Perawat Ku Istri Ku

Perawat Ku Istri Ku
mama Puri


__ADS_3

Dengan tergesa gesa wanita paruh baya itu melangkah memasuki kawasan rumah sakit, para pengawal yang mendampingi kurang cepat di bandingkan langkah ibu ini, mereka salah kaprah saat menilai wanita paruh baya akan lambat dalam beraktivitas dan butuh di dampingi dengan baik, bu Puri 180 derjat berbeda dari nyonya nyonya kaya itu, dia gesit dan lincah.


" Nak, dimana kamar anak saya di rawat?!" bu Puri bertanya dengan baik dsn sopan kepada pemuda yang mendampinginya saat ini.


" Lurus saja kedepan Nyonya, kami akan mendampingi anda sampai ke depan pintu rawat inap" Penuda kekar itu tersenyum dan membungkuk hormat kepada wanita itu.


" Baiklah!" Bu Puri melangkah dengan cepat, dan tak sabar. Saat berita mengenai kecelakaan itu sampai di telinga nya, langsung secepat kilat beliau packing barang dan langsung berniat menyusul putri sulung nya itu, rupanya menantu nya lebih dulu bertindak, beliau tinggal duduk manis di rumah akan datang jemputan kusus kerumah sang mertua, dan saat itu tengah dalam perjalanan menuju rumah bu Puri.


"Assalamualaikum!" Mama Puri mengucapkan salam.


"Waalaikum salam! Mama!!!" Humaira bangun dari posisi tiduran nya, dan merentangkan tangan minta di peluk oleh wanita yang begitu di cintai nya itu.


"Sayang!! kamu baik baik saja nak?!" Bu Puri memeluk erat tubuh gadis mungil nya, beliau menangis dengan haru.


" Mama.. aku baik baik saja.. tapi pria itu mengatakan bahwa dia suami ku! aku tidak mudah di bodohi.. aku tak semudah itu percaya saja!" Humaira melepaskan pelukan nya dan segera berbisik kepada sang ibu.


" Kau betul betul lupa dengan pria ini?!" Bu Puri menarik tangan menantu nya, dan menduduk kan pemuda itu di pinggir ranjang Humaira.


"Iya ma..." Humaira menunduk, dia takut mama nya marah besar.


"Dia Putra Ramadhan, suami mu!" mama Puri menyebut nama lengkap pria itu.


"Berarti dia tidak berbohong..." Humaira mendesis pelan.


"Ya.. dan kamu tengah melupakan hal terpenting dalam hidup mu!" bu Puri mengelus kepala anak nya.


"Maaf.. aku... aku..." Humaira tergugu saat disuruh menulis.

__ADS_1


"Berusahakah mengingat suami mu nak...!" Mama puri tersenyum.


"Sudah la ma.. Humaira baru saja siuman, dia terlalu lelah untuk hari ini! sebaik nya dia istirahat" Putra menyudahi acara itu, dia tak ingin Humaira kembali memburuk. Tak apa jika Humaira melupakan dirinya saat ini, semua akan diperbaiki kedepan nya.


"Maaf mas.. aku melupakan mu.. ternyata kau betul betul suami ku! aku malu sudah berpikiran buruk terhadap mu!" Humaira menunduk


"Sudah lah.. melihat mu sudah sadar dan baik baik saja, bagiku sudah merupakan suatu anugrah!" Putra mengelus pucuk kepala Humaira


"Maaf..." air mata penyesalan itu menetes


"Hei.. sudah.. jangan menangis lagi.." Putra menghapus airmata istrinya, dan segera memeluk dengan penuh kerinduan.


"Iya.. tapi aku jahat sama kamu!" Humaira bersuara.


"Tak apa.. itu untuk menebus kesalahan ku dan keegoisan ku!" Humaira kembali terisak mendengar suaminya dengan lembut memperkenalkan.


"Iya ma.. alhamdulilah Humaira jauh membaik dan stabil sejak kedatangan mama ini.


" Mama senang, kalau keberadaan mama bisa membantu kalian!"


" Iya ma.. alhamdulilah.." Putra tersenyum


" Apa mama dan papa mu tau?!"


"aku tak berani memberi tahu mereka ma.."


" Kau takut di marahi ya?!" tanya mama puri sambil tertawa

__ADS_1


"Iya.. bisa bisa mama menjitak kepala ku nanti, aku akut sekali Humaira kenapa kenapa ma.."


"ha ha ha.. ternyata mama mu bisa juga galak ya!"


"Iya ma.. jika aku nakal mama menjitak kepala ku, atau memukul pantat ku!"


"Kau tetap anak nya, dan dia berhak atas itu"


"Iya ma, aku tau.."


"Sudahlah nak, mama mau shalat duha dulu, bisa antar kan mama ke mesjid yang ada disekitar sini? mama mau melepaskan nazar mama disana"


"Nazar? mama memang nya bernazar apa ?"


"Jika Humaira baik baik saja mama ingin bersedekah seikhlas nya ke mesjid dan menunaikan shalat duha disana, mama bersyukur semua baik baik saja.


"Baik ma, Putra akan mengantar kan mama!"


"Humaira bagai mana?!"


"Ada dokter Bram dan Bayu yang akan menemani nya"


"Baiklah.. mari kita segera berangkat, mama ingin menyegerakan niat baik ini!"


"Baik ma, mari kita berangkat! sayang aku anterin mama sebentar ya!"


Humaira hanya mengangguk, dan tersenyum. Tak lama kenudian kedua sosok yang dicintainya itu hilang di balik pintu. Humaira lega, saat ini dia sudah didampingi mama nya, wanita yang telah melahirkan nya, yang akan selalu membela dan melindungi nya. Berarti semua yang di sampaikan oleh Bram dan Putra benar adanya.

__ADS_1


Humaira berjanji, mulai saat ini dia akan mencoba mengingat kisah cinta dia dan suami nya itu. dia berja ji akan memperbaiki semua nya lagi nanti.


__ADS_2