Perjalanan Kinan

Perjalanan Kinan
Perjalanan Kinan 22


__ADS_3

Keluarga Artama sedang sibuk-sibuk nya menyiapkan pernikahan Anak sulung mereka. 5 hari lagi adalah hari H pernikahan Anggun dan Alfat.


Namun disini yang paling lelah adalah ?


Ya Wisnu siapa lagi, harus nya Bian, karena Bian beralasan sibuk di perusahaan jadi Wisnu yang turun tangan.


Kinan sedang duduk termenung di pinggir kolam renang. Anggun yang melihat Adik ipar nya sering berdiam diri mencoba menghiburnya.


"Kinan, ada apa sih? Kok ngelamun terus."


Anggun duduk di samping Kinan.


"Ngak apa-apa Mbak ?" Kinan mencoba tersenyum manis.


"Ceritalah Nan, siapa tau Mbak bisa kasih masukan."


Kinan menatap Anggun sayu.


"Apa aku cerita sama Mbak Anggun aja biar hatiku lebih tenang." Batin Kinan.


"Mbak jangan cerita sama Mamah ya."


"Iya Nan."


Kinan menarik nafas nya lalu membuang nya secara perlahan.


"Mbak memang nya Mas Bian memang sering pergi ke luar kota atau lembur ya, karena seinget Kinan waktu kami tinggal di Apartemen Mas Bian selalu pulang sore, bahkan kadang sehabis dzuhur udah pulang. 2 minggu terakhir ini Mas Bian selalu lembur, ke luar kota udah 3 kali." Kinan mulai berkaca-kaca.


Anggun yang memang pulang kemarin dari Bandung sedikit kaget mendengar cerita Kinan.


"Nanti Mbak tanya dulu ya sama Bian, atau nanti Mbak suruh Wisnu cari tau."


Kinan menggeleng cepat.


"Jangan Mbak, kalau memang ada sesuatu biar Kinan pura-pura nggak tau aja."


Air mata Kinan mulai meleleh.


"Aku pernah ngajak Mas Bian tinggal di Apartemen lagi, bukan karena aku nggak betah tinggal sama Mamah, tapi karena aku merasa Mas Bian jadi semakin jauh dari aku, Mbak tau kan, hari ke tiga aku tinggal disini, Mas Bian lembur ternyata berduaan sama Tasya, itu yang aku takutin Mbak."


"Astagfirullah haladzim Kinan, yang sabar ya."


Anggun memeluk Kinan agar Kinan menjadi tenang.


"Yang aku takutin Mas Bian ada hubungan lebih jauh sama Tasya, karena itu Kinan pura-pura diam, anggap Kinan sama Mas Bian baik-baik aja Mbak. Kinan takut."


"Ya Allah Nan, yang sabar ya, Bian memang keras kepala."


Tanpa mereka sadari seseorang sedang mengamati pembicaraan mereka.


🍃🍃🍃


Bian sedang berkutat dengan laptop nya. ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang.


Bian bergegas memakai jas nya lalu pergi menuju parkiran dan melajukan mobil nya.


Setelah 20 menit perjalanan Bian kini sampai di depan rumah sederhana yang 4 minggu terakhir ini sering di datangi nya.


Bian masuk lalu menyalami wanita paruh baya yang sedang duduk di teras.


"Tasya mana Bu?"


Tanya Bian pada wanita itu.


"Ada di kamar Nak, badan nya lemas dia cuma mampu tiduran."

__ADS_1


Bian menunjukkan wajah cemas nya.


"Bahaya tidak untuk janin nya ya Bu?."


Ibu Tasya tersenyum.


"Tidak Nak..."


"Kalau gitu Bian masuk ya Bu."


Bian melangkah kan kaki nya ke kamar Tasya. Di lihat nya Tasya sedang tidur.


"Sya kamu makan ya."


Bian mencoba membangunkan Tasya.


Tasya mengerjapkan mata nya. Lalu mengangguk pelan.


Bian bergegas menuju dapur menyiapkan makan untuk Tasya.


Tasya duduk lalu tersenyum. Bian datang dengan piring di tangan nya.


"Makan yang banyak."


Ucap Bian yang telaten menyuapi Tasya. Tasya hanya mau makan dari tangan nya, ia beralasan akan muntah jika tidak di suapi Bian.


Inilah rutinitas baru Bian, ia melihat Kinan yang biasa-biasa saja saat hamil, hanya mual muntah saat awal-awal kehamilan. Jika Tasya yang kandungan nya sudah menginjak hampir 3 bulan masih mengalami Morning Sickness parah.


Bian sudah berkonsultasi pada Dokter, Dokter menjelaskan bahwa ini memang hal yang sering terjadi pada awal kehamilan.


Bian berfikir Tasya lebih membutuhkan nya di banding Kinan. Bian bersyukur Kinan bisa sabar saat dirinya beralasan lembur setiap hari nya, padahal ia menemani Tasya hingga ia tertidur pulas.


Jika waktu nya pulang, ingin sekali Bian memanjakan Kinan juga, namun Bian terlalu lelah selepas mengurus Perusahaan dan Tasya.


Bian melihat Tasya akhir-akhir ini banyak berubah, Tasya sering meminta Bian untuk pulang menemani Kinan. Namun Bian tidak tega meninggalkan Tasya yang lemah karena mengandung Anak nya.


"Udah Bi, kenyang."


Ucap Tasya dengan nada lirih


"Yasudah, sekarang tidur lagi, aku temenin."


Tasya mengangguk.


"Bi kamu pulang aja, