Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 15


__ADS_3

Ini adalah hari ke tiga Kinan tinggal bersama Keluarga Suami nya, Kemarin malam acara lamaran Anggun sudah terlaksana dengan hikmat dan lancar. Pernikahan akan di laksanakan 1 bulan kemudian.


Pagi ini Anggun akan kembali ke RS tempat nya bekerja di kota B.


"Mbak berangkat ya Nu, kamu hati-hati setiap tugas."


Anggun memeluk Adik bungsu kesayangan nya itu.


"Iya Mbak, Mbak juga hati-hati ya."


Anggun mengangguk lalu beralih ke Mamah nya. Anggun mencium tangan dan pipi Mamah dengan penuh cinta.


"Kinan hati-hati jaga kesehatan."


"Iya, makasih Mbak."


Anggun beralih menatap wajah Bian.


"Jaga Istri mu Bi."


"Iya Mbak, Hati-hati di sana."


Anggun berangkat dengan di antar sopir, Saat mobil Anggun sudah meninggalkan halaman rumah mereka kembali masuk kecuali Kinan dan Bian.


"Aku berangkat ke kantor ya, kamu hati-hati di rumah."


"Iya Mas."


Kinan mencium punggung tangan Bian.


Kinan tersenyum sembari melambaikan tangan melihat mobil Bian ikut berlalu meninggalkan halaman.


🍃🍃🍃


Kinan baru saja selesai melaksanakan sholat Magrib. ia kembali merapihkan alat Sholat nya lalu turun untuk menyiapkan makan malam.


Sampai di dapur Kinan sudah melihat berbagai menu masakan yang menggugah selera, lalu segera menyusun nya dengan rapih di meja makan.


"Kinan, Mas Bian belum pulang?"


Tanya Wisnu yang baru saja datang.


"Belum Nu, mungkin sebentar lagi."


Wisnu tidak ingin memanggil Kinan dengan sebutan Mbak, ia beralasan jika memanggil nama akan menjadi lebih akrab.


"Awas nanti ketemu sama si Tasya."


Mamah yang baru datang memelototi Wisnu agar diam, walau sebenarnya beliau pun takut yang di ucapkan Wisnu akan terjadi.


"Wisnu cuma ngingetin Mah, biar Kinan lebih hati-hati, Mas Bian itu plin-plan, sifat yang paling Wisnu benci."


Mamah merenungi ucapan Wisnu.


Sifat Bian sangat sama dengan alm. Suami nya, Papah dari ketiga Anak nya, saat Wisnu berumur 11 tahun Mamah memergoki Papah Bian sedang asik berselingkuh dengan Karyawan kantor nya, hingga akhir nya Mamah memilih untuk membiarkan Suami nya menikah lagi.


Namun Papah Bian meninggal dunia karna sebuah penyakit yang di deritanya dan meninggalkan Istri muda nya yang sedang mengandung.


Ntah lah Kini di mana Istri muda Suaminya, Anggun, Bian atau pun Wisnu juga tidak mengetahui nya.


Mereka kini sedang makan malam dengan hikmad.

__ADS_1


🍃🍃🍃


Waktu sudah menunjukan pukul 21:00 namun Bian tak kunjung pulang, rasa cemas melanda Kinan, ia memutuskan untuk menyusul Bian menuju kantor dengan di antar sopir.


Ini untuk yang pertama kali nya Kinan memasuki kantor Bian. Kinan menuju ruangan Bian dengan di antar Security, sampai di depan ruangan Bian Kinan mengucapkan terimakasih kepada Security dan memutuskan untuk masuk sendiri.


Kinan membuka pintu ruangan Bian dan.....


Air mata Kinan hampir meleleh saat melihat Bian sedang berduaan dengan Tasya di ruangan nya.


Hati nya rapuh dan hancur, dunia selalu mempermainkan nya.


"Maaf menggangu."


Kinan melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan Bian.


Bian segera melepas Tasya hendak mengejar Kinan.


"Bi biarin dia pergi." Tasya menahan Bian.


"Sesuai perjanjian kita Kinan yang utama, sedari tadi aku bilang kita pulang, tapi kamu keras kepala !!"


Bian membentak Tasya lalu berlari mengejar Kinan.


"Kinan... Kinan...."


Panggil Bian sembari mengejar Kinan.


Bian berhasil menggapai tangan Kinan.


"Kinan, ini nggak seperti yang kamu liat."


Kinan berusaha tegar lalu berbalik menghadap Bian.


"Pulang sama aku, ayo kita pulang."


Kinan mengikuti Bian pasrah.


kini Kinan dan Bian sudah berada di dalam mobil perjalanan pulang.


Bian sesekali melirik Kinan.


"Kinan, maaf ..."


