
Rafa berjalan dengan gagah nya, pagi ini Rafa di utus oleh Bian untuk menemui Mamy Angel.
Rafa masuk dalam Club lalu mengedarkan pandangan nya mencari keberadaan Mamy Angel.
Salah satu karyawan melihat Rafa lalu menawarkan bantuan.
"Ada yang bisa saya bantu Tuan."
"Di mana Angel, katakan Rafa akan berbicara penting padanya."
"Akan saya panggilkan Tuan."
Karyawan itu segera memanggilkan Angel yang berada di ruangan nya.
Angel yang mendengar Rafa akan menemui nya segera turun.
"Ada apa Tuan?"
Rafa segera berbalik saat mendengar suara Angel.
"Aku hendak bicara privasi."
Mamy Angel menuntun Rafa ke lantai dua, kini mereka sudah berada di ruangan Angel.
"Angel. Tuan Bian menginginkan Wanita itu untuk menjadi milik nya."
Mamy Angel terlihat kaget mendengar nya. Setelah berfikir sejenak Mamy Angel membuka suara.
"Saya tidak bisa Tuan, sudah banyak yang membooking Kinan."
Rafa melihat wajah Mamy Angel.
"Kamu ingin main-main dengan Tuan Bian."
Angel hanya diam.
"Besok Club mu ini akan di tutup oleh pihak berwajib."
Rafa pergi meninggalkan Angel.
"Tunggu Tuan, jangan lakukan itu."
Rafa tersenyum kemenangan. Di keluarkan nya cek lalu menuliskan nominal tiga ratus juta.
"Ambil."
Mamy Angel menerima nya dengan terpaksa, karena dia bisa menerima berlipat-lipat jika Kinan tetap milik nya.
Rafa meninggalkan Club dan kembali masuk dalam mobil nya.
Rafa segera menghubungi Bian.
"Hallo Tuan, sudah beres."
"................."
"Baiklah."
🍃🍃🍃
Bian sudah segar dengan pakaian santai nya, hari ini adalah weekend.
Bian melihat Kinan masih berpetualang di alam mimpi nya.
"Gadis ini malas sekali."
Bian memutuskan untuk membangunkan Kinan.
"Hey... Kinan."
Kinan mengerjapkan matanya.
"Mandi sana saya akan bicara penting kepada mu."
"Iya Tuan, maaf saya terlalu lelah."
Saat Kinan akan turun dari ranjang Kinan merasa kan perih di area sensitif nya.
Kinan masuk dalam kamar mandi, lalu meraba Mrs.v nya.
"Bengkak, ganas sekali Tuan itu."
Kinan segera membersihkan diri nya dan memakai dress yang kemarin karena tidak ada ganti.
Setelah di rasa segar Kinan segera menemui Bian di ruang tamu.
__ADS_1
Ternyata Bian sudah bersama Rafa.
"Duduklah."
Kinan segera duduk di sofa berhadapan dengan Bian dan Rafa.
"Saya sudah membebaskan kamu dari mucikari itu." Ucap Bian
"Benarkah Tuan, saya sangat berterimakasih Tuan."
"Kamu jangan senang dulu, kamu bebas dari mucikari itu tapi sekarang kamu menjadi milik saya.
Saya mengabulkan permintaan kamu yang tidak sanggup melayani banyak Pria, dan sekarang kamu cukup melayani saya."
"Maksud nya apa Tuan. maaf Tuan saya belum mengerti."
Bian menghembuskan nafas kasar.
"Jelaskan Fa."
"Saya telah membeli kamu dari mucikari itu untuk Tuan Bian senilai tiga ratus juta."
"Jadi sekarang kamu adalah milik Tuan Bian."
"Selama yang Tuan Bian mau."
Kinan kini mengerti, lepas dari kandang macan kini ia masuk dalam kandang buaya.
"Tandatangani ini, silahkan baca poin-poin nya terlebih dahulu."
Rafa menyerahkan selembar kertas kepada Kinan.
Kinan menerima nya lalu membaca dengan teliti.
"Tidak usah dengan surat ini juga saya tidak akan kabur Tuan."
"Saya cukup meminta satu pada Tuan, pertemukan saya dengan Ayah dan Adik saya satu kali ini saja."
"Baiklah, bukan hal yang sulit."
Bian langsung menyanggupi permintaan Kinan.
"Satu lagi, saya cukup mengerti agama, saya akan menikahi kamu secara siri, dari pada berbuat dosa sepanjang hari lebih baik saya menikahi kamu."
"Tapi kamu jangan berharap lebih, kamu harus sadar siapa kamu dan Karena apa saya menikahi kamu."
"Kamu tidak bisa meninggalkan Apartemen ini tanpa seizin saya."
"Semua kebutuhan kamu saya yang akan menanggung sebagai Suami kamu, selama saya masih menyentuh mu, selama itu juga saat akan memberi nafkah kepada kamu. Mengerti ?"
"Iya Tuan, saya mengerti, kapan kita bisa menemui Ayah saya."
"Sekarang akan saya antar."
"Gantilah pakaian mu dan setelah kita menemui Ayah mu kita akan meminta nya menikahkan kita."
"Baiklah, tapi saya hanya punya pakaian ini Tuan."
