Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 21


__ADS_3

Kinan sedang memperhatikan Bian yang fokus berkutat dengan laptop nya.


"Mas kenapa sih kok tiba-tiba berubah gini, apa karena aku sakit, yang tadinya kamu ngotot nggak cinta sama aku sekarang malah sebaliknya, aku nggak apa-apa kok kalau kamu tetep sama Tasya, cinta itu nggak bisa di paksain kan."


"Cukup ya Bun, harus nya kamu bersyukur dong sama aku yang sekarang, bukan nya protes terus menerus."


"Aku cuma heran Mas."


"Emang kamu mau kalo aku nikah sama Tasya."


"Ya silahkan kalo itu yang buat kamu bahagia."


Dengan santai kinan mengatakan nya namun tidak dengan kata hati nya.


Bian menggeleng.


"Kamu harus kontrol emosi dan fikiran kamu, ingat kandungan mu Bun."


Namun Kinan malah sibuk menggeser kursi agar dirinya bisa duduk di depan jendela besar di ruangan Bian.


"Wah lantai berapa ini Mas?"


"Lantai 16."


Kinan berdecak kagum.


"Masya Allah indah nya...."


"Baru tadi melow sekarang udah senyum-senyum."


Kinan melirik Bian.


"Yaudah aku nangis."


"Ya Allah Bun, ngambek terus sih..."


Bian gemas dengan istri nya.


"Oke lah... Kita pesen makanan ya, kamu pasti laper."


"Boleh, Emm.... Aku mau seblak boleh Ya, kayak nya enak."


Kinan tiba-tiba terbayang-bayang nikmat nya seblak.


"Boleh dong, tapi harus makan nasi dulu."


"Siap... Mas, sekarang Tasya di mana, apa kabar nya."


"Kenapa sih bahas Tasya terus."


Bian menghampiri Istri nya.


"Ngak, aku cuma kepikiran kamu sama Tasya kan nggak cuma sekali itu.... Emm... Kalo Tasya hamil gimana..."


Bian langsung di buat bisu dengan pertanyaan Kinan.


"Iya kan Mas.?" Tambah kinan lagi.


"Nggak usah di bahas lah Bun." Bian gugup.


Kinan mengerjitkan kening nya.


"Jangan bilang Tasya beneran hamil."


Kinan menatap suami nya yang kini duduk di samping nya.


"Mas jawab!!"


Kinan berdiri menatap Bian menuntut jawaban.


"Bun...."


"Akhh....."


Baru saja Bian akan menjawab tiba-tiba Kinan meringis memegangi perut nya.


"Tuh kan, udah lah sayang, gak usah di bahas mana mungkin Tasya hamil, pasti dia udah dateng minta tanggung jawab kalo memang dia hamil."


Bian mengendong Kinan menuju kamar pribadi nya.


"Are you okay..."


Kinan mengangguk.


"Jangan bahas sesuatu yang nyakitin dirimu sendiri Bun."


Bian mengelus perut Kinan.


"Baik-baik di dalam perut Bunda ya nak, maaf Ayah masih sangat jauh dari kata sempurna untuk menjadi Suami dan Ayah yang baik buat kalian."


Berkali-kali Bian mengecup perut Kinan.

__ADS_1


"Mas, Kita tinggal di Apartemen lagi ya."


Ucap Kinan ragu-ragu.


"Kenapa Bun."


"Semenjak kita tinggal di rumah Mamah rasanya kita makin terpisah jarak."


"Kalo tinggal di Apartemen aku lebih takut."


"Takut kenapa ?"


"Kamu deket sama Frans."


Kinan mengerjit kan kening nya.


"Kamu tau dari mana soal Frans."


"Gak penting, nanti kita cari rumah di deket Mamah aja."


Kinan diam tak menjawab.


Bian keluar untuk mengambil pesanan nya yang sudah sampai.


Bian menyerahkan selembar uang merah kepada kurir itu.


"Kembalian nya ambil aja Mas..."


Ucap Bian ramah.


"Wah... Alhamdulilah terimakasih Pak."


Jawab kurir itu antusias. Lalu pergi meninggalkan Bian.


Bian tersenyum.


"Indah banget ya berbagi."


Bian melangkah menuju kamar pribadi nya.


"Bun bangun, aku suapin makan ya."


Ucap Bian sembari membuka kemasan makanan nya.


Kinan bangkit dan duduk di samping Bian.


"Seblak nya beli kan."


Dengan telaten Bian menyuapi Kinan, namun baru beberapa suapan Kinan sudah menolak.


"Udah Mas, pengen makan seblak nya."


"Yaudah nih..."


Bian menyerah kan bungkusan seblak itu kepada Kinan.


