Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 14


__ADS_3

Bian melihat Kinan yang menunduk.


"Kinan...."


Mendengar Bian menyebut namanya Kinan mendongak lalu melangkah menyalami Orang-orang satu persatu.


Mamah Bian mulai mengobrol dengan Kinan menanyakan riwayat hidup Kinan dari ia kecil hingga dewasa.


Sesekali Kinan menyeka air matanya mengingat kenangan bersama Ayah dan Ibu nya, dan masa-masa indah sebelum Ayah nya terkena stroke.


Mamah mencoba menguatkan Kinan, beliau tak menyangka Putra nya akan menikahi Wanita yang menanggung beban berat di pundak nya seorang diri.


Melihat mata Kinan saja Mamah sudah mengetahui bahwa Kinan adalah Wanita tulus dan selalu memendam masalah nya seorang diri, tak ingin menyusahkan orang lain.


Yang Mamah takut kan justru Putra nya sendiri, ia tahu betul sifat Bian yang kini menjadi budak cinta dari Tasya, sekarang Bian mengatakan putus namun esok bisa jadi berbeda lagi.


Setelah cukup lama mengobrol Bian mengajak Kinan dan lainnya untuk sarapan pagi.


Selesai sarapan Bian dan Kinan pamit beristirahat.


Kinan memasuki kamar yang luas dengan foto-foto masa kecil hingga dewasa Bian yang berjejer rapih di dinding.


"Kinan mulai hari ini kita tinggal disini ya, seenggak nya sampai kamu lahiran, nanti kita cari rumah sendiri."


Bian mengusap pucuk kepala Kinan yang sedang memperhatikan foto-foto Bian.


"Iya Mas.... "


Jawab Kinan dengan pandangan yang tetap fokus dengan jejeran foto-foto itu.


Dering ponsel Bian berbunyi tanda panggilan masuk, Bian segera menjawab panggilan itu.


"Iya...."


Ucap Bian singkat dengan seseorang di balik panggilan itu.


"Kinan aku ke kantor ya, kamu disini baik-baik, keluarlah kenal lebih dekat keluarga ku."


"Iya Mas, insya Allah "


Kinan melihat Bian yang sedang bersiap dengan pakaian kantor nya.


Sementara Kinan memutuskan menyusun pakaian nya di dalam lemari, Tadi Bian mengutus ART untuk mengemas pakaian Kinan lalu membawa nya ke rumah Mamah Bian.


Bian kini sudah rapih dengan pakaian kantor nya lalu bergegas menuju kantor.


Kinan memutuskan membersihkan diri agar lebih segar.


Sesampainya di kantor Bian langsung menuju ruangan nya.


Bian menetralkan otot-otot nya sebelum berhadapan dengan komputer.


Tak lama Safia masuk membacakan jadwal Bian hari ini.


"Cukup padat..." Ucap Bian.


Safia tersenyum manis, menatap Bian dengan wajah kagum.


"Iya Pak Bian, kalau begitu saya permisi."


Bian mengangguk.


🍃🍃🍃


Kinan keluar kamar dengan ragu, ia melihat sekeliling namun sepi. Kinan berjalan menuruni tangga dan mata nya tertuju pada Anggun yang sedang mengobrol dengan Mamah.

__ADS_1


Dengan langkah perlahan Kinan menghampiri mereka.


Melihat Kinan datang Mamah mengajak Kinan ikut bergabung dengan mereka.


Semakin lama Anggun mengobrol dengan Adik ipar nya itu Anggun semakin membuka hatinya untuk menerima Kinan.


"Ternyata Kinan asik juga... " Batin Anggun.


"Jadi sekarang kamu tidak tau di mana Adik mu !"


Ucap Mamah sedikit kencang membuyarkan lamunan Anggun.


"Iya Mah, Kinan hanya berharap Adik Kinan baik-baik saja, semoga Allah menjaga nya."


"Aminn..." Ucap Mamah tulus.


"Mungkin Wisnu bisa bantu Mah."


Anggun memberi pendapat.


"Iya betul juga kamu Nak. Wisnu Adik nya Bian itu Intelijen Polisi, walaupun dia menjalankan perusahaan juga seperti Bian tapi dia lebih memilih fokus jadi Intel karena itu cita-cita Wisnu, Perusahaan nya di kelola Om Ardi, Adik Mamah."


Kinan terkesima dengan pernyataan Mamah.


"Wah Intel Mah.."


"Iya jika sewaktu-waktu kamu ketemu Wisnu di luar dan dia seperti tidak mengenali kita jangan kaget, karena identitas dia sendiri pun harus di rahasiakan."


Kinan mengangguk mengerti.


"Jika Mbak Anggun ini Dokter, sebentar lagi mau menikah, dengan Dokter juga." Tambah Mamah.


"Selamat ya Mbak... "


Ucap Kinan untuk Anggun.


