Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 38


__ADS_3

Bian pulang ke Apartemen nya, fikiran nya sangat kacau saat ini, ia melangkah memasuki Apartemen yang sudah lumayan lama tidak di datangi nya semenjak ia mengajak Kinan pindah ke rumah orang tua nya dan berakhir perpisahan.


Ia melihat balkon yang menjadi tempat favorit Kinan, lalu melangkah ke dalam kamar yang terlihat sedikit berdebu, Bian mengibas-ngibas kasur empuk nya dengan tangan, setelah di rasa cukup ia segera merebahkan tubuh nya.


"Kurang ajar kamu Sya, ternyata dua wanita itu sama saja, pelac*r murahan kalian, sialan !!"


"Akhhh...."


Bian menjambak rambut nya sendiri, tapi tiba-tiba ia teringat wajah Kafeel.


"Anak siapa sebenarnya bayi kecil itu, apa aku tes DNA saja, kenapa aku sangat susah melupakan wajah nya."


"Kafeel, nama yang bagus."


Bian bergumam sembari mencari media sosial milik Wisnu, ia yakin pasti banyak foto Kafeel kecil di sana, dan yap tebakan Bian benar, ada beberapa foto Kefeel di sana dan di banjiri komentar dari netizen yang banyak menyalahkan dirinya atas apa yang di alami Kafeel saat ini.


"Mereka hanya melihat di depan layar, nyatanya Kinan lah yang salah."


Bian masih tidak mau kalah dan ego nya yang tinggi.


"Kafeel Rezky Artama."


Hati Bian bergetar saat membaca nama lengkap Kafeel, kenapa hati nya menjadi pilu, hati kecil nya ingin sekali berkata ini Ayah sayang.


Jantung Bian berdegup lalu ia menyambar kunci mobil nya dan segera turun menuju parkiran lalu melajukan mobil nya dengan kecepatan cukup tinggi.


🍃🍃🍃


Sementara Kinan sedang duduk sembari memperhatikan Wisnu yang sedang menimang sayang Kafeel sembari bersholawat nariyah, jika Kafeel sedang rewel dan di perdengarkan sholawat nariyah pasti ia akan tenang.


"Allahumma shali shalaatan kaamilatan wasallim salaaman taamman 'alaa sayyidina muhammadinil ladzii tanhallu bihil 'uqodu wa tanfariju bihil kurabu wa tuqdhaa bihil hawaa-iju.


Wa tunaalu bihir-raghaa-ibu wa husnul khowaatimi wa yustasqal ghamaamu bi wajhihil kariimi wa 'alaa aalihii wa shohbihi fii kulli lamhatin wa nafasin bi 'adadi kulli ma'luumin laka."


Artinya: "Wahai Allah, limpahkanlah rahmat dan salam yang sempurna kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga terurai dengan berkahnya segala macam buhulan dilepaskan dari segala kesusahan, tunaikan segala macam hajat, dan tercapai segala macam keinginan dan husnul khotimah. Dicurahkan air hujan (rahmat) dengan berkah pribadinya yang mulia. Semoga rahmat dan salam yang sempurna itu juga tetap tercurah kepada para keluarga dan sahabat beliau, setiap kedipan mata dan hembusan nafas, sebanyak bilangan yang diketahui oleh Engkau."


"Pinter nya Anak sholeh, langsung bobok lagi, bobok di inkubator lagi ya sayang biar hangat."


Wisnu kembali menyerahkan Kafeel kepada suster, Kinan kini berbincang dengan suster tentang perkembangan Kafeel.


Sementara Wisnu sibuk mengecek ponsel nya yang sepertinya ada beberapa pesan masuk, Wisnu mengernyitkan kening nya membaca pesan itu.


Lalu ia melirik Kinan, ada apa sebenarnya....


"Kinan."


Kinan menengok ke arah Wisnu.


"Iya."


"Bian mau datang kesini, kayak nya mau jenguk Kafeel."


Kinan tersenyum tipis namun sangat terlihat bahwa dirinya gelisah.


"Hah, kesambet apa dia??"


"Kalo nggak macem-macem silahkan Nu." Lanjut Kinan lagi.


"Kamu yakin?" Kinan mengangguk.

__ADS_1


"Kita tunggu di luar Nan."


"Kenapa?"


"Nggak kenapa-napa, yaudah aku keluar ya."


"Iya."


Wisnu melangkah lalu duduk di kursi depan ruangan Kafeel, tak lama benar saja Bian datang ke arah ruangan Kafeel, Wisnu pura-pura tidak mengerti apapun.


"Ada apa lo kesini, Mamah di rumah, nggak ikut kesini."


"Mas bukan mau cari Mamah, tapi mau ketemu Kafeel."


"Tau dari mana lo nama Anak Kinan."


"Sesuatu yang nggak penting nggak perlu di bahas, Mas masuk."


Namun langkah Bian terhenti saat pintu terbuka sebelum ia membuka nya, dan ternyata Kinan keluar, Bian menjadi salah tingkah.


