Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 45


__ADS_3

2 Minggu kemudian ijab Qabul Wisnu dan Kinan di laksanakan, dengan suasana penuh haru, damai tanpa ada dendam di hati siapapun, Bian pun dengan telaten menjaga Kafeel selama proses sakral itu berlangsung, Frans pun hadir di sana.


Acara di laksanakan sederhana namun tetap terlihat kesan mewah di dalam nya, setelah sah menjadi istri Wisnu, Kinan malah menjadi gugup setiap dekat dengan laki-laki yang sudah lama ia kenal itu.


Saat ini acara sudah selesai, para tamu yaitu saudara dan tetangga sudah mulai pulang ke rumah masing-masing dan ada beberapa saudara yang menginap.


Mamah menghampiri Kinan dan Wisnu yang sedang duduk di dekat pelaminan mereka, terdengar obrolan dan tawa kecil muncul dari mulut Kinan dan Wisnu.


"Wisnu, Kinan, biar Kafeel tidur sama Mamah ya malem ini, kalian istirahat lah, pasti kalian lelah."


Ujar Mamah, namun Wisnu justru menggeleng dengan cepat.


"Loh kok gitu Mah, jangan lah, biar Kafeel sama kami mah."


Protes Wisnu sementara Kinan hanya diam, menurut saja dengan apa keputusan Wisnu atas tawaran Mamah, Mamah mendelik heran.


'Syukurlah, Wisnu tidak mementingkan diri sendiri.'


"Ya sudah kalau begitu, lebih baik kalian istirahat ya, Kafeel ada sama Sus nya."


"Iya Mah." Jawab Wisnu dan Kinan serempak, membaut mereka saling melirik satu sama lain.


Dari sisi lain Bian menatap pedih ke arah pengantin baru itu, sesekali ia memainkan jari nya sendiri tanda ia sedang gelisah, jujur saja, melihat Adik kandung nya mengucapkan janji suci dengan mantan istri nya sendiri membuat ia makin sadar.


Jika dirinya adalah manusia terbodoh yang menyianyiakan berlian demi kerikil, rasa bersalah semakin menyeruak di dada nya, bahkan seandainya jika suatu saat nanti Bian meminta Kafeel untuk bersama nya 1 malam saja Bian sudah tidak pantas.


Karena Hak asuh Kafeel berada di tangan Kinan, dan itu atas permintaan nya sendiri, kini Bian mulai takut pula, bagaimana jika saat Kafeel dewasa, Kafeel mengetahui jika Ayah nya sendiri pernah tidak menganggap keberadaan nya bahkan sampai menghina, tak terasa bulir air mata mulai menetes.


"Tuan Bian!!" Suara kencang memanggil dirinya membuat Bian kaget sendiri, Bian menoleh dan mendapati Fina sudah berada di depan nya sembari membawa sapu.


"Ada apa sih Fin?" Tanya Bian heran.


"Dari tadi Tuan saya panggil-panggil, tapi Tuan malah diem aja, saya permisi mau beresin ambal ini Tuan, saya mau nyapu, liat tuh kotor semua." Ucap Fina dengan menunjuk bekas beberapa bungkus cemilan dan buahan di atas ambal.


Bian menghembuskan nafas kasar, saat Bian bangkit justru ia merasakan kaki nya keju yang membuat tubuh nya oleng lalu berpegangan di lengan Fina agar ia tidak jatuh.

__ADS_1


"Loh Tuan kenapa?" Heboh Fina.


"Maaf..maaf, nggak kenapa-kenapa." Jawab Bian lalu cepat berlalu meninggalkan Fina yang terbengong heran.


...****************...


Kinan menatap haru sekaligus canggung punggung Wisnu yang melangkah di depan nya dengan Kafeel yang tertidur di gendongan Wisnu.


"Maaf, nan, tolong buka pintu ya." Wisnu berbalik menghadap Kinan, ia tidak bisa membuka pintu kamar karena kedua tangan nya menggendong Kafeel.


"Iya." Jawab Kinan singkat lalu segera membuka pintu, Wisnu masuk terlebih dahulu dan Kinan menyusul masuk, dengan telaten Wisnu meletakkan Kafeel perlahan, tak lupa mengecup kening dan pipi Kafeel yang sudah mulai berisi.


