Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 31


__ADS_3

Kinan sedang duduk di tempat favorit nya, di rumah Mantan Ibu Mertua nya yang kini menjadi Ibu yang selalu ada untuk nya.


Kinan mendayung-dayung kan kaki nya di air kolam renang yang jernih dan dingin, hari ini adalah hari sabtu, hari yang membahagiakan bagi keluarga yang bahagia dan utuh, tentu itu tidak berlaku untuk Kinan.


Seperti biasa saat weekend Wisnu selalu membersihkan air ikan-ikan hias nya, tanpa sengaja Wisnu melihat Kinan yang selalu saja melamun di pinggir kolam.


Wisnu menghampiri Mamah nya agar membujuk Kinan mencari kegiatan yang menyibukkan diri nya, yang bisa membuat nya lupa akan Laki-laki yang kini sudah menjadi masa lalu nya itu.


1 minggu sudah perceraian Kinan dan Bian sah di mata hukum, namun Kinan masih saja teringat kenangan nya bersama Bian yang singkat.


"Kenapa aku harus selalu di dewasa kan oleh keadaan." Gumam Kinan.


"Kinan." Panggil Mamah lembut.


"Iya Mah." Kinan mendongak agar bisa melihat wajah Mamah.


"Kamu jangan ngelamun terus Nak, nggak baik buat kesehatan kamu, Mamah mau pergi arisan, kamu mau ikut." Ajak Mamah antusias.


Kinan menggeleng pelan.


"Ya sudah kamu hati-hati disini ya Nak, tunggu Nasywa pulang." Sudah Mamah duga sebelum nya jika Kinan akan menolak.


"Iya Mah."


Mamah melangkah menuju kamar untuk siap-siap pergi arisan bersama teman-teman nya, setelah di rasa siap Mamah meminta Wisnu untuk mengantar nya, Mamah lebih senang bepergian di antar Anak-anak nya agar lebih banyak waktu untuk bersama.


"Mamah udah ajak Kinan tapi dia menolak."


Wisnu tertawa.


"Nggak mungkin Kinan mau Mah."


"Kirain Mamah mau."


Wisnu menggeleng sambil tersenyum.


🍃🍃🍃


Ibu Tasya hanya diam karena berat hati meninggalkan rumah yang menjadi tempat ternyaman nya.


Kini mereka sudah sampai di perkarangan rumah baru mereka.


"Ayo Buk, ini rumah kita yang baru, mulai hari ini kita tinggal disini."


Bian membukakan pintu mobil untuk mertua nya dan Tasya, mereka melangkah dengan bahagia.


Senyum Bian memudar saat melihat pintu utama rumah besar itu sudah terpampang beberapa foto Kinan dan Frans, foto Frans saat berlutut di depan Kinan dengan bunga di tangan nya, Kinan menarik tangan Frans masuk ke Apartemen, dan Foto Frans keluar dari Apartemen dengan tangan Kinan di pundak Frans.


Mata Bian memerah, dada nya naik turun menahan emosi.


"Kurang ajar!!" Umpat Bian.


"Siapa yang nempelin foto-foto ini sih Bi, ganggu pemandangan aja." Ujar Tasya sembari melepas foto itu satu persatu.


"Pasti Frans, kurang ajar mereka, ternyata mereka main api di belakang ku."


"Nak Bian cari dulu kebenaran nya, jangan menyimpulkan sesuatu dengan emosi."


Ibu Tasya mencoba menenangkan Bian, namun Tasya memelototi Ibu nya sembari meletakkan jari telunjuk di depan bibir.


"Yang sabar ya Bi." Tasya mengusap pelan pundak Bian.


"Pasti Kinan ngotot cerai karena pengecut itu, aku pergi kamu sama Ibu tunggu disini."


Bian merebut foto-foto itu dari tangan Tasya, lalu pergi.


🍃🍃🍃


"Akh... pake kempes segala."


Wisnu menatap nanar suasana yang padat dengan lalu lalang kendaraan di ibu kota.


Wisnu memutuskan untuk mengganti ban nya sendiri berhubung ia membawa ban serep.


"Udah janji mau bawa Nasywa jalan-jalan lagi, mungkin Kinan seneng ya kalo di ajak cari perlengkapan bayi."


Wisnu mengganti ban mobil nya sembari bergumam membayangkan wajah bahagia Nasywa dan Kinan.


Berbeda dengan Bian yang kini menutup pintu mobil nya dengan tenaga extra menghasilkan suara yang cukup keras.


Brrak..


Kinan terlonjak kaget lalu menatap nanar kedatangan Bian.


