
Bian yang sedang terlelap terganggu oleh suara bel yang terus berbunyi.
Bian akhir nya terbangun dari tidur nya, di lihatnya Kinan masih terlelap tak terganggu dengan suara bel yang berbunyi bak alarm.
Dengan langkah gontai Bian membuka pintu.
"Cari siapa?"
Pria itu tersenyum manis.
"Saya Frans tetangga satu lantai anda, mm... Maaf saya sengaja pagi-pagi datang kemari karena saat ingin membicarakan hal penting kepada anda."
"Baiklah silahkan masuk."
Bian mempersilahkan Frans masuk.
Frans mengoreksi seluruh ruangan mencari sosok Kinan.
Kini Bian dan Frans sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Silahkan akan bicara hal penting apa ?" Tanya Bian.
"Begini Pak, saya bermaksud melamar asisten rumah tangga anda, saya ingin meminta anda untuk memberhentikan dia."
Bian mengerjitkan kening nya.
"Saya tidak punya asisten rumah tangga, siapa yang anda maksud."
"Kinan Pak, bukankah dia ART anda."
"Jangan macam-macam kamu, Kinan itu Istri saya."
Bian langsung berdiri karna emosi.
Frans sangat kaget mendengar ucapan Bian.
"Mana mungkin, Kinan sendiri sendiri yang mengatakan Jika dia adalah ART di Apartemen mu."
"Jangan asal bicara kamu sekarang keluar dan tinggalkan Apartemen ku cari sana Wanita lain jangan malah melamar Istri orang."
Bian menarik tangan Frans untuk keluar.
"Kinan sendiri yang mengatakan Jika dia adalah ART di Apartemen mu ini berarti dia tidak menganggap mu sebagai Suami."
Bian menonjok wajah Frans
"Jangan macam-macam kamu sini kamu saya perlihatkan Jika Kinan memang Istri saya."
Bian menarik Frans menuju ruang televisi lalu Mengambil buku KIA milik Kinan dan hasil USG.
"Lihat ini bahkan Kinan telah mengandung Anak saya."
Frans dibuat terpaku dengan kejutan di depan matanya.
Wanita yang di idam-idamkan nya ternyata adalah Istri orang.
Frans mengibaskan tangannya agar cengkraman tangan Bian terlepas dari bahunya.
Frans berjalan ke arah pintu untuk keluar, sebelum Frans benar-benar keluar Frans menengok kearah Bian yang berada dibelakangnya.
"Jika Kinan saja tidak menganggap mu sebagai Suami dan tidak mengakui mu di hadapan orang-orang berarti Kinan tidak mencintaimu, tunggu saja saatnya tiba akan ku rebut Kinan dari mu."
Melihat Frans pergi Bian menggelengkan kepalanya lalu masuk ke dalam kamar.
Bian mengambil ponsel Kinan dan mengecek nya, benar saja hanya terdapat dua kontak di ponsel Kinan yaitu namanya dan nama Frans.
Bian segera mengambil kunci mobilnya lalu menuju parkiran dan melaju kencang ke rumah Mamah nya.
Mamah Bian yang sedang sibuk menyiapkan sarapan heran melihat Bian pagi-pagi sudah datang.
"Bian tumben kamu pagi-pagi sudah datang "
"Aku ingin membicarakan hal penting, tolong panggilkan Mbak Anggun dan Wisnu. Bian tunggu di ruang keluarga."
Mamah Bian yang melihat keseriusan Bian segera memanggil Anggun dan Wisnu.
Kini mereka telah berkumpul di ruang keluarga.
__ADS_1
"Ada apa Bian." tanya Mamah penasaran
"Mah, Mbak Anggun, Wisnu aku akan membicarakan hal penting. Sebelumnya aku minta maaf jika hal ini aku tutupi diri kalian."
"Apa sih Bi ngomong aja dong kok malah berbelit-belit." Kesal Anggun
"Sebenarnya.... Sebenarnya Bian sudah menikah dan Istri Bian sedang mengandung."
"Apa!!"
Teriak Mamah, Anggun dan Wisnu bersamaan.
"Siapa wanita itu Bi, jangan kamu bilang jika dia adalah Tasya"
Tanya Mamah cemas.
Baru saja Bian akan menjawab Wisnu sudah berdiri lalu memberi Bian tinjuan.
Melihat Wisnu menonjok Bian Anggun segera berdiri untuk menenangkan Wisnu.
"Wisnu... Stop kontrol emosimu yang kamu Adili sekarang itu Mas mu."
"Laki-laki brengsek dia Mbak lebih memilih Wanita itu di banding keluarganya."
Wisnu tetap mencengkram kerah baju Bian.
"Wanita itu bukan Tasya. Bahkan dia dan Tasya sama sekali tidak mengenal."
Mendengarnya Wisnu melepas cengkraman nya.
Bian duduk bersender di sofa lalu menatap kearah Mamah nya yang diam.
"Maaf mah jika Bian mengecewakan Mamah namun ada alasan kuat Mengapa Bian menyembunyikan pernikahan ini, Bian harap Mamah mengerti "
Mamah melirik Bian sekilas.
"Lalu Apa alasanmu sekarang memberitahu kami." Ucap Mamah datar
"Istri Bian sedang hamil, Bian harus mengesahkan pernikahan kami untuk masa depan Anak Bian.
