
Fina sedang menyetrika baju sembari mengobrol ria dengan Mang Rohmat sopir kepercayaan Mamah yang di utus untuk menjaga Kinan dan Nasywa di rumah ini.
Obrolan yang tadi nya jenaka kini berubah sendu saat mengingat alasan mereka kini di pindahkan kerja disini.
"Saya kasian Fin sama Non Kinan, apa mungkin kisah Nyonya Sarah (Mamah Bian) akan terulang lagi."
Ucap Mang Rohmat sembari menikmati kopi hitam nya.
Fina membuang nafas nya berat.
"Tapi Tuan Bian aneh Mang, Istri nya kabur nggak pernah di cariin cuma waktu awal-awal nya pergi aja semaleman tuh nyariin, habis itu nggak lagi."
"Ya seperti itulah sifat mendiang Suami Nyonya Sarah, ingin memiliki tapi semua, tidak ingin melepaskan, kalo kata kita sekarang mah serakah Fin."
"Hmm... Kita doakan yang terbaik aja buat keluarga ini ya Mang."
"Iya atuh Fin."
🍃🍃🍃
Kinan melangkah dengan gontai menuju ranjang, ia baru saja selesai melaksanakan sholat isya.
"Kalo aku dateng ke pernikahan Mbak Anggun Mas Bian liat aku dong, gimana ya."
Kinan sangat ingin menyaksikan pernikahan Kakak ipar nya namun ia bimbang, jika ia datang tentu akan bertemu dengan Bian.
Tak lama Fina dan Nasywa datang seperti nya hendak tidur karena hari sudah mulai larut.
Sementara Kinan masih memikirkan cara agar ia bisa datang namun orang-orang tidak mengenali nya.
Fina menatap Kinan.
"Mbak kenapa diem aja?"
Tanya Fina sembari mendekati Kinan.
"Bingung Fin, pengen banget nyaksiin Mbak Anggun ijab qobul tapi..."
Kinan ragu melanjutkan kata-kata nya.
Fina tersenyum.
"Aku tau keraguan Mbak, aku juga ada masukan jalan keluar nya."
"Oh ya, apa itu Fin."
🍃🍃🍃
Kinan berdiri di depan cermin besar, dirinya berkaca-kaca melihat penampilan nya sendiri.
Di ambil nya tas selempang nya lalu Kinan keluar menemui Fina.
"Fin..."
Panggil Kinan kepada Fina yang sibuk mencuci piring.
Fina berbalik mendengar Kinan memanggil nya.
"Masya Allah Mbak Kinan."
Gamis dan syar'i perpaduan hitam dan pink di padukan dengan cadar yang berwarna seirama membuat Kinan terlihat lebih cantik.
Fina melangkah mendekati Kinan.
"Mbak Kinan cantik sekali."
Kinan tersenyum lalu memeluk Fina erat.
"Makasih masukan nya Fin, untung kamu punya syari sama cadar ini."
__ADS_1
Fina mengusap punggung Kinan.
"Ini aku beliin Adek ku yang masih menimbah ilmu di pondok pesantren Mbak, tapi aku belum sempet kirim, syukurlah kalo bisa nolong Mbak, untung juga tubuh Mbak Kinan kecil hehe..."
Kinan melepas pelukan nya.
"Nanti aku ganti ya, kamu beliin Adek kamu yang baru lagi. Sekarang aku berangkat ya Fin."
"Iya Mbak hati-hati ya."
"Iya..."
Kinan berangkat bersama supir dengan hati yang masih sedikit was-was.
"Kenapa perasaan aku nggak enak ya."
Kinan mengusap dada nya agar lebih tenang.
"Astagfirullah haldzim... Ya Allah apapun yang akan terjadi nanti lindungi dan kuat kan lah hati hamba Amin."
Kini pandangan Kinan sudah di hiasi dengan jejeran parkiran mobil dan motor, serta berbagai macam pedagang menjajakan dagangan nya.
"Kita parkir nya agak jauh aja ya Pak."
"Iya Non, sepertinya disini pas."
"Iya Pak, ya sudah saya turun dulu ya Pak."
Kinan turun dari mobil dan berjalan kaki menuju tempat acara di adakan, tidak sedikit orang yang memperhatikan Kinan, sementara Kinan hanya menunduk.
"Kenapa malah di liatin orang-orang. Fina ternyata ide kita kurang tepat."
Pekik Kinan dalam hati nya.
Kinan duduk di jejeran kursi putih paling belakang, ternyata penghulu sedang membacakan nasihat pernikahan.
Kornea mata Kinan menangkap Pria yang di cintai nya.
Namun Kinan menjadi salah fokus pada seseorang yang duduk di dekat calon mertua Anggun.
"Frans, kenapa dia ada disini."