Lagi-lagi Kinan hanya memperhatikan dengan berdiri di bibir spring bed, Wisnu berbalik dan duduk di spring bed tepat di depan Kinan, Lalu Wisnu menggenggam kedua tangan Kinan penuh arti.


Wisnu mendongak kan wajah nya menatap wajah Kinan dalam-dalam, senyuman mulai terukir di bibir nya.


"Istri ku." Ujar Wisnu lembut, membuat Kinan menjadi malu.


"Mulai sekarang kita berjuang sama-sama ya, kita mulai kehidupan baru kita bertiga, doain aku, semoga aku bisa jadi Suami dan Ayah yang baik untuk kalian berdua."


"Duduk sini." Wisnu menarik perlahan tangan Kinan hingga Kini Kinan duduk tepat di samping nya, Wisnu kembali merubah posisi duduk nya menghadap Kinan, lalu menangkup wajah Kinan dengan kedua tangan nya.


"Jika suatu saat nanti aku berbuat salah, tolong kamu nasihatin dan ingetin aku kalo itu salah, dan tolong, selalu ada di sisi ku."


Kinan melepas tangan Wisnu dari wajah nya dan menggenggam tangan Wisnu dengan erat.


"Kenapa jadi melow sih, jangan gitu dong."


"Hehe biar kayak film-film romantis Sayang."


Deg...Sayang.


Wajah kepiting rebus Kinan sepertinya sudah muncul, Wisnu memajukan wajah nya dan mengecup pipi Kinan, untuk pertama kali nya.


Kinan POV

__ADS_1


Hah, Wisnu mengecup pipi ku, rasanya aku bahagia sekaligus tambah malu, apalagi aroma parfum Wisnu begitu menyengat dan menimbulkan kesan romantis dan kenyamanan semakin menonjol.


Ya Allah, sebenarnya aku malu, karena itulah sedari tadi aku diam saja, ya bukan hanya rasa malu namun ada rasa bangga juga, karena Wisnu begitu telaten mengurus Kafeel, putra ku.


Tunggu!! Wisnu mulai memberiku tatapan aneh, aduh bagaimana ini ya, aku sangat gugup, jujur saja rasa percaya diri ku hilang saat ini, bagaimana tidak Wisnu masih perjaka, sedangkan aku....


Yap! Tangan ku akhir nya menahan wajah Wisnu.


"Kenapa Sayang?" Tanya Wisnu heran, aku hanya menjawab dengan menggeleng pelan.


"Aku belum siap nu." Jawab ku gugup.


"Ada apa, maaf ya kalo aku terlalu buru-buru, habis nya kamu cantik sekali, heheh." Wisnu memberiku candaan, mungkin agar aku tidak gugup.


Aku mencoba tersenyum, namun entah kenapa tiba-tiba air mata ku luruh dan aku menangis di pelukan Wisnu.


"Hey Kinan, kamu kenapa."


Aku merasakan telapak tangan Wisnu terus mengusap kepala ku, hiks..hiks...bagaimana aku menjawab nya, aku malu Wisnu, aku takut karena aku janda, aku tidak bisa memuaskan mu di ranjang, ini lah alasan ku bersikukuh menolak mu waktu itu!!.


"Ak...aku nggak bisa!!" Ucap ku terbata-bata, aku mendengar Wisnu menghela nafas lalu melepas pelukan nya dan kembali menatap wajah ku sayu.


"Apa yang nggak bisa, sumpah, aku nggak ngerti nan?"


Wajah Wisnu sangat serius saat ini, Ya Allah, bagaimana menjelaskan nya, rasanya sangat setres aku memikirkan nya.


"Aku ini janda nu, aku takut....aku takut nggak bisa buat kamu...pu...puas...saat kita....."


"Ini lagi yang kamu bahas nan, dengerin ya, AKU NGGAK PERDULI, aku mencintai kamu tulus, aku nggak perduli masa lalu kamu, kamu gadis atau janda, aku nggak perduli, paham Kinan, tolong lah, jangan hanya itu yang kamu fikirin!".


"Aku nggak percaya diri." Ucap ku lagi kepada Wisnu, mungkin jujur saja lebih baik, dan akan membuat hati ku lega.


"Tenangin diri kamu, aku mau mandi."


Wisnu bangkit dan melangkah menuju kamar mandi, dan saat ini lah aku menangis sejadi-jadi nya tanpa suara.

__ADS_1


Kinan POV end.


__ADS_2