!!" Paksa Bu Lusi sambil melotot pada Pak Bara.
Dengan berat hati, Pak Bara lanjut menceritakan kondisi Tari.
Memang sudah seharusnya Istrinya tersebut mengetahui yang sebenarnya.
"Lalu Dokter menyatakan kalau Tari sedang hamil..."Kata Pak Bara sambil tertunduk.
Ia tidak menyangka jika Putrinya akan berani berbuat sejauh itu.
"Apa itu Anak Tommy???" Tanya Bu Lusi sesenggukan karena menahan tangisnya.
Pak Bara mengangguk dalam keadaan tetap tertunduk.
Tangis Bu Lusi pecah lagi.
"Berani-beraninya Mereka berdua bertindak sejauh ini!!!
Apa Mereka tidak bisa menahannya hingga Hari Pernikahan!!!
Tega sekali Tommy menghancurkan masa depan Tari!!!
Dan sekarang Mereka batal menikah!!!
Apa yang harus Kita Lakukan Pa???
__ADS_1
Bagaimana dengan Kandungannya yang pasti akan membesar sementara Tommy masih belum jelas nasibnya???" Teriak Bu Lusi sambil mencengkram seprei diatas ranjangnya dengan menangis.
Pak Bara memeluk tubuh Istrinya untuk menenangkannya.
"Ma tenang dulu...
Saat ini kondisi Tari sedang lemah karena Tari baru saja keguguran..." Jawab Pak Bara sambil tetap memeluk istrinya dan ikut menangis.
Bu Lusi yang mendengarkan ucapan Pak Bara seketika terdiam dan segera melepas pelukan suaminya tersebut.
"Apa yang Papa katakan barusan???" Tanya Bu Lusi tidak percaya.
Ia masih tidak percaya apa yang barusan didengarnya.
"Iya Ma...
Tari keguguran dalam perjalanan ke Kantor Polisi saat ingin bertemu Tommy...
Mobil mereka hampir ditabrak mobil lain dari arah berlawanan dan berhasil menghindar...
Mungkin karena terkejut dan ada sedikit guncangan Tari mengalami sakit perut yang hebat dan ternyata saat dibawa ke sini, Tari sudah keguguran..." Jelas Pak Bara panjang lebar.
Seketika Bu Lusi menatap tajam ke arah Angga yang sudah terdiam dan mematung di depan pintu.
Angga lalu berjalan menghampiri ranjang Bu Lusi.
"Bu Lusi...
Maafkan Saya...
Ini semua salah Saya tidak dapat menjaga Tari dengan baik...
Saya akan terima dengan ikhlas dan lapang dada jika Ibu marah ataupun membenci saya..." Ucap Angga sambil berlutut di lantai samping ranjang Bu Lusi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Membaca 😃
Mohon Dukungannya✌️
__ADS_1
Betha 🙋