Lalu Kinan menggeleng.
"Kenapa aku malah fokus ke orang lain."
Kinan fokus menatap wali nikah Anggun yaitu Suaminya. Dengan tegas dan lancar Bian mengucapkan ijab qabul untuk menikahkan Kakak nya.
"Hmm... Lancar apa karena udah nikah 2 kali." Batin Kinan.
"sahhh...."
Sorak orang-orang yang hadir, selanjutnya penghulu membaca doa dan di lanjutkan dengan sungkem kepada orang tua.
Dan saat nya pengantin menyalami keluarga dan tamu yang menyaksikan, satu persatu keluarga di salami pengantin baru itu.
Saat Anggun berjalan ke arah nya Kinan menjadi was-was karena hampir seluruh pasang mata melihat nya.
Kinan terus menunduk, Anggun semakin dekat dan....
Pelukan Anggun yang erat membuat air mata Kinan tumpah.
Anggun menatap mata Kinan yang terlihat cantik di balik cadar yang menutupi wajah nya.
"Kamu yang kuat ya Nan, Mbak akan selalu ada buat kamu."
"Iya Mbak, semoga keluarga kecil Mbak menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah, cepet punya momongan ya Mbak."
"Amin."
__ADS_1
Jawab Anggun lalu bergantian menyalami tamu lain, membuat Kinan merasa lega.
Namun ada sepasang mata menatap Kinan dengan wajah merah padam, tanpa aba-aba ia mendekati Kinan dan menarik tangan Kinan.
Kinan berusaha melepas tarikan orang itu namun hasil nya nihil, Kinan terus di tarik menuju kamar yang sebelum nya Kinan tempati di rumah mertua nya.
Doarr....
Pintu di tutup dengan sangat kuat hingga menimbulkan suara keras, orang itu melepas tangan kecil Kinan.
Kinan meringis merasakan sakit dan panas di tangan nya.
"Sakit Mas." Lirih Kinan.
"Istri durhaka kamu, pergi berhari-hari tanpa izin Suami, kemana aja kamu."
Bian berbicara sembari menunjuk wajah Kinan, Kinan meneteskan air mata nya.
"Apa perduli kamu Mas."
"Ooh udah berani kurang ajar ya, kenapa harus pakai kayak gini, mau kamu tutupi seluruh tubuh kamu aku tetep bisa ngenalin kamu !!"
Bian melepas cadar Kinan.
"Aku terlalu sakit Mas jika bertahan di sisi kamu."
"Apa sih Nan masalah kamu, semua aku kasih, cinta, kasih sayang uang, bahkan rumah, kamu tau aku udah beliin kamu rumah, sesuai mau kamu, tapi bukan nya bersyukur kamu malah kabur, apa mau kamu, aku kurang kaya, oh atau jangan-jangan kamu cari laki-laki lain yang lebih kaya !!"
"Stop !! Stop Mas, harus nya kami intropeksi diri kenapa aku pergi !!"
Kini Kinan dan Bian sudah berhadap-hadapan membela diri masing-masing, Bian menatap mata Kinan yang sudah di penuhi air mata, tiba-tiba Bian mengingat kandungan Kinan.
"Apa salah ku Bun, Ya Allah."
Bian mencoba merendahkan suara nya.
Mendengar Bian bertanya lagi apa salah nya membuat Kinan lemah.
"Ikhlas-sin aku pergi Mas, kejarlah kebahagiaan kamu sama Tasya dan Anak kalian."
Bian membelalakan mata nya.
"Kamu tau dari siapa, Wisnu kan, pasti dia yang udah ngehasut kamu."
Kinan menggeleng.
"Jangan kamu salahin orang lain untuk kesalahan kamu sendiri Mas."
"Terus siapa lagi !"
"Aku liat sendiri dengan mata kepala ku Mas, yang kamu izin ke luar kota ternyata kamu pulang ke rumah Tasya, kamu bela Tasya, kamu usir Adik kamu demi perempuan itu Mas."
"Sakit aku liat nya Mas... Sakit." Kinan memukul dada nya.
"Tasya hamil Anak ku, aku harus apa, ini udah terjadi, Tasya bisa nekat kalo aku nggak selalu di deket dia, lagi pula aku cuma nemenin dia, nggak lebih Bun, demi Allah."
"Jangan bawa-bawa Tuhan untuk nutupi aib Mas."
Bian mengusap kasar wajah nya.
"Terus kamu mau nya apa."
"Aku mau cerai !!" Ucap Kinan tegas.
Bian menggeleng.
"Jangan kamu ucapin lagi kata-kata itu!!"
"AKU MAU CERAI." Kinan mempertegas kemauan nya.
__ADS_1
Plakk....
Satu tamparan keras mendarat di pipi Kinan.