"Anak Mamah penjabat semua, rasanya nggak pantes aku jadi bagian dari keluarga ini. Bahkan lulus SMA aja aku susah payah... "


Kinan kini merasa sungkan dengan keluarga Bian. Dirinya merasa malu dan tak pantas.


"Kandungan kamu udah berapa bulan ?"


Tanya Anggun sambil mengusap perut Kinan.


"11 Minggu Mbak"


"Seharusnya 1 bulan lagi atau lebih udah kelihatan jenis kelamin nya."


"Iya Mbak..."


"Semoga cucu Mamah sehat wal afiat. Mamah ingin cucu Laki-laki dari Bian Karena Anak Bian adalah penerus keluarga ini, ya perempuan juga sama saja, semoga yang selanjutnya Laki-laki seperti Mamah saat melahirkan Anggun, Bian dan Wisnu."


Ucap Mamah dengan bahagia.


"Dan untuk Anggun Mamah ingin kamu segera hamil jika Allah berkehendak, usia mu sudah sangat matang untuk jadi Orang tua."


"Amin..." Ucap seseorang


Mamah, Kinan dan Anggun menengok ke sumber suara.


"Mas Alfat." Teriak Anggun girang.


"Kangen ya..."


Ledek Alfat, calon suami Anggun.

__ADS_1


"liih enggak." Sangkal Anggun.


"Silahkan duduk Nak Alfat."


Mamah mempersilahkan.


"Ini Kinan, Istri Adik nya Anggun."


Kinan dan Alfat saling bersalaman.


"Tante, Alfat langsung ke inti, maksud kedatangan ku kesini bawa kabar dari keluarga besar Alfat jika lusa adalah tanggal yang di tentukan untuk Lamaran Anggun dan Alfat."


"Alhamdulillah syukur jika sudah dapat tanggal, baiklah Nak Alfat Insya Allah Keluarga Anggun siap."


"Alhamdulillah terimakasih Tante."


"Sini Mas ada yang mau Anggun bicarakan."


Anggun menarik tangan Alfat menuju teras samping.


"Ada apa Yank?"


Tanya Alfat penasaran.


"Gimana soal Bian, apa kata Orang tua kamu." Tanya Anggun cemas.


"Its oke Yank, kemarin kan yang datang cuma Mamah, Papah dan kakak-kakak Mas, mereka oke-oke aja, nggak masalah, karena aku kan mau nikah sama kamu bukan Adik kamu."


Anggun mencubit perut Alfat.


"Iya aku tau, kalo kamu mau nikah sama Bian silahkan." Sungut Anggun.


"Masa udah di kasih yang Masya Allah mau milih yang Astagfirullah, hehehe..."


Ya itulah Alfatah Dzikrullah seorang Dokter ahli bedah yang kini menetapkan hatinya untuk Anggun Angelista, seorang Dokter Anak yang memiliki paras cantik, ramah dan Anggun, sesuai namanya.


Sangat cocok dengan Alfat yang memiliki sifat periang, dewasa dan sangat bertanggung jawab. Alfat terlahir di keluarga religius yang menjunjung tinggi ilmu agama untuk panutan hidup, tidak pernah membeda-bedakan tahta, dan sangat dermawan.


Setelah sekian lama menanti Anggun membuka hati untuk menikah dengan nya kini Alfat hampir berada di puncak kebahagiaan nya, 70% lagi dirinya dan Anggun akan menjadi satu.


Alfat adalah Anak nomor 3 dari 4 bersaudara, Orang tua dan Kakak-kakak nya semua berprofesi sebagai Dokter dan memiliki Rumah sakit yang di khususkan untuk pasien kurang mampu, 2 kakak perempuan Alfat sudah berkeluarga dan memiliki Anak.


Kini saat nya Alfat yang Insya Allah akan menikah, sedangkan Adik Laki-laki bungsu Alfat sedang berkuliah di fakultas kedokteran kota JS.


Selanjutnya Alfat dan Anggun memutuskan untuk mencari kebaya untuk lamaran dan seragam untuk keluarga.


🍃🍃🍃


Kini Bian, Rafa dan Safia sedang menuju lokasi meting di Cafe xx.


Rafa yang menyetir di buat Safia gagal fokus dengan pakaian nya hari ini, sedangkan Bian yang berada di samping Safia hanya cuek, karena Bian tahu ada maksud dan tujuan khusus Safia memakai pakaian kurang bahan itu.


"Tuan, apakah anda tidak menyadari ada lebah yang mencari madu di dekat anda ?"


Tanya Rafa sembari melirik spion.


"Tentu sadar, sebentar lagi akan ku buat lebah itu tahu rasa madu terenak Fa."


Jawab Bian sembari tersenyum Devils.


Rafa menggeleng. Sedangkan Safia diam mencerna ucapan Bian.


"Akan di beri madu terenak, apa ku bilang Pak Bian pasti langsung nyantol liat penampilanku yang sangat mempesona ini"


Pekik Safia dalam hati.

__ADS_1


🙈🙈Hay Gaysss Jangan lupa tinggalkan Jempol, komen, vote,


__ADS_2