
Pak Bara dan Bu Lusi saling bertatapan dengan ekspresi wajah yang sama-sama bersedih.
Mereka berdua tidak tahan melihat sikap Angga pada Tari sehingga memutuskan untuk meninggalkan Angga dan Tari berdua dan berjalan meninggalkan ruang perawatan Tari.
Sementara Angga masih terus menangis disamping Tari.
Angga terus menangis hingga seluruh energi didalam tubuhnya terkuras habis.
Lalu Ia pun terlelap dalam posisi duduk di samping ranjang Tari.
•••
Keesokan paginya,
Tari tersadar dari pengaruh obat bius.
Kepalanya masih terasa sangat berat dan sangat pusing.
Perlahan Ia membuka matanya dan melihat disekelilingnya.
Pandangannya terhenti saat melihat Angga yang terlelap disamping ranjangnya.
Senyumannya perlahan muncul di wajahnya yang masih pucat.
Ia bersyukur karena Angga selalu ada disampingnya saat Ia menghadapi masa-masa yang sulit.
Namun senyuman Tari seketika mulai sirna dari wajahnya.
Ia masih merasa bersalah akibat menolak lamaran Angga kemarin.
Ia lalu memberanikan diri untuk menyentuh wajah Angga.
Tapi belum sempat tangannya menyentuh wajah Angga, Angga sudah terbangun dari tidurnya.
Angga mengucek matanya dan melihat Tari yang sudah terbangun dengan posisi duduk diatas ranjangnya. Tari tersenyum menatap ke arah Angga.
"Tari...
Kamu sudah bangun...
Syukurlah..." Tanya Angga sambil membetulkan posisi duduknya.
__ADS_1
Tari tersenyum dan mengangguk walaupun wajahnya masih terlihat sangat pucat karena menahan rasa sakitnya.
•••
Saat itu juga, pintu ruangan Tari diketuk oleh Dokter dan perawat yang akan segera memeriksakan kondisi tubuh Tari setelah Tari sadar dari pengaruh obat bius.
Dokter dan perawat segera memeriksa kondisi tubuh Tari.
"Bagaimana keadaannya Dok???" Tanya Angga penasaran.
Dokter tersebut tersenyum pada Angga.
"Kondisi Istri Bapak sudah membaik, hanya harus sedikit lagi beristirahat. Dalam kasus keguguran, memang dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk pulih dan disarankan untuk bed rest. Baiklah Pak, Kami permisi dulu." Kata Dokter tersebut sambil melangkah keluar ruang perawatan Tari yang diikuti oleh perawatnya.
Tari terdiam mematung mendengar perkataan Dokter tersebut.
Air matanya mengalir deras membasahi pipinya.
•••
"Angga...
Aku salah dengar kan barusan???
Dokter tadi salah bicara kan???
Jawab Angga!!!" Teriak Tari sambil menarik tangan Angga.
Seketika Angga hanya terdiam dan menunduk.
Ia tidak berani menatap wajah Tari untuk memberitahukan kenyataannya.
"Angga...
Jangan diam aja!!!
Jawab Aku Angga!!!
Kandunganku baik-baik aja kan???" Tanya Tari semakin meninggikan suaranya pada Angga sambil menangis sejadi-jadinya.
Dengan berat hati, Angga mencoba mengatakan yang sebenarnya pada Tari.
__ADS_1
Walaupun Ia mencoba menyembunyikannya, pasti lambat laun Tari juga akan mengetahuinya.
"Iya Tari...
Yang dikatakan Dokter itu benar...
Kamu mengalami keguguran..."Jawab Angga dengan suara bergetar karena menahan tangisnya.
Tari berteriak histeris.
"Ini gak mungkin!!!
Anakku pasti masih ada disini!!!
Gak mungkin!!!
Kalian semua pasti bohong!!!
Anakku gak boleh pergi!!!
Aku mau melahirkan Dia!!!" Teriak Tari sambil menangis memegangi perutnya.
Angga seketika memeluk Tari untuk mencoba menenangkannya.
"Tari maafkan Aku karena tidak bisa menjaga Kamu dan Calon Bayimu dengan baik...
Maafkan Aku..." Kata Angga sambil memeluk Tari dengan erat dan menangis.
Tari masih menangis sejadi-jadinya.
Hatinya begitu hancur saat menerima kenyataan bahwa hasil buah cintanya dengan Tommy kini telah pergi sebelum Ia sempat melihatnya hadir ke dunia.
Dunia Tari seakan berubah menjadi kelam.
Ia terus menangis dalam waktu yang lama dipelukan Angga.
Dan Angga dengan sabar tetap membiarkan Tari menangis di dalam pelukannya hingga membasahi hampir sebagian baju kemejanya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Membaca 😃
__ADS_1
Mohon Dukungannya ✌️
Betha🙋