Perawan Tua Mengejar Bahagia

Perawan Tua Mengejar Bahagia
Kekecewaan Angga (Part 2)


__ADS_3

"Apa kita terlalu gegabah tentang pernikahan ini?


Seharusnya Tari masih bisa mendapat calon suami yang lebih baik.


Seperti Angga misalnya..." Kata Bu Lusi sambil menangis didalam pelukan suaminya.


Pak Bara memeluk erat Bu Lusi.


Dalam hatinya tentu juga menginginkan hal yang sama dengan istrinya.


Tetapi rencana pernikahan Tari dan Tommy tidak mungkin dibatalkan apabila Tari ingin tetap melanjutkannya.


Terlebih Ia dan Istrinya bersahabat sejak lama dengan kedua orang tua Tommy.


Sungguh Pak Bara dan Bu Lusi merasa sangat bimbang.


Namun malam ini, Ia dan istrinya memilih untuk menerima keputusan Tari dan mulai berusaha menerima Tommy sepenuhnya seperti awal mereka menjodohkan Tari dan Tommy.


•••


Dua bulan kemudian


Tak terasa waktu pernikahan Tari dan Tommy tinggal 2 minggu lagi.


Persiapan pernikahan sudah hampir sepenuhnya rampung.


Undangan pun sudah selesai di cetak.


Siang ini, Tari kembali ke rumah membawa 3 kardus berisi undangan dengan senyum sumringah.


"Pa... Ma...Ini undangannya udah jadi. Aku langsung balik kantor lagi ya." Kata Tari sambil menyerahkan kardus berisi undangan kepada orang tuanya di rumah dan langsung kembali mengendarai mobilnya menuju kantor.


Pak Bara dan Bu Lusi memandang ke arah kardus undangan tersebut.


Tidak ada sedikitpun ekspresi bahagia dari raut wajah mereka.


Bu Lusi mengambil sebuah undangan.


Ia menatap undangan yang menampilkan foto Tommy dan Tari menggunakan seragam di bagian depannya.


Air mata mengalir dari pelupuk mata Bu Lusi.


Tangisnya semakin menjadi.


Pak Bara yang melihat istrinya menangis pun langsung menghampirinya.


"Sudahlah Ma... Kita doakan saja yang terbaik untuk Tari. Semoga mereka bisa berbahagia selamanya." Kata Pak Bara sambil memeluk istrinya.


Bu Lusi hanya mengangguk sambil terus menangis dalam dekapan suaminya.


Pak Bara tetap memeluknya hingga kondisi Bu Lusi kembali tenang seperti semula.


•••


Siang ini suasana Restoran Danau Mas tampak ramai seperti biasa.


Angga terlihat sibuk berkoordinasi dengan para pegawainya.


Mengatur agar situasi di restoran tersebut tetap berlangsung kondusif walaupun sedang ramai.


Hampir 2 bulan ini tak terdengar kabar dari Angga.


Angga memilih menyibukkan diri di restoran sehingga hanya memiliki waktu untuk tidur saja ketika ia kembali ke rumah.


Tubuhnya terlihat mengurus, kantung matanya semakin membesar.


Rambut yang mulai menggondrong dibiarkannya tumbuh dan dikucir.

__ADS_1


Penampilan dulu yang terlihat rapi dan menawan sekarang tidak bisa ditemukan lagi pada diri Angga.


Ia hanya berpakaian dan berpenampilan seadanya.


Hanya kemeja dan celana jeans yang sekarang jadi seragam kesehariannya.


•••


Di pintu masuk restoran, tampak lelaki paruh baya sedang mengedarkan pandangannya mengelilingi restoran seperti mencari seseorang.


Ia menghampiri salah satu pelayan untuk bertanya.


"Maaf Mas... Pak Angganya ada disini?" Tanya lelaki paruh baya tersebut.


"Ada Pak...


Maaf dengan Bapak siapa ? Biar saya panggilkan Pak Angga sebentar..." Tanya pelayan tersebut.


"Saya Pak Bara.


Sampaikan saja demikian, nanti beliau paham."Jawab lelaki paruh baya tersebut.


