
hai semua.. yuk ajak yang lain baca karya ini..
jangan lupa like,komen, share, and vote.. thank you..
🖤🖤🖤
Berhari hari sudah pertengkaran aneh itu terjadi, tak sekali pun putra menghubungi Humaira, setiap di telepon tak pernah di angkat, setiap di kirimkan pesan singkat tak pernah di balas. Humaira betul betul lelah dengan keadaan ini, dia ternyata belum bisa memahami karakter keras Putra. Dia bertahan hanya untuk meminta kejelasan penyebab pertengkaran itu, apa kesalahan yang telah dia lakukan, sehingga Putra mencampak kan nya seperti sampah begini.
Terakhir kemarin Putra mengirimi nya pesan singkat yang berbunyi ," kau terlalu berisik! jangan ganggu aku untuk saat ini!" Dan itu berhasil menghancurkan Humaira dalam sekejap.
Hari ini hari ke tiga setelah pertengkaran mereka, Putra tak kunjung menampakkan batang hidung nya. Sudah hampir tengah malam, Humaira gelisah tak bisa tidur, dari tadi dia berkali kali merubah posisi tidur nya, kesepian melanda. Humaira memandangi langit langit kamar hotel yang mewah itu. Hati nya begitu sakit, rencana bulan madu yang indah di khayalan nya menguap seperti gas tak berbekas. Entah apa penyebab Putra bertingkah aneh begitu, sampai tega meninggalkan nya sendirian di kamar hotel itu, sama sekali tak ada kabar dari Putra. tak terasa air mata mengalir di pipi nya, hatinya terluka. Seandainya dia bisa lebih bersabar menghadapi sikap kekanakan Putra, seandainya Putra tidak mempermasalahkan hal remeh seperti itu, sungguh di sayangkan. Humaira berkali kali istighfar di dalam hati nya. Bayangan lembut dan penuh perhatian serta selalu pengertian yang beberapa hari terakhir di berikan Putra ternyata semua palsu..
Humaira terus berpikir, dia mempertanyakan apa alasan Putra sebenarnya ingin menikahi nya. Kenapa tiba tiba begitu ngebet ingin menikahi nya, apa maksud dan tujuan laki laki itu? apakah hanya sekedar untuk bahan taruhan seperti drama drama korea yang sering di tonton nya? kebanyakan orang kaya memang berlaku semau mereka sendiri. Humaira merutuki kebodohan dirinya yang begitu mudahnya terperdaya dengan kata kata manis putra, dengan janji janji manis nya. Humaira menyesali kebodohan nya yang begitu gampang percaya. Seandainya dia dulu tetap konsisten dengan prinsip nya, tidak gampang luluh, dan tidak mudah di manfaat kan.
Lelah menyerang, Humaira stress dengan pikiran nya sendiri , dengan sekuat tenaga Humaira memukul dada nya yang terasa perih, serasa sembilu yang menyayat nyayat disana, ingin rasanya dia mati saja. Dengan gontai dia bangun dari tidurnya, lalu melangkahkan kaki lemah nya menuju balkon luar. Pemandangan yang indah diluar sana semakin menambah duka. Humaira merasa jalan hidup nya sangat sulit.
"Tuhan.. aku percaya kau adalah penentu segala atas nasib ku.. Aku ikhlas jika memang ini nasib ku!"
Lagi lagi air mata mengalir deras dari pipi nya, hati nya sangat rindu dengan sosok wanita yang telah melahirkan nya kedunia ini, namun ibarat memakan buah simalakama situasi nya saat ini, jika menelepon mama dan berkeluh kesah akan memperburuk keadaan saja, membayangkan mamanya yang sudah menua,
serta membayangkan senyuman tulus sang Mama Karena semua kejadian ini akan membuat serangan kepada sang mama,bisa bisa mama sakit nanti. Humaira mengurungkan niat nya untuk memberitahu siapa pun. Bagaimana pun juga saat ini dia telah menjadi istri Putra, tak baik mengumbar perkara rumah tangga kepada siapapun. Bahkan ke orang tua kandung sendiri.
Berjam jam gadis itu berdiri di balkon tanpa mempedulikan udara dingin menyerang, tubuhnya bergetar kedinginan namun dia tak peduli, sedikit pun Humaira tak beranjak dari tepi balkon itu. Sekali sekali lantai bawah memanggil manggil menyuruh gadis itu untuk meloncat.
hei.. ayo melompat saja kesini...!
untuk apa lagi kau hidup???!
bahkan suami mu tak peduli kepada mu!!
__ADS_1
suami mu tidak betul betul mencintai mu!!
sudah lah!!!
tinggal kan saja dunia ini!!!
kau akan lebih tenang jika pergi dengan cepat!!
ayooo!! melompat saja kesini!!!
tidak akan lama!!!