Kinan antusias mencicipi seblak yang terlihat menggugah selera itu.


"Kok nggak pedes..."


Protes Kinan.


"Jangan pedes-pedes nggak baik Bun."


Kinan meringis.


"Oke... "


Tiba-tiba Bian teringat Tasya.


"Tasya udah makan belum ya, makan apa dia hari ini, udah minum susu belum."


"Aku keluar sebentar ya."


Bian pergi tanpa menunggu Kinan menjawab .


Bian menjauh dari kamar itu.


"Hallo, di mana kamu, udah makan."


"Aku di rumah Bi, udah kok."


"Udah minum susu ?"


"Udah, tenang aja, nikmati hari-hari kamu sama Istri pungut mu itu."


"Jaga bicara mu Sya."


Bian mematikan telfon itu.


Saat Kinan akan masuk ke kamar kembali pintu ruangan Bian di ketuk, Bian mempersilahkan Orang itu masuk.

__ADS_1


Dan ternyata adalah Safia yang mengantarkan Nasywa.


"Hey Nasywa udah pulang."


Nasywa yang belum terlalu mengenali Bian hanya tersenyum.


Bian mendekati Nasywa lalu memperkenalkan dirinya.


"Nasywa saya Mas Bian suami Kakak Kinan, Mas nya Mas Wisnu juga."


"Iya.... "


"Yuk kita ke Kak Kinan, Kak Kinan ada di dalam."


Bian mengandeng tangan Nasywa.


Kinan yang melihat Adik nya datang lansung berdiri dan memeluk nya.


"Nasywa, Kakak kangen."


"Nasywa juga Kak, Kakak kemana aja kenapa nggak jemput-jemput Nasywa tempat Papa sama Mama."


Kinan tersenyum mendengar Adik nya mau berbicara, tidak seperti sebelum nya hanya diam dan menangis.


"Maaf ya Dek, Kakak lama jemput nya. Adek udah makan belum, kita makan yuk."


"Nasywa udah makan sama Mas Wisnu Kak."


"Oh ya, makan apa."


"Makan spagety kesukaan Nasywa, udah lama Nasywa nggak makan spagety Kak."


Ucap Nasywa antusias.


"Nasywa mau makan setiap hari juga Mas Bian beliin kalo sekarang."


Bian senang melihat keceriaan Kinan dan Nasywa.


Nasywa hanya tersenyum mendengar ucapan Bian.


"Dek apapun itu kalo berlebihan nggak baik lo." Nasihat Kinan.


"Iya Kak.."


"Nasywa kelas berapa Bun, nanti Mas urus pendaftaran nya."


"Kelas 3 sd Mas... Makasih ya."


"Nanti Nasywa sekolah di sekolah favorit biar tambah pinter dan bisa banggain Kak Kinan sama Mas Bian ya."


Ucap Bian menyemangati Nasywa.


"Iya Mas, Nasywa mau sekolah, di tempat Papa sama Mama sekolah nya aneh..."


Kinan mengerjitkan kening nya.


"Aneh kenapa Dek..."


"Udah sekarang kita makan lagi ya..."


Bian memotong ucapan Kinan lalu mengeleng.


Kinan tersenyum mengerti maksud Bian.


🍃🍃🍃


Tasya dan Lisa sahabat nya sedang duduk santai di sebuah cafe.


"Seenggaknya gue bisa dapet harta Bian Lis."


"Pinter juga kamu, dan kamu beruntung aja Anak kamu tumbuh di perut kamu di waktu yang tepat Sya."


"Iya... Dari pada gue gugurin ya mending gue jadiin alat buat dapet harta dari Bian."


"Iya lah Sya, Ehh... Apa Bian yang ngomong sama kamu kalo dia udah nikah."


"Iya lah Lis, tapi gue udah curiga sih setiap gue dateng ke Apartemen dia gue perhatiin pembantu kok modis and bebas banget gitu."


Lisa mengangguk.


"Dia bilang cuma terpaksa ngenalin Istri nya ke keluarga nya soal nya Kinan hamil, tapi gue udah liat dari mata nya aja udah keliatan kalo dia cinta sama Kinan, ya gue bisa apa fikir gue, gue ngalah, asal tetep jadi pacar dia, pas gue tau kalo gue hamil rasanya ada cahaya terang dateng ngasih gue harapan besar buat dapetin Bian lagi."


Tasya menghembuskan nafas nya kasar.


"Bian akan tetep jadi milik gue tanpa gue kerja keras."


"Caranya ?"


Tanya Lisa penasaran.


"Main halus...."

__ADS_1


Tasya tersenyum devils.


__ADS_2