"Baik Pak...


Mohon tunggu di meja sini Pak...


Saya Panggilkan Pak Angga sebentar..." Kata Pelayan tersebut.


Pak Bara langsung duduk di meja tersebut menunggu kedatangan Angga.


Tak berapa lama, Angga muncul menghampiri Pak Bara dan segera menyalaminya.


"Sore Pak...


Bagaimana kabarnya?" Sapa Angga dengan ramah sambil menyodorkan tangannya untuk menyalami Pak Bara.


"Maaf Anak ini siapa ya?" Jawab Pak Bara heran sambil menyodorkan tangannya.


"Saya Angga Pak. Maaf penampilan saya memang sedikit berubah." Jawab Angga sambil tersenyum.


"Angga???" Kata Bara yang masih heran tidak percaya dengan perubahan Angga saat ini.


•••


Angga mempersilahkan Pak Bara duduk dan memesan Kopi untuk mereka berdua.


"Gimana kabarnya Pak?


Sehat kan?" Tanya Angga sambil tersenyum.


"Saya sehat kok.


Kamu gimana?


Kamu terlalu sibuk bekerja ya?


Kok jadi tidak merawat diri begini?" Jawab Pak Bara sambil memandang Angga.


"Saya sehat juga Pak...


Saya memang sengaja sibuk bekerja untuk bisa melupakan seseorang.


Tanpa saya sadari saya lupa merawat diri saya." Jawab Angga sambil menunduk.


"Melupakan seseorang?


Mantan Pacar kamu?" Tanya Pak Bara menyelidik.

__ADS_1


"Bukan Pak.


Saya belum pernah punya pacar.


Hanya seorang wanita yang kebetulan saya bantu.


Saya baru sadar kalau saya jatuh cinta kepadanya saat saya menolongnya.


Tapi saat saya ingin memperjuangkannya dia sudah hampir menikah dengan lelaki lain.


Jadi saya memilih berhenti berjuang dan melupakannya.Dengan sibuk bekerja setiap hari dan jadi seperti ini." Jelas Angga dengan senyum yang sangat dipakasakan.


"Apa Dia tahu Kamu mencintainya?" Tanya Pak Bara.


"Tidak Pak.


Saya hanya menolongnya di hari itu.


Saya tidak pernah bertemu dengannya lagi hingga saat ini." Jelas Tommy dengan mata berkaca-kaca.


Pak Bara terdiam sesaat.


"Apa wanita yang Kamu maksud itu Tari anak saya?"Tanya Pak Bara hati-hati.


Tommy terdiam dan hanya menunduk.


"Jawab Nak.


Bapak janji tidak akan marah dan merahasiakannya." Lanjut Pak Bara sambil menatap dalam Angga.


Angga mengangguk dan menyeka kasar air mata yang belum deras mengalir di wajahnya.


Pak Bara menghela nafas panjang.


"Kenapa Kamu berhenti berjuang?


Kalau saja Kamu sampaikan perasaanmu lebih awal pada Bapak.


Bapak dan Istri Bapak pasti mendukungmu.


Mungkin saat ini posisimu jauh lebih baik.


Tapi sekarang sudah terlambat." Kata Pak Bara dengan nada kesal sambil melipat tangannya diatas meja.


Angga mengalihkan pandangannya ke arah Pak Bara.


"Maksudnya Pak?" Tanya Angga dengan ragu.


"Saya dan istri saya menyukai kepribadianmu dan Kami rasa Kamu cocok menjadi pendamping Tari.


Tapi minggu depan mereka akan menikah.


Seandainya Dua bulan lalu Kamu mengatakan perasaanmu, mungkin Kamu yang jadi calon menantu saya." Jawab Pak Bara sambil menyodorkan Undangan kepada Angga.


Bak Petir yang seketika menyambar.


Angga langsung lemas seketika ketika Angga melihat Undangan tersebut.


Air matanya langsung mengalir deras di wajahnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Selamat Membaca😃


Mohon Dukungannya✌️


Betha🙋

__ADS_1


__ADS_2