Perawan Tua Mengejar Bahagia

Perawan Tua Mengejar Bahagia
Jalan Terbaik Untuk Tari


__ADS_3

Pak Bara segera berbalik badan menghadap Angga.


Ia menatap Angga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Nak Angga..." Suara Pak Bara yang tiba-tiba memecah kesunyian sedari tadi.


Jantung Angga seakan berhenti berdetak saat mendengar Pak Bara berbicara.


Ia berusaha menenangkan diri, Namun ekspresi wajahnya tetap menunjukkan rasa panik yang begitu besar.


"Bapak rasa ini semua bukan kesalahan Nak Angga...


Ini semua terjadi karena kehendak Tuhan...


Yang harus Kita lakukan saat ini adalah ikhlas menerima semuanya...


Pasti ada hal indah dibalik semua cobaan yang Kita terima saat ini..." Kata Pak Bara sambil menepuk bahu Angga.


Angga terdiam mendengar lanjutan dark ucapan Pak Bara. Ia tidak percaya jika dalam kondisi seperti ini, Pak Bara mampu berpikir dengan optimis untuk menghadapi masalah yang tidak bisa dianggap sepele ini.


"Benarkah ucapan Bapak tersebut???


Bapak tidak marah dan benci pada Saya???" Tanya Angga menyelidik tidak percaya.


Pak Bara hanya tersenyum simpul dan mengangguk.


"Apa untungnya Saya harus marah pada Nak Angga???


Seharusnya Saya berterima kasih karena setiap Tari tertimpa masalah, Nak Angga selalu membantu dengan tulus..." Timpal Pak Bara.

__ADS_1


Angga semakin kagum dengan pola pikir Pak Bara yang menurutnya sangat berbeda dengan Orang Tua lain pada umumnya.


"Tapi Bapak baru saja kehilangan calon cucu Bapak..." Sambung Angga kembali bertanya pada Pak Bara.


Pak Bara lalu duduk di kursi yang ada didepan ruangan tersebut.


"Secara manusiawi Saya pastinya sedih karena kehilangan calon cucu Saya...


Tapi mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik untuk Tari sekarang..."Ucap Pak Bara.


Angga masih tetap bingung dengan maksud ucapan Pak Bara.


"Maksud Bapak???" Tanya Angga penasaran.


Pak Bara menghela nafas panjang sebelum menjelaskan maksud ucapannya.


"Begini Nak Angga...


Mungkin Tuhan merasa Tari juga belum siap menjadi Ibu dengan emosinya yang masih sangat labil...


Terlebih nanti akan berdampak buruk bagi emosi dan mental Tari terutama di lingkungan pekerjaan...


Yang Saya takutkan adalah Tari nanti tidak bisa menghadapi tanggapan sinis dari orang lain terkait kehamilannya sebelum menikah..." Jelas Pak Bara panjang lebar pada Angga.


Angga yang mendengar penjelasan dari Pak Bara pun merasa semua yang dikatakan oleh Pak Bara memang benar dan mungkin ini jalan yang terbaik bagi Tari.


•••


Setelah beberapa saat, Perawat memberitahukan kepada Pak Bara dan Angga bahwa Bu Lusi telah sadar kembali dan menanyakan keberadaan mereka.

__ADS_1


Namun karena kondisi kesehatannya yang masih sangat lemah, Bu Lusi masih terbaring diatas ranjang dengan selang infus yang menempel di tangannya.


Pak Bara dan Angga pun bergegas berjalan menghampiri ruangan tempat Bu Lusi di rawat.


"Ma... Gimana keadaannya???


Apa sudah lebih baik???" Tanya Pak Bara sambil berdiri di samping ranjang dan mengusap kepala Bu Lusi.


Bu Lusi mengangguk dengan wajah yang sangat sendu.


"Pa... Gimana keadaan Tari sekarang???" Tanya Bu Lusi dengan mata berkaca-kaca pada suaminya.


Pak Bara seketika tertunduk dan terdiam sejenak.


"Pa... Jawab Pa!!!


Tari baik-baik aja kan???


Apa tadi yang dibilang Dokter itu benar???


Apa Tari sedang hamil???


Jawab Pa!!!" Tanya Bu Lusi dengan penuh emosi sambil menarik lengan Pak Bara dan menangis.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat Membaca😃


Mohon Dukungannya✌️

__ADS_1


Betha🙋


__ADS_2