
Kinan merenung sembari mengelus perut buncit nya.
"Kenapa takdir selalu mempermainkan ku, dulu baru saja aku bahagia bersama keluarga baru ku, duka datang dengan tiba-tiba, dan saat aku kembali menemukan kebahagiaan baru perlahan-lahan duka menyayat nya membuat luka yang teramat perih."
Kinan menghapus air mata nya, ia duduk lalu mencabut infus di tangan nya, ia berdiri lalu merasakan tubuh nya yang mulai bertenaga, ia melihat jam di tangan nya menunjukkan pukul 12:30 menit.
Saat Kinan keluar dari ruang rawat ini ternyata Mang Rohmat duduk di kursi depan ruangan itu.
"Mang." Panggil Kinan.
Mang Rohmat menengok ke arah Kinan dan langsung berdiri.
"Non Kinan kenapa bangun ?"
Tanya Mang Rohmat khawatir.
"Saya udah sembuh Mang, ayo kita jemput Nasywa Mang."
"Tapi Non kata Tuan Bian..."
"Sekarang Mamang sama saya bukan Bian, ayo kita jemput Nasywa Mang."
"Baik Non."
Mang Rohmat dan Kinan menuju sekolah Nasywa, saat mereka sampai saat itu juga Nasywa pulang.
Sepanjang perjalanan Nasywa banyak bercerita kepada Kinan, tentang teman-teman nya, mata pelajaran, hingga guru.
Nasywa mencoba menguji kemampuan bahasa inggris nya kepada Kinan setelah hampir 1 bulan lebih menimba ilmu di sekolah itu.
"Waw kamu hebat ya Dek, Kakak aja nggak ngerti kamu ngomong apa hahaha."
Kinan dan Nasywa tertawa bersamaan.
"Kakak mah, Nasywa udah bicara panjang-panjang malah nggak ngerti."
"Masya Allah Dek, Kakak bangga sama kamu, jadi Anak pinter dan Sholehah ya Dek, buat Kakak bangga terus."
"Buat Kakak sama Mas Bian bangga kan Kak."
"Iya yang pasti semua nya, Mamah juga, Mamah yang udah sekolahin kamu, jangan sampe kamu lupa kalau udah sukses nanti ya."
"Iya kak.."
Nasywa dan Kinan saling berpelukan.
"Kak kenapa kita harus tinggal berpisah sama Mamah sama Mas Wisnu juga."
Kinan sedikit bingung harus menjawab apa pertanyaan Adik nya.
"Karena di rumah Mamah terlalu besar, Kak Kinan capek jalan nya, perut Kakak kan besar."
"Iya ya Kak... Rumah Mamah besar banget."
Kinan tersenyum mendengar celoteh Adik nya yang seakan tiada henti.
Saat mereka sampai Nasywa langsung bergegas menuju kamar dan melepas seragam sekolah nya.
Sementara Kinan meminjam ponsel Fina untuk menghubungi Wisnu.
Belum Wisnu menjawab telfon dari nya air mata Kinan sudah tidak dapat di bendung nya lagi.
"Hallo... Assalamualaikum."
Ucap Wisnu di seberang telfon.
"Waalaikumsalam Wisnu, aku pulang dari rumah sakit."
"Kenapa pulang apa udah di suruh Dokter pulang ?"
"Belum.... Cuma Mas Bian pergi."
__ADS_1
Kinan bergetar menahan tangis nya.
"Astagfirullah...."
"Aku mau cerai, keputusan aku udah bulat, aku harap kamu sama Mamah bisa bantu aku."
"Iya Kinan, pasti Mamah bantu kamu, udah kamu nggak usah nangis air mata kamu terlalu berharga cuma buat nagisin laki-laki yang nggak bisa menghargai Wanita, sekarang kamu harus fokus jaga kesehatan kamu, biar Anak kamu sehat."
"Iya... Makasih Wisnu."
"Iya, yaudah ya Nan, besok aku hubungi lagi gimana kelanjutan nya."
"Iya Asalammulaikum."
"Waalaikumsalam."
Kinan mengusap dada nya agar lebih tenang.
"Astagfirullah haladzim... Ya Allah kuat kan lah hamba dalam menghadapi segala cobaan ini."
Kinan memutuskan untuk menjalankan Sholat Ashar nya yang terlewat.
🍃🍃🍃
Sementara Bian.
"Kita ke Dokter aja Sya, aku khawatir morning sickness kamu parah loh."
Ucap Bian kepada Tasya yang tidur seakan-akan tak berdaya.
Tasya menggeleng.
"Ini resiko Bi, Ibu hamil memang gini." Ucap Tasya lirih.
