
kuy ajak temen2 laen baca story ini
jangan lupa like, komen, and share serta vote yah..
with love
💋
author
❤❤❤
Tindakan dikamar operasi itu sudah memakan waktu kurang lebih 1 jam, Putra mondar mandir di depan ruangan operasi. Bingung harus bagaimana, jika menghubungi mama nya, atau mama Humaira pasti akan menjadi runyam, dia bingung harus berbuat apa. Tiba tiba Putra teringat dengan dokter muda di rumah sakit tempat istrinya dulu bertugas, di hati nya ragu ingin meminta bantuan siapa, namun dia yakin bisa menekan Bram karena masih berstatus sebagai karyawan nya, Putra menginginkan kesembuhan istrinya tapi masalah tidak melebar kemana mana.
kring....
kring....
kring....
"Iya tuan.. ada yang bisa saya bantu?" Bayu terdengar serius menunggu instruksi Boss nya
"Bay, aku mau kau hubungi pimpinan rs cabang jambi, dan instruksikan ada tugas kusus dari pusat untuk dokter RMO Bram, jika sudah clear kabari aku segera!"
"Baik tuan!"
"Oke"
tutt..
__ADS_1
tutt..
Sambungan telepon itu terputus, Putra menunggu dengan gelisah mengingat hampir 2 jam Operasi nya belum selesai juga. Putra mondar mandir seperti setrikaan, tidak tau mau berbuat apa lagi.
Ah... seandainya dia tidak egois, seandainya dia tidak bertingkah kekanakan, seandainya dia bisa menerima sifat keras kepala istrinya itu, semua ini tidak akan pernah terjadi. Putra sendiri bingung dengan kelakuan aneh nya itu, kenapa bisa dia merasa jatuh harga diri saat Humaira tak tertarik dengan jati diri nya, karena selama ini yang dia tau semua wanita berusaha mengejar nya, namun Humaira berbeda dia tidak peduli dengan siapa dia berurusan, memilih santai bekerja dan menikmati profesinya merawat pasien pasien itu. Bagi Putra itu kelewatan, karena prinsipnya setiap pekerja yang menjadi karyawan nya harus mengetahui siapa dirinya, jiwa narsis yang begitu tinggi tentunya. Mengingat bagai mana perkenalan awal nya dengan Humaira seharusnya dia bisa mengerti, padahal dari awal Putra sudah di tolak mentah mentah dan saat itu dia mampu paham dengan sifat Humaira, namun keegoisan nya meningkat semenjak mereka menikah, Putra beranggapan Humaira harus mengetahui semua seluk beluk tentang dirinya.
Tiba tiba pintu kamar operasi terbuka, dan berhasil membuyarkan semua lamunan Putra, dengan sigap pria kaya itu berdiri dan berlari kecil menuju pintu, berharap kabar baik segera dia terima.
"Bapak Putra, maaf sebelum nya! kondisi istri anda kurang baik, kami harus memindahkan beliau ke ruangan Icu untuk observasi post operasi pak! karena saat tindakan tadi ibu mengalami banyak perdarahan, dan kami membutuhkan tranfusi prc segera setelah operasi! kami membutuhkan dua kantong darah!"
"Ya Allah.. ujian apa lagi ini?! apa golongan darah istri saya dokter?!"
"Golongan darah nya O pak!"
"Baik itu sama dengan saya! segera ambil saja darah saya!"
" Baik pak! silahkan ikut dengan perawat kami untuk menyelasikan persetujuan tranfusi terlebih dahu, dan segera melakukan pendonoran darah di PMI cabang yang ada di rumah sakit kita ini!"
"Mari pak! ikut saya sekarang, kita harus buru buru mengingat kondisi pasien sedang betul betul membutuhkan penanganan segera!" Perawat itu berjalan setengah berlari.
"Kalian jaga disini, kau dan kau ikut aku!" tunjuk Putra kepada para pengawalnya
"Baik Tuan!!" semua menjawab dengan kompak, dan yang di tunjuk untuk mendampingi segera berlari mengiringi langkah lebar Putra.
