Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 33


__ADS_3

Keluarga Frans termasuk Frans sendiri memutuskan pamit pulang karena hari sudah mulai larut.


Mamah memutuskan untuk mengantar besan nya menuju parkiran, sementara Wisnu di minta menemani Kinan.


Frans melirik Kinan dan Wisnu yang mendapat kesempatan berdua saja, hati nya sedikit panas melihat nya, namun ia harus maklum karena Wisnu lah yang selalu memperjuangkan keadilan untuk Kinan.


Wisnu dan Kinan saling diam, hening.....


"Wisnu, aku pengen liat Anak ku."


"Sabar ya Nan, Baby boy harus tetep dalam inkubator, belum bisa di bawa keluar, kamu harus semangat cepet sehat biar bisa ketemu Baby nya."


"Kamu mau kasih nama siapa Baby nya."


Kinan diam, lalu menggeleng.


"Kalo aku yang kasih nama boleh."


"Boleh, aku sendiri bahkan belum nyiapin nama buat Anak ku." Lirih Kinan.


"Kafeel Resky Artama." Ucap Wisnu pelan.


"Bagus sekali namanya, makasih ya Nu."


Kinan berbinar mendengar nama dari Wisnu.


"Baby Kafeel ganteng, kayak Uncle nya."


Wisnu dan Kinan tertawa bersama.


"Kamu udah makan?"


"Udah Kok."


"Makan nya harus bergizi."


"Iya..."


"Em, Nu apa bener Mas Bi...."


"Sutt.... Don't talk about things that will hurt us."


Kinan mengangguk, tanpa mereka sadari Mamah sedari dari melihat dan memperhatikan mereka dari balik pintu.


"Ehm.... Ngobrolin apa sih asik banget."


"Ngobrol biasa Mah."


Wisnu menjadi salah tingkah.


"Mah, Nasywa nanyain Kinan ya."


"Pasti nanyain Nak, tapi kamu tenang aja ya, dia ngerti keadaan kamu, besok dia kesini."


"Alhamdulillah terimakasih Mah."


"Sama-sama Nak, sekarang kamu tidur ya."


"Iya Mah." Kinan memejamkan mata nya, lalu Mamah menyelimuti Kinan, bibir Mamah sedikit berkedut, jujur hati nya sungguh hancur saat ini.


Wisnu memutuskan untuk melihat Baby Kafeel, hati nya kembali teriris melihat bayi kecil di hadapan nya.


"Bagaimana kondisinya Sus?"


"Sejauh ini baik Pak."


"Syukurlah."


Wisnu duduk di dekat inkubator Baby Kafeel.


"Hay Boy, ini Uncle."


Wisnu sedikit berfikir.


"Hay Boy, ini Dady."


"This is perfect Dady, Boy."


Wisnu tersenyum dengan kata-kata nya sendiri.


"Bolehkah aku jadi Dady mu." Tanya Bian kepada bayi kecil itu.

__ADS_1


"Bukan nya Bapak memang Ayah si bayi?" Tanya Suster penasaran,


"Bukan Sus, saya Uncle nya."


"Oh, saya kira Ayah nya."


Wisnu menjawab dengan senyuman manis.


"Cepat besar dan cepat pulang Boy, nanti kita main ke mall."


Suster itu menggeleng menahan tawa nya.


"Kamu tau Boy, Bunda mu ingin bertemu, tapi Bunda belum kuat jalan, besok kalo Bunda dateng Kafeel harus terseyum ya, biar Bunda bahagia."


"Sekarang Dady harus pergi, cari sesuatu untuk Kafeel, bye Boy."


Wisnu pergi tidak lupa menitipkan Kafeel kepada Suster.


"Tolong jaga pangeran kecil ini baik-baik Sus."


"Siap Pak, memang tugas saya."


Wisnu memberi jempol lalu pergi.


"Sudah ganteng, ramah, baik hati, idaman banget."


Gumam Suster muda itu.


🍃🍃🍃


Kini Bian sudah berhadapan dengan Rafa, Rafa hanya diam karena Bian terus meminta nya untuk membebaskan nya malam ini.


"Kasus anda terlalu serius Tuan, satu Indonesia bahkan sudah tahu, ini terlanjur tersebar Tuan."


"Bagaimana bisa jadi begini ?"


"Saya juga tidak tahu Tuan, kenapa juga anda menghakimi Kinan tanpa mencari tahu kebenaran nya, jika saja anda di hukum ringan bisa jadi demo besar terjadi, anda hampir menghilangkan nyawa seorang Ibu hamil, anda hampir menghilangkan 2 nyawa sekaligus, nyawa Anak anda sendiri."


Bian diam.


"Dia sudah menghianati saya, dan saya yakin itu bukan Anak saya."


