
Dari kejauhan nampak Pak Bara dan Bu Lusi dengan langkah setengah berlari menghampiri Angga yang masih mondar-mondir di depan ruangan IGD karena panik.
"Nak Angga..." Sapa Pak Bara saat sudah berada beberapa meter lagi dari Angga.
Angga menoleh ke arah datangnya suara Pak Bara.
"Selamat Malam Pak Bara dan Bu Lusi..." Sapa Angga dengan canggung.
Sebenarnya Angga merasa sangat bimbang. Apakah Ia harus memberitahukan kondisi Tari yang sesungguhnya pada Orang Tua Tari atau membiarkan Tari yang memberitahukannya sendiri.
Tapi mengingat saat ini kondisi Tari sedang dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Angga memang seharusnya memberitahukan hal yang sangat penting ini pada Orang Tua Tari.
Terlebih sejak insiden pernikahan Tari 3 hari lalu, Kedua Orang Tua Tari mempercayakan dirinya untuk menjaga Tari.
•••
"Bagaimana keadaan Tari Nak Angga???
Apa yang sebenarnya terjadi???" Tanya Bu Lusi dengan mata berkaca-kaca.
Angga terdiam sejenak. Ia mencoba mengumpulkan segenap tenaga untuk memberitahukan hal tersebut pada kedua Orang Tua Tari.
"Katakan semuanya dengan jelas pada Kami Nak...
Kami juga berhak tau kondisi sebenarnya tentang kesehatan Tari..." Kata Pak Bara sambil menatap Angga dan mengguncangkan tubuh Angga.
Hati Angga merasa sangat pilu melihat kesedihan dan kecemasan yang terpancar di raut wajah Pak Bara dan Bu Lusi.
Akhirnya Ia tak sanggup lagi menahannya.
"Jadi begini Pak Bara dan Bu Lusi...
Sebenarnya Tari..." Jawab Angga dengan suara bergetar.
Belum sempat Angga menyelesaikan ucapannya, Pintu ruangan IGD seketika terbuka.
Nampak Dokter dan beberapa Perawat keluar dari ruangan tersebut.
Angga, Pak Bara dan Bu Lusi terdiam seketika.
•••
__ADS_1
"Dokter bagaimana kondisi Putri Saya???" Tanya Pak Bara panik sambil melepaskan tangannya dari tubuh Angga.
Dokter tersebut membuka masker yang masih terpasang di wajahnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kondisi Putri Bapak saat ini sedang sangat lemah...
Kami sudah berusaha menyelamatkan kandungannya...
Tapi Putri Bapak sudah kehilangan janinnya...
Maafkan Kami Pak..." Kata Dokter tersebut sambil menepuk pundak Pak Bara dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Pak Bara tersungkur lemas di lantai. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja Ia dengar.
Mana mungkin Putrinya berani bertindak sejauh itu hingga harus mengandung di luar pernikahan.
Seketika Bu Lusi pingsan.
Angga segera menghampiri Bu Lusi dan menggendongnya menuju perawat yang berada di meja receptionist.
Pak Bara mengikuti langkah Angga dari belakang dengan lesu.
Setelah Bu Lusi dibawa ke ruangan perawatan, Pak Bara menarik tangan Angga dan membawanya keluar ruangan tersebut.
•••
Saya masih tidak bisa mengerti dan menerima semua kondisi ini..." Kata Pak Bara dengan wajah serius.
Angga menjadi sangat gugup. Ia tidak berani menatap wajah Pak Bara saat ini.
Namun Pak Bara memang harus tahu semuanya.
"Begini Pak...
Kemarin sehabis Saya mengajak Tari berkeliling ke bukit di samping Pantai, Tari pingsan...
Lalu Saya membawanya ke klinik terdekat dan diberitahukan bahwa Tari mengandung...
Setelah Tari sadar, Ia mengaku bahwa anak dalam kandungannya adalah anak Tommy...
Kemudian..." Jawab Angga, Namun Dia ragu melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
Pak Bara menatap tajam ke arah Angga. Hal ini membuat Angga semakin ragu melanjutkan ucapannya.
"Maafkan Saya Pak jika Saya lancang...
Saya merasa jika proses hukum Tommy mungkin memakan waktu yang lama, Maka dari itu Saya kemarin melamar Tari karena Saya ingin Bertanggung Jawab dan menjaga Tari...
Saya juga memikirkan kondisi Tari dan kandungannya yang nanti akan semakin membesar...
Maafkan Saya Pak karena lancang tidak meminta izin Bapak untuk melamar Tari..."Kata Angga dengan mata berkaca-kaca.
Seketika Pak Bara memeluk erat tubuh Angga.
Dan Angga pun sangat terkejut hingga diam mematung.
"Terima Kasih Nak...
Hatimu sungguh mulia...
Walaupun Tari sudah berulang kali mengecewakanmu, Kamu tetap bersedia bertanggung jawab walaupun itu bukan anakmu...
Kamu satu-satunya laki-laki yang sejak awal Saya pilih untuk bisa pantas bersanding dengan Tari..."Jawab Pak Bara sambil menitikan air matanya.
Setelah beberapa saat Pak Bara melepas pelukannya dari Angga. Ia tersenyum lebar saat membayangkan Anggalah yang akan menjadi menantunya kelak.
•••
"Tapi Pak...
Tari menolak lamaran Saya...
Ia memutuskan akan tetap setia pada Tommy..." Kata Angga sambil tertunduk dihadapan Pak Bara.
Bak tersambar petir setelah mendengar ucapan Angga.
Seketika senyum Pak Bara sirna dari wajahnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Selamat Membaca😃
Mohon Dukungannya✌️
__ADS_1
Betha🙋