"Bener-bener keterlaluan kamu Nan, tenyata kamu main api di belakang ku, aku yakin Anak di dalam kandungan kamu ini Anak nya selingkuhan kamu si Frans itu!"


Kinan menggeleng.


"Maksud kamu apa Mas, ini Anak kamu, kok kamu tega bilangin darah daging kamu sendiri Anak orang lain."


"Udah lah Nan aku udah tau semua kebohongan kamu, foto-foto perselingkuhan kamu sama Frans udah aku liat semua, kamu nangis-nangis minta aku nggak bawa Tasya ke Apartemen, tau nya kamu yang bawa laki-laki lain, itu alasan kamu minta cerai dari aku Nan!!"


"Aku nggak sebejat kamu Mas!!"


"Nggak usah sok suci kamu!" Bian menunjuk wajah Kinan.


"Aku nggak pernah selingkuh Mas!!" Kini Kinan bercucuran air mata.

__ADS_1


Bian melempar 3 lembar foto Kinan dan Frans.


"Itu apa Nan, apa!!" Bian semakin meninggikan suara nya.


Dengan perut buncit yang sedikit mengganggu aktifitas nya Kinan duduk menopang tubuh nya dengan kedua lutut sembari memunguti foto-foto yang di lempar Bian ke udara.


"Aku bersumpah demi Allah ini Anak kamu Mas, aku bisa jelasin foto-foto ini."


Plakk....


"Jangan sebut Anak haram itu Anak ku!!"


Bian menampar pipi Kinan dengan keras, Kinan meringis merasakan betapa sakit dan panas nya tamparan laki-laki bertubuh kekar itu, air mata nya kini terhenti berganti dengan sakit yang sangat membekas di hati Kinan.


"Bisa jadi Anak yang di kandungan Tasya itu yang bukan Anak kamu!!" Pekik Kinan dengan tegar tanpa ada air mata yang mengalir kembali.


Bian menatap Kinan tajam, lalu mencekik leher Kinan dengan satu tangan.


"Jangan kamu hina Anak ku, kamu harus sadar siapa kamu pel***r murahan yang saya tebus dari mucikari.".


Kinan tidak mampu bicara ia hanya menahan sakit di leher nya.


"Lepas..." Ucap Kinan lirih, nafas nya terasa berhenti, wajah nya membiru karena pasokan oksigen menuju paru-paru nya terasa berhenti.


Bian melepas cekikan nya dengan mendorong Kinan hingga ia tersungkur, membuat Kinan terposisi membelakangi Bian.


Bugh.....


Bian menendang tubuh bagian belakang Kinan dengan kuat.


"Akh....." Pekik Kinan kesakitan.


"Non Kinan."


Salah satu ART di rumah itu menutup mulut nya melihat Kinan sudah lemas tak berdaya di lantai.


Bian menatap ART itu.


"Jangan ikut campur pergi!!"


"Tapi Non Kinan..."


"Pergi !!"


ART itu tergopoh-gopoh masuk rumah, sembari menahan cemas nya.


"Ada apa ribut-ribut di depan."


Tanya ART yang lain nya.


Mereka mengintip dari kaca.


"Ya Tuhan kita harus apa."


Mereka diam di dalam rumah berharap Bian segera pergi.


Bian kembali menatap Kinan sambil berjongkok.


"P-E-L-A-C-U-R!!" Bian menekankan ucapan nya, lalu kembali bangkit.


"To-tolong perut ku sa-kit......." Ucap Kinan terbata-bata.


Kinan meneteskan air mata nya, sangat nyeri sekali perut nya saat ini.


Kinan melihat Bian yang bertegak pinggang sembari melihat nya. Bian melangkah pergi meninggalkan Kinan yang sudah tidak berdaya.


Pandangan Kinan memudar lalu ia tidak sadarkan diri, ART yang melihat Bian pergi lalu dengan cepat menghampiri Kinan.


"Non Kinan bangun."


"Darah !! itu darah di lantai."


Salah satu dari mereka memanggil satpam lalu mereka membawa Kinan menuju rumah sakit dengan kendaraan yang ada.


🍃🍃🍃


"Ya Ampun panas nya."


Wisnu menyeka keringat yang menetes dari dahi nya, setelah 30 menit lamanya ia mengganti ban mobil nya di bawah terik matahari yang menyengat.


"Pagi-pagi ngepel Mbak."


Ucap Wisnu pada ART yang sibuk mengepel lantai di teras.


"Tuan Wisnu..."


ART itu berhenti lalu menangis tersedu-sedu.


"Loh kok nangis Mbak, ada yang salah kata-kata ku, maaf ya kalo gitu."