Kini mereka saling berhadapan dan hanya berjarak kurang lebih setengah meter saja, namun dengan percaya diri dan nada bicara sombong nya ia meminta izin kepada Kinan untuk bertemu Kafeel.


"Saya mau ketemu Kafeel."


"Boleh, tapi anda jangan macam-macam, ingat hak asuh Kafeel sepenuhnya ada di tangan saya, ingat juga jika kamu tidak mengakui dia!!!."


Kinan menatap tajam Bian, dan Wisnu kini sudah berdiri hendak menenangkan Kinan, emosi Bian memuncah, Bian mengangkat tangan nya untuk menunjuk wajah Kinan, namun Kinan mengeluarkan reaksi tidak terduga.


Dengan sigap Kinan memeluk Wisnu.


"Jangan pukul aku!!"


Kinan ketakutan sembari memeluk Wisnu erat, rupanya trauma Kinan kembali lagi saat Bian mengangkat tangan nya, yang di kira Kinan hendak memukul nya.


Wisnu mengusap keringat di kening nya.


"Kinan, its oke, kita pulang ya."


Wisnu mencoba melepas pelukan Kinan, Kinan mengangguk.


"jangan apa-apakan Anak saya."


Kinan bicara tanpa melihat wajah Bian lalu segera melangkah pergi, dan Wisnu menyusul.


Kinan sampai di mobil terlebih dahulu, ia menangis sejadi-jadi nya.


"Rupanya trauma itu belum hilang."


"Aku takut Nu, maaf aku tiba-tiba peluk kamu, aku udah kurang ajar."


"Kenapa kamu ngomong gitu Nan." Lirih Wisnu.


"Aku merasa bersalah, aku lancang."


Wisnu menghembuskan nafas nya.


"Kinan, Kafeel butuh sosok Ayah."


"Aku tau Nu, tapi Ayah nya pun nggak nganggep dia." Lirih Kinan.

__ADS_1


"Aku mau yang terbaik untuk Kafeel, dia harus dapet Ayah yang bener-bener sayang sama dia."


Kinan hanya diam menunduk.


"Kinan, ayo kita saling menyatukan kekurangan dan kelebihan untuk jadi orang tua yang baik untuk Kafeel."


"Maksud kamu apa?"


Kinan menatap wajah Wisnu yang memandang kosong ke arah tangan nya yang menggenggam erat setir.


"Aku akan menikahi kamu, kita besarkan Kafeel sama-sama."


Kinan menggeleng.


"Kamu jangan main-main Nu, pernikahan itu bukan mainan, aku nggak mau gagal untuk yang kedua kali nya, dan kamu nggak mikirin perasaan Hellen."


Wisnu memandang Kinan.


"Hellen sahabat ku Nan, kami nggak ada hubungan spesial."


"Carilah wanita lain, nggak pantes buat kamu."


"Kenapa kamu ngomong gitu, kamu sempurna, kamu bukan sampah, tapi laki-laki sampah lah yang udah nyia-nyiain kamu."


"Kita pulang." Kinan bingung harus mengeluarkan kata-kata apa lagi.


"Kamu fikirin lagi kata-kata ku, kalo kamu setuju secepatnya aku minta Mamah nikahkan kita, kita udah sama-sama dewasa Nan, aku yakin kamu tau dari lama perasaan aku ke kamu, 6 bulan bukan waktu sebentar untuk aku meyakinkan perasaan ini."


"Apa kata public nanti."


"Yang jalanin kita bukan mereka, mungkin di awal rintangan nya akan seperti badai, kamu cuma cukup yakin aja, badai itu pasti akan berlalu dan berganti pelangi indah."


"Tapi Maaf Nu, untuk jalani rumah tangga lagi, aku belum siap."


Diam-diam Kinan menahan air mata nya yang sudah memberontak untuk meluncur di pipi mulus Kinan.


Kinan memandang ke arah luar jendela, Wisnu segera menjalankan mobil nya.


Sepanjang perjalanan pulang mereka hanya diam larut dalam fikiran nya masing-masing.


🍃🍃🍃


Bian kini sedang menimang bayi tampan yang di beri nama Kafeel itu, namun tiba-tiba handphone nya berbunyi.


Bian segera mengangkat panggilan masuk yang ternyata dari ibu mertua nya.


"Hallo Buk."


"Bian, Ibu mau bicara penting."


"Bicara apa Buk?"


"Ini tentang Tasya."


"Tentang Tasya."


"Iya Nak, sebenarnya Tasya......


Hayo penasaran nggak sama kelanjutan nya , jangan lupa kasih dukungan terus ya.

__ADS_1


Untuk kalian yang bingung kok udah 6 bulan meyakinkan perasaan, kan dari kehamilan Kinan memasuki 4 bulan Bian meninggalkan Kinan, dan Kinan mulai mengurus perceraian dan dari situ Kinan apa-apa sama Abang Wisnu yang tampan dan mempesona.😍


Aku jelasin lagi takut kalian kurang fokus baca nya, soal nya di episode itu Author Percepat hehe 😊


__ADS_2