
Jangan lupa mampir ke karya baru Author ya, judul nya Radja Cahaya.
Terimakasih, salam sayang untuk kalian semua, semoga kalian sehat selalu dan di limpahkan rezeki nya, Aamin 🤲
"Aya nggak bisa ikut, bisa-bisa bos Aya marah kalo kebanyakan izin, kerjaan juga bisa numpuk segunung, apalagi kalian mau lama di kampung nya." Jelas Cahaya kepada Ibu nya, yang selalu menggoda Cahaya untuk ikut.
"Ya kalo nggak lama gimana dek, inikan pertama kali nya Bibik ada acara besar, kamu tau nggak sih kalo sepupu kita mau nikah sama bos tanah di kampung, mahar nya mantep loh dek." Mata Airin Kakak Cahaya berbinar membayangkan jumlah mahar yang akan di terima saudara sepupu mereka.
Bola mata Cahaya melirik malas ke arah Airin.
"Helleh aku nggak iri tuh, wajar mahar nya besar, toh nikah nya sama aki-aki udah punya cucu Kak, kalo nggak dapet mahar segitu ya rugi."
"Hahahaha...." Airin dan suaminya tertawa mendengar kata-kata Cahaya.
"Huss....kalian jangan gitu, mungkin ini memang udah takdir sepupu kalian." Ujar Ayah yang baru saja datang dari ruang tamu.
"Cahaya, kamu jaga diri baik-baik ya nak, Ayah mah nggak takut ninggalin kamu lama-lama karena kamu anak mandiri."
"Ehm....anak kesayangan." Sindir Airin.
__ADS_1
"Tidak ada anak kesayangan, Papa dan Mama sayang anak-anak kami semuanya."
Cahaya bergelayut manja di tangan Papa. "Kalo Abang sayang duit nya aja Pa, kan Abang nggak pernah pulang hehehe."
"Jangan begitu Aya."
"Hehe iya Pa, minggu depan udah pulang kan Pa?." Tanya Cahaya kepada Ayah nya.
"Ins ...."
"Papa! tolong angkatin koper ini!!" Belum selesai menjawab Cahaya, terdengar suara Mama memanggil.
******
Waktu keberangkatan tiba.
"Ba-Bye Dion sayang, kesayangan nya Aunty baik-baik ya di sana, di jalan nya jangan rewel, muaach..." Cahaya mengecup pipi gembul keponakan nya yang baru berusia 6 bulan.
"Oke Aunty Aya." Airin mewakilkan jawaban untuk Cahaya.
"Dah sayang, jangan telat makan, jangan keluar malem, jangan tidur malem-malem, nanti masuk angin siapa yang ngurusin kalo Mamah nggak ada."
__ADS_1
"Iya Mah, bawel deh, Aya udah dewasa lo." Sungut Cahaya kesal.
"Ayo kita berangkat!!." Pekik Alsyad, suami Airin.
"Hati-hati di jalan ya pak supir, jangan lupa oleh-oleh nya."
"Siap...nanti di beliin dodol." Ujar Alsyad kepada Cahaya.
"Dasar tukang ngemil." Airin geleng-geleng melihat Suami dan Adik nya yang selalu membahas makanan jika bertemu.
Akhir nya Ayah, ibu, Airin, Alsyad, dan Dion berangkat menuju garut, meninggalkan Cahaya seorang diri, Cahaya juga mengeluarkan motor matic kesayangan nya dan bergegas menuju kantor.
Di kantor juga Cahaya di kenal baik oleh teman sekantor yang mengenal nya, Cahaya sangat periang dan ramah, wajah nya pun cantik, dengan kulit putih, mata coklat dan rambut hitam sebahu.
Banyak laki-laki yang ingin berkenalan, bahkan ingin meminang Cahaya, namun Cahaya menolak, dengan alasan ingin menikmati masa muda terlebih dahulu.
Itulah alasan jitu Cahaya, entahlah jika memang ada alasan tersembunyi dari Cahaya, mungkin hanya Cahaya dan Tuhan yang tau.
Kini Cahaya sudah berada di meja kerja nya, tak lupa 1 gelas coffe yang selalu menemani Cahaya di setiap pagi sebelum memulai pekerjaan.
"Yuk semangat yuk...." Terdengar Cahaya menyemangati diri nya sendiri.
__ADS_1