
1 minggu sudah baby Kafeel lahir di dunia, semakin hari berat badan Kafeel semakin bertambah kini berat nya sudah 2 kilo gram, dan Dokter akan memperbolehkan Kafeel pulang jika berat nya sudah di 2,8 kilo gram ke atas.
Sedangkan Kinan sudah di perboleh kan pulang di hari ke 4 setelah memastikan jahitan bekas operasi nya baik-baik saja, setiap hari Kinan datang ke rumah sakit untuk mengantar ASI untuk putra semata wayang nya.
Wisnu sudah kembali ke aktivitas nya semula, namun ia tidak melupakan kewajiban nya atas kasus yang menimpa Bian. Sebisa mungkin ia mencari keadilan untuk Kinan.
Namun benar kata orang jika hukum sudah kalah dengan uang, saat persidangan nanti jika Bian di jatuhi hukuman 1 tahun penjara saja Wisnu sudah sangat bersyukur, pengacara hebat yang mendampingi Bian rela di hujat karena bayaran Fantastis yang Bian sediakan.
Namun Wisnu sudah menyiapkan rencana lain jika Bian memang akan bebas dengan cepat, Wisnu akan membuat perusahaan Bian seakan-akan bangkrut, tapi sebenarnya semua nya aman di tangan Wisnu.
Wisnu berfikir perusahaan itu adalah hak Kafeel seutuhnya jadi siapapun tidak bisa menganggu gugat termasuk Tasya terkecuali Anak nya jika memang benar itu Anak Bian.
Wisnu akan melakukan serangkaian tes DNA secara diam-diam jika Anak Tasya sudah lahir nanti.
Dengan wajah cerah dan berseri-seri Kinan menenteng tas berisi ASI untuk putra nya, Kinan melihat Mamah sedang menyirami tanaman nya di halaman depan.
"Mah Kinan ke rumah sakit ya, Mamah mau ikut."
"Mamah hari ini belum bisa jenguk Kafeel, kepala Mamah sedikit pening Nak...."
"Kalo gitu Mamah istirahat di rumah ya, jangan lupa minum obat, Kinan berangkat, Assalamualaikum."
Kinan mencium tangan Mamah nya.
"Waalaikum salam."
Saat Kinan hendak naik mobil, ia melihat Frans datang.
"Frans...."
"Hay Nan, aku temenin kamu ke RS ya."
Kinan melirik Mamah, lalu Mamah mengangguk.
"Boleh..."
Frans tersenyum lalu mereka segera berangkat, sepanjang perjalanan mereka mengobrol seputaran bayi prematur, sesekali Frans mencuri pandangan kepada Kinan.
"Semoga BB Kafeel cepet nambah."
"Amin..." Jawab Frans.
"Kamu gimana, kapan buka perban nya?"
"Kata dokter 1 minggu lagi."
"Banyak-banyak makan telur sama ikan gabus, pasti cepet pulih."
"Iya Frans, selalu makan kok, Wisnu beliin stok banyak banget."
Frans melirik Kinan.
"Seberapa perduli Wisnu sama kamu."
"Alhamdulillah perduli banget Frans."
Jawab Kinan dengan santai.
"Kinan maaf ya, gimana sih perasaan kamu ke Bian sekarang."
"Kosong Frans, kalo aku inget wajah dia cuma sakit yang aku rasa."
"Aku akan obati rasa sakit itu."
Kinan tertawa.
__ADS_1
"hahaha... udah pinter gombal sekarang."
"Aku serius Nan."
"Fokus nyetir aja, di depan belok."
Frans membuang nafas nya kasar, kini mobil Frans sudah terparkir sempurna, mereka berjalan beriringan menuju ruangan Kafeel.
"Anak Bunda..."
Kinan menimang-nimang Kafeel, kini Kafeel sudah di boleh di keluarkan dari inkubator jika hanya sebentar.
Tanpa Kinan sadari Frans mengabdikan momen itu, Kinan fokus dengan Kafeel sedangkan Frans berada di dekat mereka, terlihat seperti keluarga kecil.
"Boleh aku gendong Nan."
"Boleh."
Frans mengambil alih Kafeel dari tangan Kinan.
"Lucu nya, udah mulai berisi badan nya ya Nan."
"Iya Frans Alhamdulillah, udah naik 3 ons, belum tau sekarang udah naik lagi apa belum."
"Perlahan tapi pasti Nan, yang penting sehat."
"Iya bener itu."
"Mirip kamu ya Nan."
"Masa mirip kamu Frans."
"Mirip aku nggak apa-apa, biar di kira aku Papa nya."
"Sidang nya Bian kapan Nan."
"Aku nggak tau dan nggak mau tau Frans, tanya Wisnu aja."
"Wisnu lagi."
