Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 20.


__ADS_3

"Kemana Wisnu bawa Nasywa ya Mas ?"


Tanya Kinan sembari membuka pasmina nya.


Bian memeluk Kinan dari belakang.


"Ke mall yank, tadi Wisnu WA Mas."


Jawab Bian sembari menciumi leher jenjang Kinan. Lalu Bian melihat kaca di hadapan mereka. Seperti ada yang berbeda dari Istri nya.


Bian berlutut di hadapan Kinan yang duduk di kursi.


"Kamu pintar dandan sekarang, cantik. My perfect Woman."


"Makasih Mas..."


Ucap Kinan sembari tersenyum manis.


"Siapa yang ngajarin dandan."


Dengan antusias kinan menceritakan kegiatan nya dan Mamah kemarin.


"Mas dari luar kota pulang nya kapan??"


Tanya kinan di sela-sela ceritanya.


"Emmhh... Tadi pagi yank."


"Mas Kinan pengen beli baju hamil boleh, perut nya mulai besar, aku fikir kalo pake baju hamil lebih leluasa."


"Ya boleh lah yank, nanti sore kita cari, kita ajak Nasywa, sekarang Mas mau ke kantor lagi, kerjaan Mas masih numpuk."


Bian membelai rambut panjang Kinan.


"Iya..."


"Yank rambut nya jangan di potong ya, kalo bisa lebih panjang lagi."


Bian sangat senang membelai rambut Kinan.


"Iya."


"Sayang kamu ikut aku ke kantor yuk, rasanya aku kangen banget sama kamu, pengen deket-deket kamu terus."


"Emang nya boleh Mas... Nanti aku ganggu lagi."


"Now, malah jadi penyemangat."


"Nasywa...."


"Nanti aku suruh Wisnu anter ke kantor."


Akhir nya Kinan mengangguk.


"Yaudah iya."


Bian memeluk istri kesayangan nya dengan erat.


Kinan segera bersiap Bian memperhatikan istri nya dengan bahagia.


Setelah siap mereka turun pamit dengan Mamah dan langsung menuju kantor.


Di mobil Kinan terus bercanda ria dengan Bian.


Melihat istri nya kini sudah bisa tertawa lepas Bian sangat bahagia, ia yakin ini karena kini Nasywa sudah bersama mereka.


"Mas, Wisnu suka Anak-anak ya..."


Tanya Kinan karena sedikit heran saat melihat Nasywa bisa secepat itu dekat dengan Wisnu.

__ADS_1


"Ya, Om Ardi adik nya Mamah punya Anak balita yank, Wisnu sering main ke JB ngontrol perusahaan, minep nya di rumah Om Ardi terus, karena dia suka sama Anak-anak Om Ardi."


"Kemarin waktu lamaran Mbak Anggun Om Ardi dateng sendiri Mas."


Kinan mengingat-ingat seperti nya Mertua nya Hanya mengenalkan Om Ardi padanya tidak dengan Anak dan Istri nya.


"Iya Anak Om Ardi yang bungsu masih nggak enak badan jadi nggak bisa ikut."


"Hahh... Anak bungsu, emang Anak nya ada berapa Mas ?" Kinan penasaran


"Ada Empat Yank, yang pertama baru masuk kuliah seumuran kamu kayak nya, yang ke dua kelas 1 SMA, yang ke tiga kelas 5 SD, yang ke 4 umur 3 tahun." Jelas Bian.


"Wah banyak juga Adik sepupu kamu Mas."


"Iya yank, alhamdulilah. Mamah cuma 2 bersaudara jadi kita harus kompak-kompak sama saudara Yank, biar terus terjalin dengan baik tali persaudaraan nya"


"Saudara dari Papa emang nya gak ada Mas?."


Senyum Bian langsung memudar.


"Jangan di bahas yank." Ucap Bian datar.


Ada apa Batin Kinan, apa ada yang salah dengan pertanyaan nya, selama ini Bian tidak pernah menceritakan tentang Papa nya.


"Maaf ya Mas..."


Kinan menggenggam tangan Bian.


"Its oke, jangan ulangi."


Senyum Bian kembali terpancar.


"Kita sampai."


Bian segera turun dari mobil dan membukakan Kinan pintu.


Bian menggenggam tangan Kinan dan melangkah masuk ke dalam area perusahaan.


Beberapa karyawan yang melihat Bian dan Kinan langsung bergosip ria.


"Safia, jangan biarkan siapapun masuk ke dalam ruangan saya, saya dan istri saya tidak ingin di ganggu."