Wisnu menggaruk kepala nya.


"Bukan Tuan, saya ngepel darah Non Kinan, Non Kinan pendarahan tadi habis di hajar Tuan Bian di sini."


Senyum Wisnu menghilang.


"Maksud nya apa Mbak, sekarang Kinan di mana."

__ADS_1


"Di bawa ke rumah sakit terdekat mungkin Tuan, di bawa sama Bik ida dan Pak Mahmud, belum lama Tuan, mungkin juga belum sampai di rumah sakit."


Tanpa basa-basi Wisnu memutar balik mobil nya lalu menyusul Kinan, Wisnu tidak mampu berkata-kata ia hanya fokus ke depan agar cepat sampai di RS tujuan.


Tak lama Wisnu sampai di RS terdekat, lalu ia melihat mobil yang di kenal nya terparkir di halaman RS, Wisnu yakin Kinan di bawa di RS ini.


Bian berlari menuju UGD benar saja ia melihat Bik Ida dan Pak Mahmud.


"Bik gimana keadaan Kinan."


Tanya Wisnu cemas.


"Kami belum tau Tuan, belum ada dokter yang keluar."


"Apa yang Bian perbuat dengan Kinan Bik."


"Saya tidak tahu Tuan saya mendengar Non Kinan dan Tuan Bian cekcok di depan saat saya keluar Non Kinan sudah tergeletak di lantai."


"Cek-cok apa Bik."


"Saya tidak mendengar Tuan."


"Pak Mahmud dengar."


"Tidak Tuan, saya tadi sedang mengobrol dengan satpam sebelah rumah di luar gerbang, saya tahu jika Tuan Bian datang, tapi itu kan sudah biasa, saya tidak menyangka kejadian ini akan terjadi, saya minta maaf Tuan."


"Tidak apa-apa Pak Mahmud, Bik Ida ini bukan salah kalian, saya nanti cek CCTV, saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum."


Pintu ruangan UGD terbuka, seorang Dokter keluar dengan wajah cemas.


"Keluarga pasien."


"Saya Dok."


Wisnu menghampiri Dokter itu.


"Pendarahan Ibu Kinan cukup parah, kami akan lalukan tindakan operasi untuk menyelamatkan Ibu Kinan dan Bayi nya untuk itu kami butuh persetujuan dari Keluarga Pasien."


"Tapi kandungan nya baru 31 minggu Dok." Wajah Wisnu kini pucat pasi.


"Tidak ada pilihan lain Pak, jika kita biarkan saja pendarahan akan semakin parah, Ibu dan Bayi nya tidak akan selamat."


"Lakukan yang terbaik untuk Anak saya Dok."


Tiba-tiba Mamah datang.


"Baiklah silahkan menuju ruangan saya untuk menandatangani berkas-berkas nya."


Mamah mengangguk lalu mengikuti langkah Dokter itu.


Wisnu duduk dengan putus asa lalu menghubungi rekan polisi nya untuk menindak lanjuti masalah ini.


🍃🍃🍃


Mamah dan Wisnu duduk cemas di depan ruang operasi.


"Usia kandungan nya baru 31 minggu kan Mah."


"Iya Nak..."


"Pasti dia masih kecil Mah."


"Kita harus apa Nak, ini yang terbaik."


"Bian gila Mah, Wisnu nggak akan biarin dia bernafas bebas, apa bener dia Anak Mamah."


Mamah hanya diam.


Tidak lama pintu terbuka Wisnu menatap wajah pucat Kinan, Mamah segera mendampingi Kinan untuk di pindah ke ruang rawat.


"Pak, bayi nya boleh di Adzani."


Suster memanggil Wisnu, Wisnu melangkah mengikuti Suster itu, di lihat nya bayi mungil dengan selang-selang menempel di tubuh mungil itu, di dalam inkubator.


Tidak terasa air mata Wisnu menetes dengan sendiri nya.


Allaahu Akbar, Allaahu Akbar 2x


Asyhadu alaa illaaha illallaah 2x


Asyhadu anna muhammadar rasuulullah 2x


Hayya'alashshalaah2x


Hayya'alalfalaah2x


Allaahu Akbar, Allahu Akbar 1x


Laa illaaha illahlaah1x


Wisnu mengumandangkan adzan dan iqomah dengan khusyuk, di pandanginya sebentar bayi kecil itu.


"Berapa berat badan nya Sus."


"Berat badan bayi 1,7 kilo gram, tinggi badan 41 cm Pak, sebaiknya Bapak siapkan Nama untuk kelengkapan data-data ya Pak."


"Iya Sus."

__ADS_1


__ADS_2