
Kinan duduk merenung di atas kursi panjang depan kosan nya, setelah di antar Wisnu pulang, Kinan langsung menyiapkan makan siang untuk Nasywa yang sudah pulang sekolah dan menidurkan Kafeel karena hari sudah hampir sore, setelah makan, Nasywa juga ikut menyusul Kafeel menuju alam mimpi.
Kinan ingin sekali ikut tidur siang, tapi entah kenapa ucapan Wisnu terus terngiang-ngiang di kepala Kinan, rasa gundah tiba-tiba menyelimuti dirinya.
"Apakah dia bisa mencintai ku hingga aku lupa jika pernah di sakiti, tapi bagaimana dengan Frans, pasti dia akan tersakiti jika aku menerima pinangan Wisnu, Ya Allah bagaimana ini."
"Sepulang nya dia tugas, dia akan meminta jawaban, tugas di mana dia??"
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam." Dengan spontan Kinan menjawab salam dari seseorang yang menghampiri nya.
Melihat siapa yang datang raut wajah Kinan berubah seketika.
"Kafeel sedang tidur!" Ujar Kinan ketus.
"Nggak apa-apa ketemu Bunda nya saja."
Bian duduk di dekat Kinan namun Kinan bergeser menjauh, Bian hanya tersenyum kecil.
"Ini untuk Kafeel sama Nasywa, apa tidur nya sudah lama?"
"Lumayan."
"Kamu udah makan Bun?"
Kinan memandang sinis ke arah Bian, 'Bun' ternyata jiwa halu nya sudah mulai bangkit.
"Berlaku lah yang sopan, kamu hanya tamu!!"
"Nggak ada kah maaf untuk Ayah Bun?"
"Cih.. Kejar saja maaf istri tercinta mu itu, aku dan Kafeel tidak butuh kamu." Kinan membuang pandangan nya dari Bian.
"Lalu butuh siapa? Frans, atau Wisnu?" Bian masih berbicara dalam mode santai agar Kinan tidak terusik.
"Bukan urusan mu!"
"Itu urusan ku."
"Kenapa bisa??"
Bian terdiam kikuk, ternyata Kinan yang sekarang sangat jauh berbeda dengan Kinan nya yang dulu.
"Siapa yang kamu cintai?"
Tatapan sinis kembali menerjang Bian.
"Itu BUKAN URUSAN MU!"
"Ayo kita rujuk demi Kafeel, dia butuh orang tua utuh kan?"
"Sudah 48 kali kamu mengatakan itu, tapi jawaban ku tetap sama." Kinan menunduk malas.
"Kamu mencintai Frans?"
"Atau Wisnu?"
"Pilih lah di antara kami bertiga, aku permisi, bilang Kafeel kalo Ayah nya abis dateng, Assalamu'alaikum." Bian beranjak dan berlalu.
__ADS_1
Kinan tersenyum kecut, ternyata Bian datang hanya untuk menambah isi kepala nya saja, bukan nya menemukan jalan keluar malah menambah masalah.
...****************...
Beberapa hari kemudian, Kinan hari ini sungguh tidak enak badan, bahkan untuk sekedar memandikan Kafeel Kinan tidak sanggup, untung saja Nasywa sudah besar jadi sudah bisa menyiapkan diri nya sendiri untuk ke sekolah.
Kafeel terus merengek, mungkin tubuh nya sudah tidak nyaman dan minta di mandikan, tidak ada pilihan lain, Kinan harus menelfon Mamah.
Tut...tut...tut....
"Hallo Mah."
"Iya Nak."
"Kinan sedikit nggak enak badan Mah, maaf kalo Kinan harus ngerepotin Mamah, tolong jemput Kafeel ya Mah, Kinan......."
"Yaudah Mamah ke sana sekarang, kamu hati-hati ya Nak." Belum juga selesai Kinan menyelesaikan ucapan nya Mamah sudah menjawab dan mematikan sambungan telfon itu.
Benar saja beberapa saat kemudian Mamah sudah tiba, untuk membawa Kafeel, Kinan menyarankan agar Kafeel di rawat Bian terlebih dahulu hingga menunggu dirinya pulih, Kinan juga takut jika Kafeel akan merepotkan.
Mamah menawarkan agar Kinan ikut namun Kinan menolak, tak elok bukan jika Kinan 1 atap dengan mantan suami nya, ya hanya dengan mantan suami karena Wisnu sedang bertugas.
Kinan memutuskan meminum obat warung, namun tetap tidak ada perubahan, waktu menunjukkan pukul 14:00 sebentar lagi Nasywa akan pulang sekolah, Kinan akan meminta Nasywa membeli obat merk lain.
Kepala nya terasa pening, perut nya mual, dan tenggorokan nya sakit, tidak ada 1 butir nasi pun yang Kinan makan, hanya beberapa teguk air saja, tak lama terdengar pintu terbuka, ternyata Nasywa sudah pulang.
Gadis kecil itu langsung makan dan membelikan obat untuk Kinan menuju warung, tak lama setelah Nasywa pergi terdengar dering telfon, tertera jelas nama Bian di sana.
"Iya." Jawab Kinan langsung.
"Kamu sakit apa, aku anter ke Dokter ya."