"Tapi kenapa Kinan nggak ya, aku bersyukur banget Kinan baik-baik aja, yaudah ini di minum vitamin nya, aku mau balik ke acara Mbak Anggun."
Tasya mengangguk lemas, lalu Bian pergi ke tempat acara resepsi Anggun yang berada di kediaman Mamah nya.
Tasya duduk lalu menelfon seseorang.
"...................."
"Bagus, besok pasti ada kejutan besar, kamu ikuti terus Kinan jangan sampai 1 hal pun terlewat."
"...................."
Tasya mematikan panggilan itu lalu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Kinan kamu bukan apa-apa di mata Tasya, untuk nyingkirin kamu itu cuma hal kecil, bahkan kamu sendiri yang angkat tangan hahahaha...."
"Anak ku kita akan hidup senang-senang bersama Papa mu yang bodoh itu hahahaha...."
Tasya membuka lemari lalu berganti pakaian.
"Shoping day...."
Teriak nya riang, Tasya keluar kamar dengan penampilan modis nya.
Ibu menghampiri Tasya.
"Kamu mau kemana Nak ?"
"Shoping Buk, Ibu mau aku beliin apa."
"Nggak usah Nak, Ibu cuma minta kamu hentikan sandiwara ini ketahuilah nak, rumah tangga yang diawali dengan kebohongan akan jalan tidak baik."
"Ibuk kebiasaan ceramah lagi ceramah lagi !! Hihh... Usil."
Bentak Tasya lalu ia meninggalkan Ibu nya yang sudah berkaca-kaca menahan tangis.
🍃🍃🍃
__ADS_1
Mamah sedang sibuk menyalami para tamu yang hadir, dengan di temani Om Ardi sebagai pengganti posisi Papah Anggun.
Sedangkan Anggun bibir nya tidak henti-hentinya tersenyum melihat Anggun sebahagia itu Alfat sangat bersyukur kepada Allah sesekali di genggam erat tangan Wanita cantik yang telah menjadi istri nya itu.
Bertahun-tahun menanti Anggun membuka hati nya akhir nya kini Anggun menjadi milik nya seutuhnya.
Dari jaman mereka kuliah kedokteran Alfat sudah mendekati Anggun, namun Anggun selalu menolak Alfat karena ingin fokus pada karir nya terlebih dahulu untuk membanggakan keluarga dan Mamah nya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:30 lantunan suara Azan terdengar merdu membuat hati orang yang mendengarkan nya menjadi tenang dan damai.
Pengantin termasuk para orang tua yang mendampingi memutuskan untuk beristirahat untuk melaksanakan kewajiban sholat 5 waktu.
Mamah menghampiri Wisnu yang duduk di jejeran kursi tamu.
"Nak, Mas mu Bian di mana ?"
"Ada Mah, tadi Wisnu liat."
Mamah memperhatikan Wajah lesu Wisnu.
"Ada apa ?" Tanya Mamah lembut.
"Nggak ada Mah Wisnu cuma capek."
"Yasudah istirahat."
Wisnu mengangguk sembari tersenyum.
Saat Mamah akan meninggalkan Wisnu ia baru teringat sesuatu.
"Wisnu apa Kinan tidak datang."
"Dateng Mah, tapi mungkin buru-buru nggak sempet nemuin Mamah."
"Kenapa Mamah nggak liat ya."
Wisnu menggeleng. seakan menjawab jika dia tidak tau.
"Yasudah Mamah mau istirahat."
Wisnu menatap nanar punggung Mamah nya yang semakin menjauh, ia memutuskan untuk mengirim suatu pesan kepada pengacara yang ia pilih untuk mendampingi Kinan.
"Kenapa gue bisa seperduli ini ke orang lain, rasanya gue nggak terima Kinan di sakitin, padahal kalo di fikir-fikir ini kan masalah rumah tangga mereka."
"Mungkin karena yang nyakitin dia Abang gue sendiri, gue merasa bertanggung jawab aja." Gumam Wisnu.
"Wisnu..."
Wisnu mendongak.
"Hellen."
Wanita itu tersenyum lebar.
"Makasih loh udah undang gue."
Wisnu mengernyitkan kening nya.
"Gue nggak ngundang lo."
"Di medsos kan lo undangan Digital."
"Oh iya itu buat siapa aja yang mau."
"Gue mau, mengkanyah gue sekarang disini."
"Oh oke, nikmati hidangan nya ya."
"Okee..."
Ucap Wanita itu dengan centil nya.
__ADS_1
"Kenapa dulu gue bisa macarin cewek itu."
Gumam Wisnu sembari memperhatikan Hellen.