Safia yang baru saja akan bertanya siapa wanita yang di bawa Bos nya kini merasa kaku saat mendengar Istri saya.


Melihat Safia bengong Bian melanjutkan langkah nya bersama Kinan.


Sementara Safia.


"Istri.... Jadi Pak Bian sudah menikah." Safia terduduk lemas.


"Ah masih ada Pak Rafa, Hmm... Tidak apa-apa."


Tiba-tiba wajah Rafa terbayang-bayang di antara kegalauan Safia.


"Kamu duduk di sofa ya sayang, Mas ambil laptop dulu."


Kinan mengangguk lalu duduk di sofa, Kinan memperhatikan ruangan Bian yang luas.


Bian datang dengan laptop dan berkas-berkas nya. Ia duduk lalu mengecup pipi Kinan dan membuka ponsel nya lalu mencari nama Wisnu.


"Di mana kalian."


"Di mall Mas, tugas sambil bawa Nasywa buat aku jadi leluasa." Ucap Wisnu hati-hati dan sangat pelan.


Bian bahagia karena Wisnu mau memanggil nya dengan sebuatan Mas kembali. Istri nya memang membawa berkah.


"Menyelam sambil minum air, Nanti kamu antar Nasywa ke kantor Mas ya. Nasywa mana."


"Ini kita makan es cream ya dek."

__ADS_1


Wisnu memperlihatkan Nasywa yang sedang asik makan es cream.


Lalu Kinan mengambil alih ponsel Bian.


"Nasywa jangan nakal sama Mas Wisnu ya." Nasihat Kinan.


"Iya kak, liat kak Nasywa di beliin mainan sama baju banyak. Mas Wisnu yang beliin."


Kinan tersenyum melihat Adik nya yang ceria. Tidak hanya diam dan menangis seperti sebelum nya.


"Iya, Yaudah kalian hati-hati dadah...."


"Dadah kak...."


Kinan menyudahi panggilan itu karena terganggu oleh serangga besar yang mengecup perut nya sedari tadi.


"Mas..." Kinan mencoba protes.


"Apa sih yank, Mas masih ciumin Anak kesayangan Mas nih..."


"Emang Anak kamu ada berapa, kok kesayangan."


Bian menelan ludah merutuki lidah nya yang sering keseleo.


"Ya satu... Yang masih anteng di perut Mamy ini."


Bian mengusap gemas perut Kinan yang mulai membuncit itu.


"Mas aku gak mau panggilan nya Dady sama Mamy."


"Kenapa yank, terus apa dong."


Kinan berfikir sambil tersenyum.


"Bunda, kalo mas terserah mau di panggil Dady juga gak apa-apa, tapi aku mau nya Bunda."


Bian memeluk istri nya.


"Oke Bunda, Ayah and Bunda, bagus juga."


"Lebih suka aja panggilan lokal Mas."


Bian tertawa mendengar kata-kata istri nya.


"Hahaha... Panggilan lokal. Mulai sekarang Mas panggil kamu Bunda aja deh, kamu panggil Mas Ayah ya."


"Nanti aja lah Mas, kalo udah lahir anak nya."


"Aku panggil kamu Bunda aja yank."


"Iya terserah .."


Mereka tertawa lepas lalu saling berpelukan erat.


"Ya Allah terimakasih engkau kirimkan bidadari dalam hidupku, untuk melengkapi kekurangan ku yang teramat banyak ini, Ya Allah lebih tebal kan tembok kesabaran nya menghadapi aku yang masih butuh banyak mengintrospeksi diri ini, tuntunlah hamba mu ini menuju jalan kebenaran... Amin...."


Kinan mendengar alunan suara Adzan yang merdu serta menyejukkan hati.


"Alhamdulillah, Kinan sholat dulu ya Mas eh Yah, Aku liat di kantor ini ada Mushola kan."


"Emh... Ayah juga mau sholat, Ayo kita sholat berjamaah sama Karyawan lain Bun."


Kinan berkaca-kaca mendengar Suaminya akan Sholat.


"Alhamdulillah ayo...."


Mereka berjalan beriringan menuju Mushola dan sholat berjamaah dengan para Karyawan nya.


Rupanya berita tentang Bian sudah beristri kini sudah menjadi trending topik kantor Exportir ini.

__ADS_1


Yah Safia memang hebat bukan mulut nya seperti toak Masjid yang bisa menyebar informasi dengan kilat.


__ADS_2