Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 39


__ADS_3

"Semua yang menyebabkan kehancuran rumah tangga kamu itu Anak ibu, Tasya."


"Maksud ibu apa ?"


Ibu Tasya pun mulai menceritakan semua yang telah Tasya perbuat untuk menggapai keinginan nya, sesekali Bian memijit kening nya.


"Terimakasih bu."


Bian menutup panggilan telfon itu, ia memandang wajah Kafeel, penyesalan mulai menyeruak di dada nya, terasa sesak dan berat.


"Maaf kan Ayah Nak, Ayah pamit ya, Ayah harus ketemu Bunda kamu."


Bian menyerahkan Kafeel kepada suster.


"Jaga baik-baik Anak saya suster."


Suster yang memang sering menjaga Kafeel pun membuka mulut nya.


"Owh, jadi anda Ayah Kafeel, baru kali ini jenguk ya pak."


Ucap suster itu dengan nada bicara yang sopan namun menohok hati.


"Iya, saya permisi."


"Baik."


Sepanjang perjalanan Bian terus terngiang-ngiang ucapan nya sendiri.


Jangan sebut anak haram itu anak ku


Dia bukan anakku


Aku sama sekali tidak perduli tentang hak asuh nya


Anak haram


Anak haram


Anak haram


"Maaf kan Ayah Nak.... maafin aku Kinan, Mamah..."


Bayangan orang-orang yang sudah di sakiti oleh nya kini memenuhi kepala nya.


"Bodoh !!!"


Bian menggenggam erat setir nya, sesekali ia merutuki kebodohan nya sendiri.


🍃🍃🍃


Kinan memasuki rumah dengan wajah yang muram, ia melihat sekeliling sepertinya Mamah sedang tidak ada di rumah, samar-samar Kinan mendengar suara Nasywa sedang tertawa riang.


Kinan melangkah mendekati kamar Nasywa, ternyata Nasywa sedang bermain bersama Mamah, sejak tinggal bersama Mamah Nasywa selalu di sibukkan dengan tugas sekolah dan BIMBEL.


Saat waktu sholat magrib tiba Nasywa sholat berjamaah di masjid dekat rumah dan di lanjutkan dengan mengaji bersama, semua kesibukan itu adalah permintaan Nasywa sendiri tampa paksaan siapapun.


Kinan tersenyum sembari bersyukur kepada sang maha pencipta di pertemukan dengan keluarga ini.


Sedangkan Wisnu masih saja berdiri di dekat mobil nya.


"Apa tadi terlalu cepat." Batin Wisnu.


Hati nya menjadi gelisah karena sikap Kinan berubah drastis kepada nya, Wisnu mendengar suara mobil memasuki gerbang, ia menengok lalu memutar bola mata nya malas, ia hafal mobil siapa itu.


"Pake dateng segala." Gumam Wisnu kesal.

__ADS_1


Ternyata itu adalah mobil Frans, Frans melangkah menghampiri Wisnu lalu mengulurkan tangan nya.


"Gimana kabar lo?"


"Baik." Jawab Wisnu singkat.


"Kinan ada?" Tanya Frans lagi.


"Nggak ada!" Lalu melipat kedua tangan nya dan bersandar di mobil.


"Dosa lo bohong."


"Kalo ada lo mau apa ? Bikin dia nangis."


"Lo kenapa kagak seneng gua deket sama Kinan."


"Kata siapa."


Wisnu hendak melangkah meninggalkan Frans namun Frans mencegah.


"Gua belum selesai ngomong, jawab dulu."


Wisnu menatap Frans tajam.


"Jauhin Kinan, dia milik gua !"


Frans tersenyum sinis sembari melihat tangan nya di dada.


"Udah gua duga, lo harus sadar gua terlebih dahulu kenal Kinan jauh sebelum lo kenal dia."


"Cinta itu bukan soal kapan dan kenapa seseorang saling mengenal."


Ckittt.....


Suara rem mobil kembali terdengar sangat jelas seperti berhenti kendaraan mendadak dari pelajuan, Bian datang dengan sedikit berlari, langkah nya terhenti saat melihat wajah tegang Wisnu dan Frans.


"Heh, ngapain lo kesini, laki-laki dakjal !"


Frans bertegak pinggang di depan Bian.


"Ngapain nyari Kinan, mau lo apain lagi dia ?"


"Gua mau minta maaf, gua udah tau semua nya sekarang."


Bian menceritakan tentang ibu Tasya yang menceritakan semua nya tentang Tasya.


