
Bak Petir yang seketika menyambar.
Angga langsung lemas seketika saat Angga melihat Undangan tersebut.
Air matanya langsung mengalir deras di wajahnya.
"Saya sangat mencintai putri Bapak...
Bantu Saya Pak...
Saya ingin membahagiakannya Pak..." Kata Angga sambil menangis tersedu dan seketika berlutut di hadapan Pak Bara.
Seluruh pengunjung restoran dibuat terpaku oleh pemandangan ini.
Mereka saling berbisik satu sama lain menerka apa yang sedang mereka lihat saat ini.
"Bangunlah Nak...
Bapak benar-benar tidak bisa membantumu walaupun Bapak sangat ingin...
Karena saat ini pengakuanmu sangat terlambat...
Maafkan Bapak...
Kuatkanlah hatimu...
Semoga Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Tari... " Jawab Pak Bara sambil berjongkok dan memeluk tubuh Angga dari posisi berlututnya saat ini.
Angga tetap menangis di pelukan Pak Bara melampiaskan seluruh kesedihannya.
Angga merasa belum siap menerima kenyataan jika wanita yang dicintainya akan segera menjadi milik orang lain.
Setelah Angga merasa tenang, Pak Bara pamit untuk pulang dari restoran Angga.
•••
Sudah hampir 3 hari ini Angga menjadi sosok pemurung.
Saat diajak berbicara pun juga tidak fokus dan lebih banyak diam.
Hal ini tentu saja membuat karyawan tidak berani mendekat atau berurusan dengan bosnya tersebut.
Berhari-hari ini Angga hampir tidak pernah terlihat makan dengan teratur.
Hampir 24 jam dirinya berada di ruang kerjanya di restoran tersebut.
Ia tidak memberikan tubuhnya waktu untuk beristirahat sedikitpun.
Karena baginya jika Ia berhenti bekerja, Ia akan kembali memikirkan Tari lagi.
Namun Angga tidak dapat memungkiri kodratnya sebagai manusia biasa.
Tubuhnya tidak kuat lagi untuk dipaksakan. Angga akhirnya ambruk dan segera dilarikan kerumah sakit.
•••
Setelah mendapat kabar dari pegawai restoran. Kedua orang tua Angga langsung menghampiri anaknya yang sedang terbaring lemas.
Bu Siska langsung duduk disamping putranya yang belum sadarkan diri. Bu
Siska lalu meraih tangan Angga dan menempelkan di pipinya.
"Kamu kok bisa begini Nak?
Apa yang terjadi?
Kenapa gak cerita sama Mama?" Kata Bu Siska sambil menangis tersedu.
"Sudahlah Ma...
Angga pasti segera membaik..." Ucap Pak Ivan sambil menepuk lembut pundak istrinya.
Bu Sisca masih terus menangis.
Tiba-tiba bunyi ketukan pintu terdengar dari dalam kamar VVIP tersebut.
Seorang wanita tampak menenteng parcel buah-buahan berjalan memasuki ruangan tersebut.
"Belinda... Kok kamu bisa disini?" Tanya Bu Siska heran.
"Iya Tante...
__ADS_1
Saya tadi siang baru sampai dari Singapore langsung ke restoran Angga.
Kata Pegawainya Angga dirawat disini, Makanya Belle langsung ke sini." Jawab Belinda sambil menaruh parcel tersebut di meja dan segera meraih tangan Bu Sisca dan Pak Ivan untuk meyalami secara bergantian.
Belinda merupakan anak dari rekan bisnis Pak Ivan. Rumah mereka berada di satu komplek yang sama.
Tapi Belinda melanjutkan kuliah di Singapore dan saat ini membuka butik di beberapa kota di Indonesia.
Hal ini menjadikan Belinda jarang bertemu dengan Angga.
Belinda sudah lama menaruh hati pada Angga, bahkan saat mereka masih anak-anak.
Namun Belinda tidak pernah menunjukkan perasaannya kepada Angga.
Hingga saat ini pun Angga dan Belinda hanya seperti kakak dan adik.
Belinda selalu mengikuti setiap perkembangan yang terjadi pada Angga. Memang hingga saat ini Angga belum pernah mendekati wanita manapun, sehingga Belinda penuh percaya diri tetap berusaha untuk menjadi pendamping Angga.
Di tambah lagi guyonan konyol kedua orang tua mereka yang sangat berniat menjodohkan mereka berdua.
•••
"Tante dan Om jika capek bisa beristirahat di rumah. Biar Belle yang temani Angga disini." Kata Belinda sambil mengambil handuk dan air hangat lalu membersihkan wajah Angga yang terlihat pucat tersebut.
Awalnya Bu Siska tetap menolak tapi Pak Ivan terus memaksa Bu Siska sambil mengedipkan matanya memberi kode.
