Perawan Tua Mengejar Bahagia

Perawan Tua Mengejar Bahagia
Pengakuan Angga


__ADS_3

"Tapi Pak...


Tari menolak lamaran Saya...


Ia memutuskan akan tetap setia pada Tommy..." Kata Angga sambil tertunduk dihadapan Pak Bara.


Bak tersambar petir setelah mendengar ucapan Angga.


Seketika senyum Pak Bara sirna dari wajahnya.


"Apa???


Jadi Tari menolak lamaran Nak Angga???" Tanya Pak Bara tidak percaya.


Angga hanya tertunduk dan mengangguk.


Pak Bara lalu menepuk pundak Angga.


"Sudahlah Nak...


Kamu sudah melakukan yang terbaik...


Maafkan Bapak, Bapak tidak bisa menghalangi keputusan Tari...


Bapak percaya laki-laki baik seperti Kamu pasti akan mendapatkan wanita yang baik juga...


Mungkin lebih baik daripada Putri Saya, Tari...


Jadi, Jangan terlalu larut dalam kekecewaanmu..."Kata Pak Bara dengan mata berkaca-kaca menatap Angga.


Angga langsung memeluk Pak Bara, Ia menumpahkan seluruh kesedihannya.


Pak Bara pun membalas pelukan Angga dengan hangat dan membiarkan Angga hingga merasa sedikit lebih baik.


•••


Setelah merasa sedikit tenang, Angga melepas pelukannya.


"Terima kasih banyak Pak...

__ADS_1


Sejak awal pertemuan Kita, Saya merasa begitu Nyaman bicara dengan Bapak...


Apa boleh Saya menganggap Bapak sebagai Ayah Saya???


Walaupun Saya tidak menjadi menantu Bapak???"Tanya Angga hati-hati.


Seketika senyuman mengembang di wajah Pak Bara. Ia begitu terharu mendengar permintaan Angga. Memang sejak awal pun Ia sudah menganggap Angga seperti anak sendiri.


"Tentu Boleh...


Walaupun Kamu tidak jadi pendamping Tari, Kamu bisa jadi sahabat bahkan kakak bagi Tari...


Saya tidak keberatan sama sekali..." Jawab Pak Bara sambil menatap Angga dengan senyuman.


•••


"Pak...


Saya juga ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya...


Karena Saya, Tari harus kehilangan calon bayi dalam kandungannya..." Kata Angga sambil tertunduk lesu.


"Apa maksud Kamu Nak???


Bapak tidak mengerti...


Coba Kamu jelaskan lagi..."Jawab Pak Bara dengan wajah yang tampak bingung.


Angga menghela nafas panjang.


"Jadi begini Pak...


Tadi sore Tari meminta Saya mengantarkannya ke Kantor Polisi untuk menemui Tommy...


Dalam perjalanan, tiba-tiba ada mobil dari arah berlawanan mau menabrak mobil Kami...


Saya berusaha menghindar...


Mungkin akibat guncangan dan syok, Tari lalu memegang perutnya dan minta dibawa ke RS sini...

__ADS_1


Lalu Ia sekarang kehilangan bayinya...


Maafkan Saya Pak...


Ini semua kesalahan Saya...


Saya akan terima jika Bapak marah ataupun membenci Saya..." Kata Angga sambil tetap tertunduk dan menangis.


Sejenak Pak Bara diam untuk mencerna kata-kata Angga.


Ia melipat tangannya didadanya.


Saat ini ekspresi wajahnya berubah menjadi datar, sehingga sangat sulit untuk diartikan.


Angga yang membaca ekspresi wajah Pak Bara menjadi ketakukan setengah mati.


Namun Ia tetap harus bertanggung jawab penuh atas keselamatan Tari sejak kedua Orang Tua Tari menitipkan Tari padanya.


•••


Suasana di depan ruangan tersebut seketika menjadi sunyi dan mencekam.


Ditambah keadaan saat ini adalah malam hari, sehingga tidak ada orang lalu lalang di depan ruangan itu.


Pikiran Angga sudah dipenuhi dengan bayangan kemarahan Pak Bara padanya.


Hal yang paling ditakutkan Angga adalah sikap Pak Bara yang mungkin akan berubah padanya. Sementara Ia sudah menganggap Pak Bara seperti Ayah Kandungnya sendiri.


Pak Bara segera berbalik badan menghadap Angga.


Ia menatap Angga dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Nak Angga..." Suara Pak Bara yang tiba-tiba memecah kesunyian sedari tadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat Membaca😃


Mohon Dukungannya✌️

__ADS_1


Betha🙋


__ADS_2