
Seketika Bu Lusi menatap tajam ke arah Angga yang sudah terdiam dan mematung di depan pintu.
Angga lalu berjalan menghampiri ranjang Bu Lusi.
"Bu Lusi...
Maafkan Saya...
Ini semua salah Saya tidak dapat menjaga Tari dengan baik...
Saya akan terima dengan ikhlas dan lapang dada jika Ibu marah ataupun membenci saya..." Ucap Angga sambil berlutut di lantai samping ranjang Bu Lusi.
Melihat Angga yang sudah dalam posisi berlutut, Pak Bara segera menghampiri Angga dan menariknya untuk kembali berdiri.
"Nak Angga...
Kenapa Kamu harus berlutut dan minta maaf???
Ini semua bukan kesalahanmu...
Ini adalah takdir dari Tuhan..." Kata Pak Bara sambil menatap wajah Angga dan menepuk pundak Angga.
Bu Lusi yang menyaksikan perbuatan Suaminya tersebut hanya melengos sambil membuang muka.
"Nak Angga...
Bapak bisa minta tolong lihat kondisi Tari sekarang???
Bapak juga ingin berbicara dengan Ibunya Tari ini sebentar..." Pinta Pak Bara karena merasa tidak enak hati pada Angga akibat sikap Istrinya tersebut.
Angga mengangguk menyetujui permintaan Pak Bara.
"Baiklah Bapak dan Ibu, Saya permisi dahulu..." Kata Angga sambil berjalan meninggalkan ruangan tersebut.
•••
Setelah Angga pergi meninggalkan ruangan tersebut, Pak Bara kembali menghampiri Istrinya. Ia menghela nafas panjang sebelum mulai berbicara dengan Istrinya itu.
"Ma...
Papa mohon jangan bersikap begitu pada Nak Angga...
Biar bagaimanapun Dia satu-satunya orang yang tulus menjaga Tari walaupun tidak memiliki hubungan dengan Tari...
Dan Dia juga tidak mungkin punya niatan mencelakakan Tari Ma..." Bujuk Pak Bara pada Bu Lusi yang masih memasang wajah cemberutnya.
Bu Lusi lalu berbalik menghadap Pak Bara.
"Papa kenapa bisa bersikap sesantai itu dan masih membela Angga???
__ADS_1
Kita sudah kehilangan Calon Cucu Kita Pa!!!
Dan mungkin saja Dia sengaja, karena Dia kan juga mencintai Tari..." Jawab Bu Lusi dengan nada ketus.
Pak Bara hanya tersenyum lebar. Hal ini membuat Bu Lusi jadi bingung karena ekspresi wajah Suaminya tersebut seakan meledek dirinya.
"Papa kenapa malah tersenyum gitu??? Ini situasi sedang runyam malah senyum-senyum gak jelas!!!"Ketus Bu Lusi lagi.
Pak Bara lalu berhenti tersenyum dan mulai menjelaskan semuanya pada Bu Lusi.
"Tadi banyak hal yang belum Papa jelaskan semua ke Mama soal Angga dan Tari...
Jadi Mama dengarkan baik-baik...
Semoga Mama nanti tidak malu bertemu dengan Angga..."Kata Pak Bara dengan nada sedikit meledek Bu Lusi.
Bu Lusi hanya diam sambil mengernyitkan dahinya.
•••
"Memangnya kenapa Mama harus malu ketemu sama Angga???
Ayo cepat ceritakan Pa!!!" Ucap Bu Lusi sambil memandang wajah Suaminya dengan penasaran.
Pak Bara lalu duduk di atas ranjang Bu Lusi.
"Jadi, Kemarin saat sudah mengetahui kondisi Tari yang hamil, Angga membawa pulang Tari ke rumahnya karena Tari tampak sangat terpukul dengan kabar kehamilannya.
Bu Lusi hanya terdiam mendengar apa yang baru saia diucapkan Suaminya. Ia tidak percaya jika Angga rela berkorban begitu besar bagi kebahagiaan Tari.
"Apa yang Papa bilang barusan itu benar???" Tanya Bu Lusi menyelidik.
Pak Bara mengangguk sambil tersenyum.
"Iya Ma...
Angga memang sangat tulus mencintai Tari...
Jadi mana mungkin Angga ingin mencelakakan kandungan Tari..." Timpal Pak
Bara sambil mencubit hidung Istrinya tersebut.
Bu Lusi tersipu malu karena tadi Ia sudah salah sangka dan bersikap kasar pada Angga.
"Pa...
Mama sangat malu pada Angga...
Nanti Mama mau minta maaf pada Angga...
__ADS_1
Akhirnya...
Angga akan jadi menantu kita ya Pa..." Kata Bu Lusi antusias.
Ekspresi wajah Pak Bara langsung berubah lesu kembali.
•••
"Ma...
Angga tidak bakal jadi menantu Kita...
Karena Tari menolak lamaran Angga dan memilih setia menunggu Tommy..." Kata Pak Bara lesu.
Bu Lusi sangat terkejut mengetahui Tari menolak lamaran lelaki sebaik Angga.
"Apa Pa???
Kenapa Tari bodoh sekali menolak lelaki seperti Angga???"
Lalu bagaimana dengan Angga???" Tanya Bu Lusi dengan penuh emosi.
Pak Bara mengangkat wajahnya.
"Ma...
Biar bagaimanapun Kita harus menghormati keputusan Tari...
Mungkin Ia sudah sangat mencintai Tommy sampai memilih setia menunggu Tommy...
Angga pastinya merasa sangat kecewa dengan penolakan Tari...
Tapi Ia memilih tetap disisi Tari sebagai sahabat dan bahkan meminta Papa menjadi Ayahnya walaupun Ia tidak menikahi Tari..."Jelas Pak Bara pada istrinya sambil menitikan air mata.
Bu Lusi sangat kagum pada kepribadian Angga. Bahkan Tommy yang hampir menjadi menantunya saja, mungkin tidak memiliki rasa cinta sebesar yang Angga miliki pada Tari. Angga sangat tulus mencintai Tari walaupun Tari tidak pernah membalas perasaannya sedikitpun.
"Sungguh Angga orang yang memiliki hati seperti malaikat ya Pa...
Sejujurnya Kitalah yang merasa kecewa saat Dia tidak jadi menantu Kita...
Angga adalah Permata berharga yang begitu saja dibuang oleh Tari demi sebuah Batu biasa...
Semoga Angga diberikan pendamping yang sebaik dirinya dimasa depan..." Kata Bu Lusi sambil menitikan air mata dan memeluk Pak Bara yang juga masih terlihat menitikan air mata.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Membaca 😃
Mohon Dukungannya ✌️
__ADS_1
Betha🙋