Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 40


__ADS_3

Bian berdiri terpaku di depan rumah Mamah nya sendiri, penyesalan memang selalu datang di akhir, ia melihat Mamah menghampiri nya bersama Nasywa.


Nasywa menghampiri Bian lalu mengulurkan tangan nya untuk menyalimi laki-laki yang ia tahu itu adalah kakak ipar nya.


Bian menyambut uluran tangan kecil Nasywa, Nasywa mengecup pucuk tangan Bian dengan polos nya, ia tersenyum sembari mendongak kan kepala nya agar bisa melihat wajah Bian.


"Mas Bian kemana aja, kok nggak pulang-pulang, Nasywa nunggu Mas Bian terus loh, mau masih tau kalo Kak Kinan udah punya Adek Bayi, tapi Adek bayi nya masih di Rumah Sakit, soal nya Adek Bayi nya kecil sekali." Jelas Nasywa dengan polosnya.


Bian tersenyum kecut.


"Mas Bian ada urusan, oh ya, apa Nasywa udah liat Adik Bayi nya."


Nasywa mengangguk Antusias.


"Sudah Mas, namanya Kafeel."


Bian diam dan menjawab dengan senyuman kecut, lagi.


"Sekarang kita masuk ya."


Ajak Mamah kepada Bian dan Nasywa.


Sementara Kinan bersama Frans dan Wisnu sibuk menyajikan cemilan pasar yang di beli Fina tadi pagi, ya Kinan tadi mengada-gada tentang ia membeli cemilan banyak karena ia bingung harus bicara apa lagi agar cepat menghindari Bian.


"Udah siap ni, aku bawa kesamping dulu ya."


Kinan membawa 2 piring berisi putu ayu dan cenil menuju pendopo dekat kolam renang.


Frans terus memperhatikan Kinan.


Frans POV


Kurang lebih 9 bulan yang lalu aku bertemu dengan Kinan untuk pertama kali nya, dia sangat sederhana di saat itu aku baru mengagumi belum mencintai nya dan ingin memiliki nya seperti sekarang.

__ADS_1


Semenjak hari pertama pertemuan kami waktu itu kami menjadi lebih sering bertemu di hari-hari selanjut nya, benih cinta mulai tumbuh di hati ku, pribadi nya yang sederhana, wajah nya yang cantik alami dan ibadah nya yang taat membuat aku dengan cepat jatuh cinta kepada nya.


Suatu hari ku putuskan untuk menyatakan cinta kepada nya, ku pikir jika Kinan menerima ku, aku akan langsung membawa nya menemui orang tua ku dan akan langsung bertunangan agar hubungan kami jelas dan terikat.


Saat yang ku tunggu tiba, aku sudah menelfon Kinan yang berada di Apartemen yang di akui nya milik majikan nya untuk keluar menemui ku, aku segera bersiap dengan bunga dan cincin yang ku belikan spesial untuk Kinan.


Aku berlutut tepat di depan pintu Apartemen nya dan yap, Kinan pun keluar, bukan nya senang atau terkejut Kinan justru sibuk melirik pintu Apartemen tetangga dan menarikku untuk masuk.


Dia menolak pernyataan cinta ku dan beralasan untuk fokus bekerja, baiklah aku mengalah, aku kembali menuju unit ku dan berfikir kembali bagaimana cara ku meyakinkan Kinan.


Walau aku masih kuliah tapi aku sudah punya bisnis kecil-kecilan, ya aku punya ide, akan ku pinta kepada majikan Kinan untuk memberhentikan nya dan aku akan menikahi Kinan, untuk keluarga nya insya allah aku bisa membantu ekonomi nya, begitulah yang ada di fikiran ku.


Di pagi selanjut nya aku bangun dengan semangat yang mengebu-gebu, ku laksanakan sholat subuh setelah nya aku langsung menuju unit Kinan untuk menemui majikan nya yang super sibuk, ya itu menurutku karena aku tidak pernah bertemu dengan nya.


Ku ketuk pintu dan sesuai rencana ku, seorang pria bertubuh tinggi dan kekar, ya memang tampan jika menurutku, aku di persilahkan masuk dan tanpa basa-basi aku langsung mengutarakan maksud kedatangan ku.


Namun kejutan besar terjadi di hadapan ku, pria itu marah besar saat mendengar ku akan melamar Kinan, dia mengaku bahwa Kinan adalah istri nya, lalu dia menyeretku menuju ruangan lain di Apartemen nya dan menunjukkan foto USG dan mengatakan bahwa Kinan sedang mengandung Anak dari Pria itu.