"Sudah gila rupanya Pria ini, lama tidak kumat gila nya, sekali nya kumat merepotkan sekali."


"Saya yakin kali ini anda tidak akan bebas dengan mudah Tuan, tuntutan jaksa akan sangat berat."


Brak....


Bian menggebrak meja.


"Kamu bukan nya memberi saya jalan keluar malah semakin membuat saya pusing, lebih baik sekarang kamu pergi, akan saya sewa pengacara terbaik, pasti saya akan bebas !!"


"Baiklah kalau begitu Tuan, saya permisi."


"Kurang ajar kamu Rafa."


Bian akan mengejar Rafa namun segera di halangi oleh petugas.


🍃🍃🍃


Wisnu bertemu dengan Hellen di salah satu Cafe. Melihat Wisnu datang Hellen melambaikan tangan nya.


"Disini."


"Hay..."


"Hay..., gue turut sedih ya atas musibah yang menimpa keluarga Lo."


"Iya Thanks Len."


"Lo yang sabar, kenapa juga Abang Lo si angkuh itu selalu buat masalah."


"Gue juga nggak ngerti, oh ya mana pesenan gue."


Hellen menunjuk Plastik besar di atas meja.


"Bagus-bagus kan?"


"Iya dong tenang aja, semua nya udah lengkap disitu."


"Lo udah pesen."

__ADS_1


"Belum nih."


Wisnu memanggil waiters lalu memesan beberapa menu, Hellen terus memperhatikan Wisnu, merasa di perhatikan oleh Hellen Wisnu merasa risih.


"Kenapa Lo ngeliatin terus?"


"Gue heran sama Lo dan Nyokap Lo."


Wisnu menaikkan alis nya.


"Kenapa."


"Gue kenal Lo dan Nyokap Lo bukan cuman sehari dua hari. Gue heran setiap Abang lo yang angkuh itu buat masalah kenapa sih kayaknya kalian selalu memilih untuk ngalah gitu."


"Perasaan Lo aja kalik."


"Nggak Nu, Abang Lo itu orang nya aneh, kadang ramah, kadang angkuh, sombong, ngeselin. Ada yang Lo sembunyi in ya."


"Idih apaan sih Len, yuk makan laper nih."


Wisnu segera menyantap pesanannya dengan lahap karena ia juga belum makan dari siang, berbeda dengan Hellen ia yakin ada yang ditutupi oleh Wisnu tentang Bian.


"Ah sudahlah bukan urusan ku juga."


Hellen segera menyantap hidangan yang menggugah selera itu, selesai makan Wisnu segera kembali menuju rumah sakit.


Ia langsung menuju ruangan Baby Kafeel, rupanya Wisnu meminta Hellen mencarikan perlengkapan Baby Kafeel, selama di rumah sakit.


"Boy, nyenyak sekali tidur mu Nak."


"Dady jadi tidak sabar bisa gendong Anak sholeh ini."


"Wah jadi bentah nunggu Baby Kafeel kalo uncle nya ini dateng terus hihihi."


Wisnu rupanya sudah membuat Suster itu terpincut.


"Saya permisi Sus, itu perlengkapan Kafeel kalo ada yang kurang ngomong aja."


"Iya Pak."


Jawab Suster itu sedikit membungkuk, Wisnu melangkah menuju ruangan Kinan yang tidak jauh dari ruangan Baby Kafeel.


Ia melihat Mamahnya yang sudah tidur, namun tidak dengan Kinan yang masih terjaga, Wisnu melihat jam tangannya sudah menunjukkan pukul jam 10.30 malam.


"Kinan."


Suara Wisnu membuyarkan lamunan Kinan.


"Wisnu..." Gumam Kinan.


"Kamu kenapa ?"


"Aku ingin lihat Anakku."


Wisnu tersenyum lalu melangkah mendekati ranjang Kinan.


"Tutup mata."


"Buat apa?"


"Tutup dulu."


Kinan menutup mata nya, secepat kilat Wisnu menaruh handphone nya di dekat wajah Kinan.


"Buka..."


pinta Wisnu, Kinan membuka matanya perlahan namun kini ia menjadi berkaca-kaca.


"Itu Anakku?"


Wisnu mengangguk.


"Ya Allah, kecil sekali dia, ini salah aku yang nggak bisa jaga dia baik-baik."


Kinan menangis tersedu-sedu membuat Wisnu bingung.


"Kinan..."


Wisnu bingung harus bagaimana, dengan ragu ia menggapai tangan Kinan lalu meyakinkan nya jika Kafeel nanti akan tumbuh seperti Anak pada umumnya.


Ternyata berhasil, Kinan sekarang lebih tenang, saat sadar ia dan Wisnu berpegangan tangan Kinan segera melepaskan nya.

__ADS_1


__ADS_2