Akhirnya Bu Siska setuju untuk membiarkan Belinda menjaga Angga sendirian.
"Yasudah Om sama Tante pulang sebentar, Nanti malam kami kemari lagi.
Terimakasih banyak sudah mau merawat dan menemani Angga." Kata Pak Ivan sambil mengambilkan tas istrinya.
"Iya Belinda...
Terima Kasih sudah mau menjaga dan merawat Angga...
Kalau ada apa-apa kabari Kami ya..." Sambung Bu Siska.
"Siap Om...Tante..." Jawab Belinda sambil tersenyum manis.
•••
Namun mereka masih mengintip dari pintu kaca diluar.
Mereka mengamati setiap pergerakan Belinda.
Tampak Belinda begitu telaten membersihkan wajah Angga.
Mereka berdua tersenyum melihatnya.
Dan spontan mereka berdua terkejut saat menyaksikan Belinda mencium kening Angga.
Mereka berdua berusaha menyembunyikan rasa kaget mereka dengan menutup mulut dan pergi dari depan pintu tersebut.
Dalam perjalanan menuju ke parkiran, mereka berdua membahas apa yang baru mereka lihat.
"Apa Papa merasa kalo Belinda menyukai Angga?" Tanya Bu Siska sambil tersenyum.
"Kayaknya begitu Ma...
Wah kalo begini jadi kita besanan sama Teddy..." Jawab Pak Ivan sambil tertawa dan merangkul pundak istrinya.
Mereka berdua hanyut dalam kebahagian, sampai melupakan jika Angga masih belum sadarkan diri.
Mereka berdua segera menuju ke mobil mereka dan bergegas pulang ke rumah.
•••
Hampir semalaman Angga tertidur pulas.
Mungkin akibat selama beberapa hari ini Ia tidak tidur cukup ditambah dengan obat tidur yang diberikan padanya melalui infus.
Belinda tetap setia disamping Angga. Bahkan Ia sampai terlelap dalam posisi duduk di samping ranjang Angga.
Pagi hari pun tiba.
Sinar Mentari menembus kaca jendela menyilaukan pandangan Angga.
Angga sudah sadarkan diri.
Ia heran melihat Belinda yang sudah ada disampingnya terlelap.
__ADS_1
"Belle... Belle...
Bangun Belle..." Kata Angga sambil mengusap kepala Belinda.
"Ehm...
Kamu sudah sadar Ga?" Jawab Belinda dengar suara seraknya.
"Kok Aku disini?
Kamu juga bukannya lagi di luar negeri?" Tanya Angga bingung.
Belinda lalu segera berdiri dari kursinya.
"Kamu kemaren pingsan di resto.
Karyawan kamu yang bawa ke sini.
Aku kemarin siang pulang dan mampir ke resto, pas dapat kabar kamu dirawat langsung ke sini.
Kemaren Om Ivan dan Tante Siska juga dari sini." Jawab Belinda sambil mengucek kedua matanya.
Angga tiba-tiba tersentak teringat sesuatu.
"Hari ini hari apa? Tanggal berapa?" Tanya Angga sambil melirik ke arah Belinda.
"Hari Minggu, Tanggal 22.
Kenapa emangnya?" Jawab Belinda sambil melihat jam di tangannya.
Angga seketika langsung mencabut infusnya dengan kasar dan segera turun dari tempat tidurnya.
"Udah gila ya Kamu?
Kamu baru sadar terus mau kemana sekarang?" Tanya Belinda dengan marah sambil menarik tangan Angga.
"Aku harus ke suatu tempat.
Jangan halangi Aku. Ini penting." Jawab Angga sambil menghempas tangannya membuat Belinda terjatuh ke lantai.
"Gak boleh.
Kalo mau Aku yang antar lalu ganti bajumu dulu dan rapikan penampilanmu" Kata Belinda sambil memeluk dan menahan kaki Angga.
Angga terdiam sesaat, Ia menuruti perkataan Belinda.
Ia segera mengganti pakaiannya dengan kemeja dan jas.
Angga juga mencukur kumis dan jenggot yang tumbuh di wajah tampannya.
Sesuai perkataan Belinda, Belinda mengantarkan Angga ke tempat yang ingin Angga tuju.
Belinda (Belle)
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dear Readers yang Terkasih,
Mohon Dukungannya ya...
Author jamin Alurnya gak bakal biasa dan mudah ketebak kayak Sinetron atau FTV deh...
Spoiler Alert!
Up selanjutnya udah masuk ke Pernikahan Tommy dan Tari.
Dan kelanjutan hubungan Angga dan Belinda.
Ditunggu terus Up nya ya...
Jangan lupa Like dan Comment buat masukan Author,
Supaya ceritanya tidak mengecewakan Readers semua...
Kritik dan Saran Readers sangat Author tunggu...
Selamat Membaca😃
Betha🙋
__ADS_1