Sejak saat itu aku menghindar dari Kinan, aku tidak menghubungi nya lewat handphone sama sekali, ataupun menemui nya, beberapa hari kemudian aku perhatikan Apartemen nya pun kosong tidak berpenghuni.


Saat aku akan naik lift aku tak sengaja berpapasan dengan Bian, aku tak menegur nya, dia pun memperlihatkan expresi datar dan seperti nya sedang khawatir, ahh.... entahlah itu urusan dia, jadi aku memutuskan untuk kembali melangkah menuju unit ku.


Hari H telah tiba, aku sibuk memotret momen2 istimewa Kakak ku, hari ini juga pertama kali nya aku melihat Kakak ipar ku yang bernama Anggun, namun aku sangat kaget melihat wali dari kak Anggun, orang yang sangat tidak asing bagi ku.


Bian, ya dia orang nya, sampai sini saja aku sudah bisa menyimpulkan, saat menjadi wali Kak Anggun dia mengucapkan Qabul dengan Saya nikahkan Kakak kandung saya , Hati ku semakin teriris, ternyata wanita yang aku cintai kini menjadi Adik ipar Kakak ku sendiri dan secara tidak langsung menjadi ipar ku juga.


Namun aku merasa janggal karena tidak melihat Kinan sama sekali, aku mencoba berpura-pura izin untuk ke kamar mandi agar bisa memasuki rumah Kak Anggun, siapa tahu Kinan ada di dalam rumah, ternyata hasil nya Zonk, aku tidak melihat Kinan sama sekali.


Aku duduk dengan putus asa di meja tamu, aku melihat jam tangan, mungkin sebentar lagi rombongan kami akan pulang fikirku, saat aku sudah pasrah aku melihat Bian menarik tangan seorang wanita bercadar, aku sedikit curiga, apa hubungan Bian dengan wanita itu.


Kulihat Bian menarik masuk ke dalam rumah, tapi kenapa Mamah mertua bang Alfat membiarkan saja, penyelidikan ku belum juga selesai rombongan keluarga ku akan pulang, bagaimana ini ? Aku punya ide, aku meminta tetap tinggal dengan alasan menemani Orang tua ku yang sedang duduk mendampingi bang Alfat di pelaminan.


Mereka percaya dan sangat setuju dengan permintaan ku, aku kembali melihat jam tangan 30 menit lama nya wanita itu belum juga keluar dari rumah, beberapa menit kemudian aku melihat wanita dengan baju yang sama namun... kemana cadar nya dan... Kinan ya itu adalah Kinan.

__ADS_1


Wajah nya menunjukkan bahwa dia tidak baik-baik saja, aku memutuskan untuk mengejarnya. aku juga melihat seorang laki-laki yang tidak aku kenali ikut mengejar Kinan, dan seseorang di belakang ku yang memanggil nama Kinan.


Dengan jarak yang cukup jauh akhir nya Kinan berhenti, namun aku melihat Kinan perlahan-lahan jatuh tergeletak, Kinan pingsan, aku dan kedua pria itu segera menghampiri Kinan, kami cemas dan tanpa memikirkan kami tidak saling mengenal kami membawa Kinan menuju rumah sakit.


Saat Kinan sedang di tangani Dokter, laki-laki yang berpawakan tinggi, dan tubuh nya yang sangat atletis serta kulit yang bersih itu menghampiri ku lalu memperkenalkan diri nya, ternyata dia Adik Bian.


Saat itu aku tidak menanyakan mengapa Kinan bisa sampai pingsan dan di mana suaminya, yang terpenting kini Kinan baik-baik saja, walaupun aku cukup kaget saat mengetahui Kinan hanya istri simpanan Bian tak lama aku memutuskan untuk kembali ke tempat acara, aku mengatakan bahwa aku akan kembali namun niat itu aku urungkan.


Sudah lah, Kinan milik orang seutuhnya, aku tidak boleh menganggu rumah tangga nya, itu lah yang aku fikirkan waktu itu, aku mencoba sibuk dengan urusan ku sendiri, dan mencoba melupakan Kinan walau sebenarnya itu tidak membuahkan hasil.


Waktu terus berganti, hari demi hari yang aku lalui berjalan dengan sedikit tidak bersemangat, aku selalu mencari tahu tentang Kinan, aku juga tahu dia bercerai dari suami nya, bahkan aku juga sangat tahu bahwa Kinan selalu bersama dengan Wisnu, ya aku benar-benar putus asa saat itu, dan aku memutuskan untuk menyerah.