"Tolong Kinan jangan gini, aku minta maaf atas semua kesalahan aku, tapi jangan terus-terusan menghindar dan benci sama aku Nan."
Tut...... Kepala Kinan sudah sangat sakit, mendengar suara Bian malah bertambah sakit, lebih baik matikan saja, begitulah isi hati Kinan, sungguh sakit dan perih kah luka dan Bian goreskan hingga Kinan sangat membenci Bian, Ya...sangat sakit!.
Di sebrang sana rasa cemas menghantui Bian setelah mengetahui jika Kafeel berada di rumah dan mengetahui jika Kinan sakit Bian menjadi cemas, jika Kinan terus membenci nya itu bukan salah Kinan karena atas perbuatannya lah semua ini terjadi.
Mamah dengan Kafeel dalam gendongan nya menghampiri Bian yang berdiri di balkon kamar nya.
"Bian, sebaik nya kamu jemput Nasywa dan bawa Kinan menuju rumah sakit ya, Mamah khawatir, tapi bawa Fina, minta Fina bujuk Kinan kalau dia masih tidak mau juga, dan jangan lupa antar kan Nasywa kesini."
"Iya Mah, kalau gitu Bian permisi." Jawab Bian tanpa ada penolakan atau basa-basi karena ia memang cemas kepada Kinan.
Lalu Bian mencium pucuk kepala Kafeel.
"Baik-baik sama Oma ya Nak."
Bian langsung menyambar kontak mobil dan memanggil Fina agar ikut bersamanya, tak butuh waktu lama Bian dan Fina sudah sampai di kosan Kinan, Bian meminta Fina agar masuk berbicara dengan Kinan.
Tok..tok..tok.. Fina mengetuk pintu.
"Non Kinan, Non Nasywa, ini Fina." Pekik Fina.
Ceklek.. Pintu terbuka, ternyata Nasywa yang membuka pintu.
"Kak Fina." Ujar Nasywa, netra nya menyisir sekitar dan menangkap Bian yang sedang duduk di kursi panjang, dengan sedikit berlari kaki kecil Nasywa menghampiri Bian dan berhambur di pelukan laki-laki yang ia ketahui Kakak ipar nya itu.
"Mas Bian, Kakak Kinan sakit, badan nya panas banget." Adu Nasywa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Bian mengusap lembut kepala Nasywa.
"Kita bawa ke Rumah sakit ya Kak Kinan nya."
"Iya." Jawab Nasywa, lalu Bian meminta Fina untuk menghampiri Kinan di dalam, jika Bian yang menghampiri pasti Kinan akan menolak.
Fina masuk dan langsung mendapati Kinan yang tidur dengan selimut tebal menutupi tubuh nya.
"Mbak Kinan, kita ke Rumah sakit ya." Fina sedikit menepuk paha Kinan, namun Kinan tidak merespon.
"Mbak Kinan." Fina kembali mendekat.
"Astaghfirullah Mbak Kinan sampe gigil gini, Mbak Kinan."
Kinan masih tidak menjawab, seperti nya kesadaran Kinan sudah mulai habis, Fina akhir nya meminta Bian mengangkat Kinan menuju mobil karena dirinya tidak akan kuat.
Dalam perjalanan menuju Rumah sakit Fina terus menunjukkan rasa khawatir nya.
"Pak, Mbak Kinan panas dingin ini."
Bian menghembuskan nafas perlahan.
"Iya Fin, saya tau, sekarang kamu diem, kasian Nasywa nanti dia takut."
Fina tersenyum kecut.
"Hehe iya Pak maaf."
...****************...
Sesampainya di Rumah sakit Kinan segera di masukkan ke ruangan UGD, Perawat sedang memasang infus sembari menunggu dokter datang, Fina, Bian dan Nasywa juga terus menemani Kinan.
"Bagaimana kea......., Kinan!!" Kaget dokter itu, yang ternyata adalah Frans, Bian baru ingat jika Rumah sakit Umum Khairil Anam ini adalah Rumah sakit milik keluarga dari Alfat, dan Frans adalah adik dari Alfat, suami Anggun.
Netra Frans sedikit melirik siapa saja yang menemani Kinan dan langsung menemani Kinan.
"Dari pukul berapa gejala panas nya muncul." Tanya Frans sembari menangani Kinan.
"Kami kurang faham." Jawab Bian.
"Dari tadi pagi Om Frans." Tiba-tiba Nasywa menjawab dengan polosnya.
"Kinan harus di rawat, karena suhu tubuh nya sangat tinggi."
"Baik, lakukan yang terbaik." Pinta Bian kepada Frans.
"Aku tau harus melakukan apa!"
Gumam Frans, Bian akhir nya meminta Fina untuk pulang bersama Nasywa.
"Kalian pulang saja, biar saya akan menemani Kinan." Ujar Bian.
"Tidak bisa, kamu mantan suami Kinan, bulan mahram nya lagi, tidak pantas jika kamu yang merawat dia." Sangkal Frans.
"Tapi......"
"Hargailah marwah Kinan, biarkan Fina yang menemani Kinan dan kamu pulang bersama Nasywa."
Bian akhir nya mengalah, dan pulang bersama Nasywa.
__ADS_1