Jika kalian sudah mau menerima istri Bian secepatnya Bian akan bawa dia ke sini"
"Nggak Bi, Mbak nggak setuju."
"Kenapa Mbak."
Tanya Bian heran.
"Kenapa kamu bilang Bi ! Apa pendapat keluarga calon Suami Mbak kalau mereka tau hal ini, Mbak malu Bi."
Mereka terdiam.
"Tapi Mbak gimana Istri Bian, setuju atau nggak Bian akan tetap resmikan pernikahan kami."
Anggun memandang Bian geram.
"No Bi, Mbak enggak setuju. seenggaknya sampai pernikahan Mbak terlaksana."
"Bian cukup nutupin Istri Bian dari keluarga calon Mbak, gampang kan."
Bian terus meyakinkan Anggun.
"Terserah Bi, yang penting kamu nggak bikin Mbak malu."
Terdengar suara langkah seseorang menuju ke arah mereka.
"Duduk dan jelaskan." Ucap mamah.
Rafa duduk lalu menjelaskan perihal awal pertemuan Bian dan Kinan tanpa ada yang terlewat, sesekali Mamah melihat Bian yang menunduk.
Wisnu mendengar kan dengan seksama, dirinya menjadi iba dengan nasib Kakak ipar yang belum pernah bertemu dengan nya itu.
Sedangkan Anggun masih bimbang jika boleh jujur ia iba dengan Adik ipar nya namun di sisi lain ia juga tidak ingin keluarga calon Suami nya mengetahui jika Adik nya mempunyai simpanan.
"Kamu yakin Fa tidak ada yang kamu tutupi."
Mamah menatap Rafa mencari kebohongan dari mata nya.
__ADS_1
Rafa melihat Mamah yakin.
"Kapan Rafa berani berbohong kepada Tante." Jawab Rafa yakin.
Mamah mengangguk, Lalu menghembuskan nafas kasar.
"Bawa Wanita itu kemari, dan urus pengesahan pernikahan kalian."
Bian tersenyum bahagia lalu menghampiri Mamah nya.
"Terimakasih Mah, akan Bian bawa Istri Bian kemari."
Bian mencium punggung tangan Mamah nya lalu pergi tanpa menghiraukan wajah Anggun yang gelisah.
"Bagus lah kalo bukan si penggerogot harta Istri Mas Bian."
Wisnu menyilangkan tangan nya di dada sambil tersenyum secerah matahari terbit dan pelangi setelah hujan.
"Syukur jika kamu mau panggil Bian dengan sebutan Mas lagi." Sindir Mamah.
"Gimana nasib Anggun. Keluarga Mas Alfat terlanjur tau kalo Bian itu belum menikah, ya Allah...."
Anggun mengusap wajah nya.
"Anggun, niat Adik mu itu baik, bagaimana jika dia terus-menerus menutupi pernikahan nya, bahkan Bian sebentar lagi akan punya Anak."
"Anggun Harus apa Mah."
"Coba terima Istri Adik mu, jika untuk pendapat keluarga Alfat kita ikuti saja alur nya."
Akhir nya Anggun mengangguk tanda setuju.
🍃🍃🍃
Sementara Kinan yang bangun tidur tidak melihat keberadaan Bian memutuskan berberes Apartemen untuk menghilangkan rasa kantuknya yang terus melanda di pagi hari karena hormon kehamilan.
Selesai berberes Kinan memutuskan untuk bersantai sambil menonton televisi.
Kinan sangat kaget saat melihat Bian tiba-tiba masuk menyuruhnya untuk bersiap.
"Kita mau ke mana Mas, tumben Mas mau ngajak aku keluar. "
Kinan yang memang tidak pernah diajak keluar bersama oleh Bian merasa heran.
"Sudahlah cepat saja bersiap nanti juga tahu."
Kinan mengangguk lalu berdandan semaksimal mungkin, setelah siap mereka bergegas menuju parkiran dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah Mamah Bian.
Kinan terkesima dengan rumah dihadapannya saat ini. Rumah dengan 3 lantai yang sangat mewah dengan taman yang lumayan luas.
Biar membukakan Kinan pintu mobil.
"Ayo turun."
Ucap Bian sembari mengulurkan tangannya.
"Ini rumah siapa Mas, dan untuk apa kita ke sini ? "
Tanya Kinan penasaran.
"Ini rumah Mamah ku, sesuai janjiku padamu akan ku kenalkan kamu pada keluargaku dan akan urus berkas pernikahan kita agar terdaftar resmi."
"Hahh.... Rumah rumahmu, tidak Mas Kinan takut, Kinan pulang saja ya."
Ucap Kinan cemas.
Bian tersenyum selalu mengusap pucuk kepala Kinan.
"Tidak apa-apa, percayalah padaku Semua akan baik-baik saja."
Kinan menyerah akhirnya ikut dengan Bian, sembari menggenggam tangan Bian Kinan berjalan dengan perasaan yang was-was, jantungnya kini berdetak kencang.
Kini mereka berdua telah sampai di ruang tamu tempat keluarga Bian menunggu.
"Ini istri Bian, perkenalkan namanya Kinanti azania."
Bian memperkenalkan Kinan, sementara Kinan hanya menunduk.
__ADS_1