"Nanti cari, ayo kita berangkat."
🍃🍃🍃
"Mobil mu tidak bisa masuk Tuan. Gang nya terlalu sempit."
Ucap Kinan saat berada di depan gang menuju rumah nya
"Saya akan cari tempat parkir Tuan." Ucap Rafa.
"Bolehkan saya duluan kesana Tuan, nanti Tuan lurus saja belok kiri dan ada rumah minimalis cat kuning itulah rumah Ayah saya."
"Silahkan...."
Kinan tersenyum gembira dan segera berlari menuju rumah nya.
Sampai di depan rumah nya Kinan melihat pintu terkunci.
"Apakah Ayah masih di RS. Aku tanya tetangga saja."
Kinan melangkah ke arah rumah tetangga nya
"Assalamu'alaikum Bude."
"Wa'alaikum salam."
Tetangga Kinan keluar saat mendengar ada yang mengucapkan salam.
__ADS_1
Dia sangat kaget melihat Kinan ada di depan rumah nya.
Kinan tersenyum dan langsung bertanya keberadaan keluarga nya.
"Bude, Ayah Kinan di mana, apa belum pulang dari RS."
"Dasar Anak durhaka... pergi kamu, saya sangat muak melihat wajah mu, Anak tidak tau diri !!"
Tetangga Kinan berbicara dengan suara yang cukup keras membuat tetangga yang lain nya menghampiri mereka.
Kini mereka telah mengerumuni kinan
"Maksud Bude apa."
"Jangan pura-pura tidak tahu kamu Kinan."
Tetangga yang lain nya ikut menyauti.
"Kinan hanya ingin bertemu Ayah dan Nasywa Bude."
Plakk...
Satu tamparan mendarat di pipi Kinan.
"Ada apa ini, kenapa kalian menghakimi nya."
Bian yang baru saja datang langsung di suguhi pemandangan tamparan keras di pipi Kinan.
"Owhh... ini Laki-laki yang membuat kamu kabur itu."
Ucap tetangga Kinan yang lain saat melihat kedatangan Bian Dan Rafa.
"Aku tidak seperti itu."
Kinan membantah ucapan para tetangga nya.
"Cukup !! Bisakah kalian tidak bicara bertele-tele, bicara lah dengan jelas ada apa ini, dan di mana keluarga Kinan."
Kali ini Rafa berbicara dengan lantang.
"Hari di mana kamu kabur dengan Laki-laki, Ayah mu terkena serangan jantung dan akhir nya meninggal dunia."
"Dan itu semua karena kamu, benar-benar anak durhaka kamu Kinan, Ayah mu sedang sakit kamu malah asyik berbuat zinah."
Mendengar semua itu Kinan merasa bagaikan tersambar petir pandangan nya kabur, akhirnya Kinan jatuh pingsan
Bian langsung menangkap tubuh Kinan
"Kinan... Kinan..."
Bian mencoba menyadarkan Kinan
"Bisakah kita membicarakan ini secara kekeluargaan, bukan dengan cara menghakimi seperti ini, kita luruskan masalah ini, karena anggapan kalian itu belum tentu benar !!!."
Rafa ikut tersulut emosi melihat Ibu-ibu itu seenaknya menghakimi Kinan.
Ibu yang di panggil Bude oleh Kinan akhir nya mempersilahkan Bian membawa Kinan yang tak sadarkan diri masuk ke dalam rumah nya.
Bian merebahkan Kinan di atas sofa
Tak lama ketua RT setempat datang karena mendapat laporan dari salah satu warga jika Kinan datang dan terjadi keributan.
Mereka langsung berbicara pada inti masalah nya.
"Saya ketua RT di disini, sebelum nya saya mau bertanya, anda berdua ini siapa nya Kinan."
Rafa melihat Bian, ia bingung dengan jawaban yang di berikan untuk pertanyaan Ketua RT.
"Saya adalah calon Suami Kinan Pak RT. saya Bian dan ini Asisten saya Rafa."
Ibu-ibu yang berada di sana cukup kaget mendengar jawaban Bian.
"Tujuan kami kesini untuk menemui Ayah Kinan dan meminta restu kepada beliau."
"Maaf sebelum nya apa benar Ayah Kinan telah meninggal dunia Pak RT." Tanya Bian serius.
"Itu benar, Hari di mana Ibu Ningsih mengantarkan Kinan untuk bekerja dan ternyata Kinan kabur dengan seorang Pria saat itulah Ayah Kinan syok mendengar nya, beliau terkena serangan jantung lalu meninggal dunia pada hari yang sama."
"Tapi siapa yang mengatakan jika Kinan kabur dengan Laki-laki." Tanya Bian lagi.
"Ibu Ningsih, beliau adalah Ibu tiri Kinan." Jawab Pak RT.
"Maaf sebelum nya Pak RT, dan Ibu-ibu semua, saya rasa ada salah faham yang cukup serius disini."
"Maksud Pak Bian apa." Tanya Pak RT.
__ADS_1
"Sebenarnya Kinan tidak kabur dengan Laki-laki, ucapan Ibu tiri Kinan itu tidak benar."
Warga yang menyaksikan sidang kecil itu sangat kaget.