
Wisnu POV.
Trauma nya begitu mendalam, sudah terlalu banyak cobaan hidup nya di usia belia, istriku kini berusia 19 tahun, yang tak lama lagi akan memasuki usia 20 tahun, usia yang terlalu muda untuk semua cobaan yang dia alami.
Ibu nya meninggal di saat dia dan adik nya masih kecil, Ayah nya menikah lagi, Ibu tiri nya berlaku kejam, bekerja menjadi tulang punggung keluarga, di jadikan wanita simpanan oleh ibu nya, Ayah nya meninggal, berpisah dengan adik nya, di sakiti hati nya oleh Bian, hamil anak nya tidak di akui, entahlah, mungkin jika aku menjadi Kinan aku tak kan sekuat dia.
Tubuh ringkih nya penuh trauma, sehingga dia pun sudah tidak percaya dengan dirinya sendiri, saat ini aku hanya bingung, bagaimana aku membantu dia menyembuhkan trauma itu?
Sekarang aku berada di kamar mandi, menatap diriku sendiri di cermin besar, sekarang aku ini suami dari wanita yang aku cintai, dan sudah menjadi ayah dari keponakan ku sendiri, tunggu... aku mendengar isakan kecil dari arah kamar.
Apakah Kinan menangis? Kaki ku mulai melangkah kembali menuju kamar, benar saja Kinan sedang duduk, kedua tangan nya menyembunyikan wajah nya, tubuh nya bergetar menahan isakan.
Aku hampiri Kinan dan memeluk tubuh nya dengan erat.
"Sayang...." Aku mencoba menyingkirkan tangan Kinan dari wajah nya, kini ku lihat wajah istri ku sudah di penuhi air mata.
"Aku janji, akan terima kamu apa adanya, ayolah percaya sama diri kamu sendiri." Aku kembali meyakinkan Kinan.
Kinan mulai mengangguk, aku balas senyuman agar dia lebih yakin.
...****************...
Beberapa waktu berlalu kehidupan rumah tangga Kinan dan Wisnu terlihat harmonis, Kinan mampu menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan juga Wisnu mampu menjadi kepala rumah tangga, dan suami juga ayah yang baik untuk Kinan dan Kafeel.
Wisnu kini bertugas seperti biasa, mereka memutuskan untuk tinggal di rumah baru mereka yang tak jauh dari rumah Mamah, dan Bian kembali menuju Apartemen lama nya, yang dulu pernah di tempati bersama Kinan, Nasywa memutuskan untuk menimbah ilmu di pondok pesantren.
Seperti biasa sebelum bertugas Wisnu menyempatkan waktu untuk Kafeel, Pagi ini Wisnu memutuskan untuk menimang-nimang Kafeel di halaman rumah mereka yang terasa hangat karena matahari pagi.
"Matahari pagi baik untuk kesehatan boy, Dady liat kamu udah mulai gembul ya sekarang." Dialog Wisnu kepada Kafeel yang sama sekali belum mengerti apa yang Wisnu katakan, dan lakukan.
__ADS_1
"Nanti kalo kamu udah bisa jalan, Dady ajak kamu lari-lari di taman bermain, kita mainin semua wahana anak-anak, tenang aja nanti Dady temenin."
Tangan Wisnu mulai mentoel pipi Kafeel, membuat Kafeel mengeliat.
"Bangun hey, hangat ya, bobok terus."
"Mas." Panggil Kinan kepada Wisnu.
"Hmm..." Wisnu hanya menjawab dengan gumaman dengan netra nya yang tetap menatap Kafeel.
"Ini udah siang, kalo belum berangkat juga, nanti telat loh." Tegur Kinan kepada Wisnu.
Mendengar nya Wisnu berbalik menghadap Istri tercinta nya.
"Yaudah aku berangkat Istri ku sayang..."
Mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah, Kinan dan Wisnu memutuskan untuk tidak meminta bantuan Baby siter untuk mengurus Kafeel ataupun asisten rumah tangga untuk membantu Kinan mengurus rumah.
Kinan sengaja meminta rumah lantai 1 ,minimalis, sederhana, tidak terlalu luas, namun tetap mendapat kesan mewah dan membuat siapa saja yang melihat desain interior nya merasa betah berlama-lama.
Selepas Wisnu berangkat bertugas Kinan langsung memandikan Kafeel, tak lama ada yang mengucapkan salam, yang tak lain adalah Mamah.
"Assalamu'alaikum, Kinan." Terdengar suara Mamah memanggil Kinan.
"Iya Mah, Kinan di kamar, masih nyalinin Kafeel!" Kinan sengaja bicara agak kencang agar Mamah mendengar.
"Kinan!! Kamu tau tidak Nak, si itu udah melahirkan!!" Heboh Mamah kepada Kinan, Kinan spontan menengok ke arah Mamah dan menatap penuh tanda tanya.
"Siapa Mah? emang tetangga kita ada yang hamil, kok Kinan nggak tau."
__ADS_1
"Bukan tetangga kita, si Tasya." Jelas Mamah.
"Wah, Alhamdulillah kalo gitu Mah, laki-laki atau perempuan jenis kelamin nya Mah?"
Belum menjawab pertanyaan Kinan, Mamah yang duduk di sofa bangkit dan menghampiri Kafeel yang sudah selesai di salini, beliau menimang cucu nya dengan hati-hati.
"Perempuan, Bian masih di Rumah sakit sekarang, Mamah tetep kekeh ke Bian, kalo tes DNA itu harus tetap kita laksanakan Nak."
Kinan mengusap punggung Mamah mertua nya.
"Iya Mah, Bismillah aja ya Mah."
...****************...
Sementara di tempat lain, dua orang laki-laki sedang berdiskusi dengan serius di sebuah ruangan dokter, terlihat satu di antara nya mengenakan jas berwarna putih, ciri khas seorang dokter, dia adalah dokter muda yang baru saja melaksanakan sumpah beberapa waktu lalu
Terlepas dari kisah cinta nya yang cukup tragis, dokter muda itu cukup kompeten karena tidak membawa masalah cinta dalam karir nya yang cemerlang, dokter itu adalah Frans, yang sedang berdiskusi dengan Bian soal anak Tasya yang beberapa jam lalu di lahirkan Tasya.
"Gua harus tetap jalanin tes DNA walaupun gua yakin bayi itu anak gua Bro, ini permintaan Mamah dan mbak gua."
Frans manggut-manggut mendengar nya.
"Oke gua ngerti, hasil nya bakal keluar secepat nya, dan 1 lagi, lo harus konsultasi ke dokter anak, itu emak nya bayi lo sekarang aja udah minta minggat, sementara dia belum ngasih asi setetes pun untuk bayi nya, hemm...nggak habis fikir gua." Frans sedikit menggebrak meja nya karena kesal dengan perilaku Tasya kepada bayi nya.
Bian menunduk lesu, bulir-bulir bening mulai mengalir di pipi nya, lagi-lagi penyesalan yang ia rasakan.
"Mungkin ini karma, Kinan juga pasti ngerasain rasa sesakit ini saat gua....." Bian tidak mampu melanjutkan kata-kata nya, Frans menepuk punggung Bian untuk memberi support nya.
Penyesalan memang selalu datang di akhir.
__ADS_1