Beberapa menit berlalu, tindakan yabg luar biasa cepat dan tepat disajikan dihadapan seorang Putra Ramadhan. Bisa menjadi referensi untuk rumah sakit mereka nanti nya pasti. Semua berjalan sesuai prosedur , namun Putra merasa sedikit pusing setelah mendonorkan darah nya, mengingat telah dua hari begadang dan kurang makan dengan baik karena masalah sepele yang menimpa hubungan dengan istrinya itu. Ruangan Icu tidak mengizinkan siapapun untuk menjaga pasien di dalam nya, Putra hanya bisa menatap istrinya di balik kaca dan itu semakin membuat nya merasakan sakit lahir dan batin, semua terjadi karena kesalahan dirinya.
Brraaaaakkkkk!!!!
Suara itu terdengar lumayan kuat, Putra tumbang setelah bertahan beberapa hari bergadang dan tak mengkonsumsi nutrisi sebagaimana mestinya, di tambah lagi sehabis donor darah dia seharusnya beristirahat dengan baik, namun bukan Putra nama nya jika dia tidak keras kepala seperti itu. Dia berkeras ingin tetap berada didepan ruangan istrinya yang masih belum siuman itu.
__ADS_1
"Tuan!!! astaga...! kita sepertinya harus segera memberi tahu tuan dan nyonya besar!"
"Hei!! jangan dulu! sebaik nya kau telepon Pak Bayu saja! biar dia yang mengurus sisa nya!" ucap pengawal yang lain sambil membopong tubuh majikan mereka itu.
"Baik lah! kau dan kau segera bawa tuan ke igd! biar di periksa dokter dulu!"
" Baik! kau dan kau jaga nona muda di sini!" lanjut mereka lagi
"Oke! kau ikut aku! nanti aku dan dia menjaga tuan dan kau mengurus administrasi!" mereka berembuk seperti sambil beraksi. Pengawal itu sudah telaten dan pilihan terbaik tuan Darius tentunya.
Hampir 2 jam putra tertidur di igd, dia mendapat tambahan tenaga dari cairan infus, ternyata dia dehidrasi berat dan kekurangan nutrisi, di tambah lagi tubuh nya sangat kelelahan dan stress. Masalah yang diciptakan nya sendiri, dan dia harus menyelesaikan sendiri, bagitu pikiran nya.
Di ruangan Icu Humaira mulai membuka matanya, kepala nya terasa sangat berat, perlahan lahan dia mengerjap ngejapkan kedua bola mata nya yang indah itu, beberapa saat dia merasa heran dan sangat asing dengan lingkungan ini, seketika dia tersadar bahwa dia sedang berada di sebuah rumah sakit. Humaira menoleh kekiri dan kekanan, mencari dimana bell khusus pasien yang terbiasa di gantung, namun sepertinya tidak ada. Tiba tiba datang dua orang perawat dengan pakaian khusus Icu menghampiri nya.
"Syukurlah ibu, anda sudah siuman!"
"Terima kasih suster! tapi saya sekarang berada dimana? kenapa saya bisa masuk ke Icu? apa yang sudah menimpa saya?"
"Anda mengalami kecelakaan bu, sehingga mengakibat kan kepala anda mengalami trauma sedang, anda tadi mendapatkan tindakan diruangan operasi!"
"Ya ampun.. aku belum mengabari kepala ruangan ku! aku sudah terlambat berangkat dinas! jam berapa ini suster?"
"Jam 8 malam ibu..! maksud ibu bagai mana? ibu berdinas? tapi bukan kah... auccchhhhh" perawat itu tidak jadi melanjutkan ucapan nya, karena teman nya segera mencubit nya.
"Maaf ibu, kami permisi sebentar! mau melaporkan keadaan anda kepada dokter dulu!"
"Oh.. iya! terimakasih banyak ya suster.. tolong nanti jika ada info tentang barang barang saya, tolong mintakan Hp saya, saya belum menghubungi ibu saya!"
"Ohh.. hmmm iya bu.. selamat beristirahat!" kedua perawat itu pergindan melaporkan keadaan Humaira yang mengalami amnesia, bahkan dia tidak ingat jika saat ini tengah berbulan madu dengan suami nya. Kedua Perawat itu menceritakan keadaan pasien dengan detail kepada dokter muda itu, dan dokter tersebut segera bergegas mengecek kondisi Humaira untuk segera melaporkan kepada dokter spesialis nya, setelah divisite ternyata dia memang mengalami amnesia.
__ADS_1
bersambung...