Suara suara itu terdengar gaduh dan berisik, memprovokasi. Rasanya hati Humaira tak pernah sehancur ini. Dulu saat stress di selingkuhi berkali kali oleh Abraham dia tak peduli, dia move on dengan cepat dan melupakan masalah itu dengan begitu santai, kenapa saat Putra bersikap seolah olah mencampakan nya, dia merasa sakit? mungkin karena dia sudah jatuh cinta dengan pria itu, orang yang telah berhasil menaklukkan hati nya, orang yang telah berhasil memiliki Humaira seutuhnya.
"Hei... apakah mati itu bisa melepaskan beban dan masalah ku???!" Humaira berteriak di dalam hati nya, senyum nya merekah, namun sangat terlihat patah
hei...
kau akan lebih damai dengan menjemput kematian mu sendiri!!
mari melompat lah!!
aku akan menyambut kedatangan mu!!!!
Lagi lagi lantai dasar hotel itu menjawab dengan keras, seolah olah mendengar teriakan hati gadis yang tengah frustasi itu.
"Baiklah.. kalau itu mau mu! aku akan datang menemui mu!!" Gumam Humaira,gadis itu tersenyum dengan damai.
Perlahan lahan kakinya mulai menaiki balkon tinggi itu, walau agak kesulitan dinaiki karena hampir dua hari inj dia tak menyentuh makanan yang di hidangkan oleh
__ADS_1
pihak hotel, tubuhnya terlalu lemah. Bahkan untuk sekedar berjalan saja serasa oleng dan sempoyongan.
"Apa yang kau lakukan?!!!!" Putra yang baru saja tiba dan membuka pintu kaget bukan kepalang, dia berteriak histeris melihat istrinya tengah berusaha memanjat balkon tinggi itu. Secepat kilat dia masuk menghentikan tingkah konyol yang sangat berbahaya itu lalu berteriak memanggil para pengawalnya.
"Hei.. kau kemana saja? apa mainan mu di rumah mulai membuat mu rindu?!" Humaira mulai melantur dan tertawa terbahak bahak. Hipoglikemia menyerang dan membuat kesadaran nya mulai menurun.
Putra segera membaringkan ke ranjang, dan menyelimuti nya, terlihat wajah wanita itu pucat pasi seperti mayat. Putra tergugu melihat perubahan drastis istrinya,dia terkesiap karena tiba tiba kecantikan nya sirna di gantikan dengan aura penuh duka.
"Tenangkan pikiran mu! kita bisa bicara baik baik!!" Putra memeluk tubuh mungil istrinya, yang tengah menggigil kedinginan itu.
"Aku ingin menemui teman ku.. dia di lantai bawah sana! hanya dia yang mau berbicara dengan ku!"
"Hei.. kau mengigau!"
"Kau tau? bahkan aku akan bermain lompat tinggi dengan nya! hanya dia yang mengerti perasaan ku saat ini! dan kau malah tiba tiba menghentikan permainan kami! kenapa kau muncul di hidup ku Putra? cukup kau tusuk saja aku dengan pisau biar aku tak mengganggu dan berisik lagi! oh iya... aku lupa! kau kan orang kaya! pasti kau ada pistol, kau tembak kan saja ke kepala ku ini! aku lelah sekali menjadi mainan mu! tidak kau.. tidak abraham.. semua laki laki memang brengsek! aku mau mati saja! ha ha ha ha!" Humaira meracaw tak karuan, dia tertawa terbahak bahak dengan wajah yang pias dan senyuman yang dipaksakan.
Putra menyesali kebodohan nya, doa menangis sambil memeluk istrinya.
"Maaf kan keegoisan ku sayang..." Putra berlinangan air mata, dia mendekap erat tubuh mungil itu,dia menyesali semua nya, namun nasi sudah menjadi bubur, penyesalam memang datang di saat terakhir, tiba tiba tubuh itu lunglai tak berdaya.
"Sayang!! kau kenapa?! sayang??!!" Putra menggoyang goyangkan tubuh istrinya.
"Tuan.. dokter sedang dalam perjalanan kesini!" pengawal itu memberi tahu.
"Aku tidak peduli lagi! segera siapkan mobil kita harus kerumah sakit sekarang!"
"Baik tuan!!" bergegas lelaki itu menuruti perkataan tuannnya..
selesaikan segala sesuatu dengan kepala dingin
__ADS_1
jika sedang emosi dalam posisj berdiri, maka duduk lah dan tarik nafas dalam, jika dalam posisi duduk tak menenangkan mu, bawalah berbaring dan kembalilah menarik nafas dalam, namun jika dalam posisi tiduran tak mengurangi emosi mu, segeralah bangun dan berwudhu lah! segera shalat sunat 2 rakaat untuk meminta ampun kepada sang maha kuasa...
bersambung