"Rumah tangga lo hancur sepenuhnya bukan kesalahan Tasya, tapi karena kebodohan lo sendiri, di saat lo ngehakimi Kinan karena kesalahan yang sama sekali nggak dia lakuin di situlah luka hati yang udah lo toreh nggak akan bisa hilang, lo liat kaca itu."


Wisnu menunjuk kaca rumah mereka, Bian langsung menengok begitupun dengan Frans.


"Lo ambil batu, lo lempar."


"Ya pecah lah." Jawab Bian heran.


"Gitu juga Kinan, dia ibarat kaca itu, lo lempar dan pecah, mau gimanapun lo usaha untuk perbaiki pasti nggak akan bisa sempurna dan utuh kayak semula."


Bian menunduk kan kepala nya, yang di katakan Wisnu memang benar, namun ia tidak patah arang.


"Gua akan coba." Yakin nya.


"Bersaing lah secara sehat, siapapun di antara kita bertiga yang bisa luluhkan hati Kinan nanti itulah pemenang nya."


Frans memberi usul, namun Bian justru kaget mendengar perkataan Frans, Bian bukan kaget karena Frans menyukai Kinan karena ia sudah tau, tapi kata "kita bertiga."


Bian menatap Wisnu, Wisnu pun balas menatap Bian, kini Bian mengerti bahwa Wisnu menyukai Kinan.

__ADS_1


"Sama lo mungkin gua oke aja, tapi untuk bersaing sama dia, cih.... sama sekali lo udah nggak pantes untuk Kinan, gua tau betul kayak gimana lo buang Kinan ibarat sampah."


"Gua minta maaf, gua khilaf."


Bugh....


Satu Bogem mendarat di pipi Bian.


"Dengan mudah nya lo minta maaf bang*at !! lo tau nyawa Kinan dan Kafeel hampir melayang karena kebodohan lo, bodoh !! bener-bener bodoh lo, jijik gua liat muka lo."


"Gua salah, gua sadar, jadi gua harus ngomong apa selain minta maaf !! gua juga nyesel."


"Nyesel lo bilang....."


Wisnu hendak mendaratkan bogem untuk ke 2 kali nya namun Wisnu berhenti saat mendengar suara Kinan menghalang nya.


"Stop Wisnu, jangan kamu buat kotor tangan mu yang bersih itu."


Kinan datang menghampiri mereka seorang diri, sementara Mamah menemani Nasywa di dalam kamar agar tidak melihat keadaan genting itu.


Wisnu melepas cengkraman tangan nya, Bian pun berdiri sembari merapih kan kemeja nya, sementara Frans tidak berkata-kata lagi karena ia baru tahu jika Wisnu ternyata sangat garang.


"Aku kasih dia pelajaran, muak aku Nan !!"


"Dia masih harus tetap hidup Nu, karena tuhan sudah siap dengan karma yang akan di terima nya, jika dia mati kita tidak bisa melihat dia merasakan karma itu."


Ucap Kinan santai, Frans menelan ludah nya sendiri, kata-kata Kinan cukup menyeramkan.


"Kamu bener."


Wisnu sangat bangga dengan ketegaran Kinan saat ini, mungkin karena sudah ada Kafeel sebagai penyemangat nya.


Kinan tersenyum.


"Frans, Wisnu ayo masuk, pas banget tadi aku habis beli cemilan lumayan banyak, kita makan bareng-bareng sama Mamah dan Yang lain nya pasti jadi lebih nikmat."


Kinan melangkah memasuki rumah tanpa menghiraukan Bian, Wisnu dan Frans mengikuti langkah Kinan dan meninggalkan Wisnu.


Di balik kaca Mamah tersenyum.


Flash back on.


"Mamah, Kinan kira nggak di rumah, tau nya disini."


"Iya Nak, ini Nasywa ada tugas buat puisi jadi Mamah ajarin buat puisi."


"Iya Kak, Mamah bagus buat puisi nya."


Ucap Nasywa sembari memperlihatkan puisi yang sudah di tulis nya hasil dari ajaran Mamah.


"Iya Dek...."


Senyum Kinan memudar saat mendengar ribut-ribut di luar, ia dan Mamah langsung berdiri, mereka kaget saat melihat tiga laki-laki sedang cekcok.


Mamah yakin Wisnu akan berbuat jauh ia meminta Kinan keluar dan membisikkan sesuatu kepada Kinan.


"Haa..... Kasar sekali Mah."


"Ikuti saja sayang, kamu percaya Mamah kan."


Kinan mengangguk.


"Ayo, kamu pasti bisa."


Kinan pun menemui mereka bertiga.

__ADS_1


Flash back off.


__ADS_2