Frans mencoba bersikap biasa saja walau sebenarnya ia nya sedikit kesal
Tidak terasa 2 jam lamanya Kinan dan Frans menjenguk Kafeel, waktu sudah menunjukkan pukul 10 siang, Kinan memutuskan mengajak Frans pulang karena hari ini Anggun dan Suami nya akan datang.
Sebenarnya besok adalah sidang Bian, namun Kinan cukup pura-pura tidak tahu, karena ia malas membahas Bian.
"Kita berhenti di market ya Frans, aku mau cari sesuatu."
"Siap putri."
Kinan tertawa lucu mendengar nya.
"Mau cari apa ?"
Tanya Frans, tangan Kinan sibuk memilih berbagai macam sayuran yang bagus untuk ibu menyusui.
"Banyak Frans, kalo di sebutin capek."
"Sebanyak itu??" Kinan mengangguk.
Ingin sekali Frans mengusap pucuk kepala Kinan, tapi nanti yang Kinan akan marah, Frans hanya mengikik kecil.
Beberapa saat kemudian Kinan sudah selesai belanja, Kinan mengajak Frans untuk segera pulang, namun Frans ingin mengajak Kinan mencari pakaian untuk Kafeel, Kinan menolak dengan alasan baju Kafeel sudah banyak namun Frans memaksa akhir nya Kinan pasrah ikut.
" Lucu banget ini Nan, bagus ya untuk Kafeel."
__ADS_1
"Jumper ya, Kafeel udah banyak, Wisnu beliin banyak banget Frans."
Tanduk di kepala Frans hampir keluar, namun ia langsung mengingat untuk sabar.
Ini rintangan Frans.
Frans mencoba tersenyum lalu memutuskan untuk membeli stroller, yang ia yakini Kafeel belum punya. Akhir nya Frans membeli stroller, beberapa mainan untuk Kafeel.
Di perjalanan pulang Kinan dan Frans masih saja berdebat, kali ini Frans sangat kesal dengan Kinan karena memilih stroller dengan harga murah untuk Kafeel.
"Aku nggak suka ngehambur-hamburin uang Frans."
"Tapi kan uang aku Nan, aku cuma pengen ngasih yang terbaik untuk Kafeel."
"Nggak perlu mahal yang penting kan nyaman nya, coba bayangin stroller harga segitu bisa buat kamu sedekah, bisa buat kamu ngasih makan banyak orang, kamu dapet pahala dan bisa bikin perut saudara kita yang lain kenyang, banyak orang kelaperan di luar sana Frans."
"Kinan kalau untuk sedekah itu udah keluarga aku lakuin Insya Allah setiap hari, untuk kebutuhan dan sedekah itu beda."
"Inti nya aku nggak suka ngehambur-hamburin uang untuk hal yang kurang penting Frans."
"Kenapa sih Nan!"
"Karena aku terlahir dari keluarga miskin Frans."
Frans memijit kening nya, sisa perjalanan mereka di habis kan dengan keheningan, setelah sampai tujuan Kinan segera meminta Fina untuk membawa masuk belanjaan, dan segera masuk, Frans membawa stroller untuk Kafeel dan menyusul masuk.
Kinan melihat Anggun dan Alfat sudah tiba, mereka sedang asik mengobrol di temani Mamah dan Wisnu, Anggun segera menghampiri Anggun dan Alfat lalu menyalami mereka bergantian, begitu juga dengan Frans.
"Mbak Anggun kapan sampai ?"
"Belum lama Nan, maaf ya Mbak baru bisa dateng sekarang, selamat sekarang kamu udah jadi seorang Ibu."
"Nggak apa-apa Mbak, makasih Mbak udah nyempetin dateng."
"Iya Nan."
Lalu Kinan duduk di dekat Mamah di susul Frans di dekat nya, karena merasa jarak mereka terlalu dekat Kinan sedikit menggeser duduk nya.
Anggun dan Alfat saling melirik, ada apa dengan Adik mereka fikir Anggun.
"Kamu beli stroller untuk Kafeel Nan??" Tanya Wisnu.
"Bukan, Frans yang beli."
"Oh."
Jawab Wisnu singkat, melihat situasi yang kurang baik Frans memutuskan untuk pamit pulang, Wisnu ikut berdiri dengan alasan mengantar Frans sampai depan.
"Lo apain Kinan?"
"Gue apain ?, nggak ada."
"Sekali nya jalan nggak bisa buat dia seneng mending lo mundur dari sekarang."
Frans menatap Wisnu.
" Apa maksud lo, nyuruh gue mundur biar lo dengan mudah maju."
"Itu lo tau."
Wisnu tersenyum sinis lalu kembali masuk, Frans masuk mobil dengan kesal.
Jangan lupa Vote, jempol dan Hadiah nya
Episode selanjutnya sidang nya Bian... dukung terus PJ biar Author tambah semangat ya, Author sangat Menerima saran ya gays, jika ada yang salah mohon ingat kan 🙏🏻🙏🏻🙏🏻
__ADS_1