Kinan tersenyum.


"Ngak apa-apa, Kinan nggak pernah menghalangi Mas untuk berhubungan sama siapapun, Kinan juga nggak pernah minta Mas buat meninggalkan Tasya, Mas bilang itu permintaan Wisnu, seperti yang Kinan bilang, Kinan sadar siapa dan apa posisi Kinan."


Bian menggenggam tangan Kinan yang bergetar menahan air mata nya.


"Aku tidak bermaksud menyakiti mu."


"Mas nggak nyakiti Kinan, justru Kinan banyak-banyak terimakasih udah bebaskan Kinan dari mucikari itu, dan jadikan Kinan Istri Mas Bian, Kinan juga Nggak harus melayani banyak Laki-laki hidung belang."


"Kinan tau Mas nggak mencintai Kinan, kejarlah kebahagiaan mu Mas, Kinan ngak ada hak untuk melarang."


Bian terdiam lalu fokus mengendarai mobil.


Mereka sudah sampai di kediaman Mamah. Bian menggenggam tangan Kinan.


"Nggak akan Kinan bilang ke Wisnu."

__ADS_1


Ucap Kinan seakan-akan tahu kegelisahan Bian saat ini.


"Makasih Nan."


Mereka masuk ke dalam dan benar saja Wisnu dan Mamah sudah menunggu mereka.


"Ketemu Tasya Lo."


Wisnu langsung mencengkram kerah kemeja Bian.


"Apaan sih, lepas!!"


"Lo gak bisa bodohin Gua, Lo sadar buka mata Lo lebar-lebar Lo di lahirin dari rahim seorang wanita, tapi kenapa Lo sekarang nyakitin 3 wanita sekaligus, Mamah, Mbak Anggun, dan sekarang Istri Lo, buat apa Lo nikahin dia kalo cuma Lo sakiti, Lo sama Gua sama-sama dewasa, Gua yang Adek, Lo yang Kakak, tapi disini Gua merasa masih ngedidik Adek Gua!!!"


"Kamu nggak tau apa-apa jadi lebih baik diam !!"


Suara Bian dan Wisnu kini sudah menggelegar di rumah besar itu. Para pegawai di rumah itu sudah biasa dengan pertengkaran Bian dan Wisnu yang tidak berganti topik 2 tahun terakhir ini.


"Gua gak tau apa-apa Lo bilang, Lo fikir dulu siapa Gua, apa yang Gua pengen tau dengan mudah Gua tau."


"Tapi nggak mata-matain Mas sendiri."


"Gak usah ngalihin pembicaraan, sekarang Lo bebasin Kinan, Gua ganti 1 M uang Lo buat bebasin dia dari mucikari."


Bian tersenyum.


"Dia istri Mas, kamu nggak pantes ngatur hidup Mas."


"Ayo Kinan."


Bian hendak menarik tangan Kinan.


"Cukup ya Bian, Mamah sudah capek melihat tingkah kamu, kenapa Anak Laki-laki Mamah yang harus nya jadi panutan buat Adik nya malah bertingkah bodoh seperti ini, kamu Mamah sekolahkan tinggi, sekarang jadi pemimpin perusahaan besar, tapi akal kamu nol.


Kamu tidak menunjukkan bagaimana sikap seorang pemimpin seharusnya semenjak kenal Tasya, di apakan kamu oleh Tasya, bisa-bisa nya lagi dan lagi kamu kembali sama dia !!!"


Kinan yang sedari tadi mendengar pertengkaran itu merasa pening dan merasakan sesuatu mengalir di selang*angan nya.


Kinan memijit kening nya, perlahan-lahan tubuh nya mulai lemas.


Melihat Kinan akan ambruk Bian dengan sigap menangkap tubuh Kinan.


"Astagfirullah Kinan..."


Mamah langsung menggapai kepala Kinan dari pangkuan Bian, lalu melihat noda merah di keramik.


"Darah...!! Cepat bawa Kinan menuju rumah sakit !!" Teriak Mamah.


Mereka segera menuju rumah sakit lalu Kinan di tangani oleh tim Dokter.


Mamah menatap tajam Bian.


"Apa yang ada di fikiran mu Bi. Tega-teganya kamu memperlakukan istri mu sendiri seperti boneka."


Bian menggeleng.


"Bian juga nggak mengerti Mah, Maaf."


Wisnu mengerjitkan kening nya.


"Sering-sering nyebut Nak, ingat Allah ada di dekat mu, Sholat lah Nak."

__ADS_1


"Insya Allah Mah..."


"Wisnu bukan nya mau ikut campur Mas, tapi yang Mas lakuin ke Kinan udah keterlaluan." Ucap Wisnu.


__ADS_2