Beberapa bulan kemudian tiba-tiba tersebar berita bahwa aku dan Kinan memiliki hubungan gelap dan Anak yang di kandung Kinan adalah Anak kami, apa maksud berita ini, dari mana sumber nya, aku mencari tahu dan ternyata di televisi dan media sosial itu menjadi trending topik, apa lagi ini?.


Beberapa saat kemudian aku mengetahui bahwa Kinan menjadi korban kekerasan Bian dan harus melahirkan Anak nya dengan kondisi prematur, seluruh keluarga ku termasuk Kak Anggun dan Bang Alfat menanyakan kebenaran kepada ku tentang isu itu, tentu saja aku jawab itu tidak benar, dan foto-foto itu hanya hasil jepretan orang iseng.


Syukurlah mereka percaya, keluarga ku memutuskan untuk menjenguk Kinan, bagaimanapun musibah yang menimpa Kinan ada hubungan nya dengan ku, sampai RS aku melihat pemandangan yang menyakitkan, ya... kedekatan Kinan dan Wisnu, yang sabar Bian, maklumi bahwa memang Wisnu yang selalu ada untuk Kinan.


Sejak kejadian itu aku dan Kinan kembali dekat, aku terus berfikir bagaimana cara nya agar Kinan semakin dekat dengan ku, ide kembali muncul, aku memutuskan untuk mengajak Kinan keluar dan berbelanja kebutuhan Kafeel.


Rencana ku berhasil namun telinga ku serasa ingin bengkak karena Kinan terus meyebut nama Wisnu dalam setiap kegiatan kami, ya semua yang akan aku belikan Kinan selalu mengatakan bahwa Wisnu sudah membelikan nya, aku sedikit emosi, namun aku kembali meyakinkan diriku, sabar Bian, hanya itu yang dapat aku katakan untuk menyemangati diri ku sendiri.


Aku memutuskan untuk membeli stroller untuk Kafeel, aku ingin yang terbaik untuk bayi kecil itu, bayi yang selalu aku doakan untuk menjadikan aku ayah nya, namun Kinan tidak seperti yang aku kira, dia menolak barang branded pilihan ku, Kinan lebih memilih Stroller harga dan kualitas biasa, disitu kami berdebat karena aku merasa ini pantas untuk di terima nya.


Dan dia merasa ini terlalu berlebihan, akhir nya aku mengalah karena aku tidak ingin Kinan kembali meyebut nama Wisnu untuk perumpamaan nya, Kami pulang dengan wajah lusuh dan saling diam, saat kami sampai di rumah aku melihat Kak Anggun dan Bang Alfat, Kinan langsung menyalami mereka dan aku menyusul.


Kami duduk dan Wisnu menanyakan apakah Kinan yang membeli Stroller untuk Kafeel dan dengan jujur Kinan menjawab bahwa aku yang membelikan, melihat situasi yang kurang mengenakkan aku memutuskan untuk pamit, Wisnu mengantar ku sampai teras.


Ia langsung menanyakan ada apa dengan Kinan, sudah aku duga, dan dia mengatakan bahwa jika aku hanya bisa membuat nya menangis lebih baik aku mundur, aku kurang terima dengan perkataan nya, aku mencoba membalas sinis terhadap nya, aku bilang apakah jika aku mundur kau akan mudah untuk maju, dan dia menjawab dengan santai "Itu lo tau".


Lalu ia masuk ke dalam rumah, beberapa hari aku tidak menemui Kinan, aku sangat jengkel dengan Wisnu, namun aku kembali tersadar bahwa aku tidak boleh menyerah dan hari ini aku memutuskan untuk menemui Kinan, saat sampai di rumah Mamah, bukannya Kinan yang aku temui untuk pertama kali justru aku melihat Wisnu yang sedang termenung di dekat mobilnya aku menghampirinya mengucapkan salam dan mengulurkan tanganku, dia menjawab walau dengan nada sinis.


Setelahnya nya aku dan Wisnu sedikit berdebat di tengah perdebatan kami terdengar suara Deru mobil datang dan ternyata itu adalah Bian Kenapa orang ini datang pikirku aku menghalanginya dan bertanya untuk apa dia datang dan dia mengatakan bahwa dia akan bertemu Kinan dari situ Wisnu dan Bian berdebat.

__ADS_1


Aku memutuskan untuk menjadi penonton hingga aku kini berada di dapur ini menyaksikan pujaan hatiku ku dengan lihai menyajikan makanan untuk kami, Kinan aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku ini dengan kata-kata dan perlakuan seperti orang-orang dan mungkin hanya aku dan Tuhan yang tahu betapa aku mencintaimu dan ingin memilikimu aku menyayangimu i love you Kinanti.


POV Frans Off


__ADS_2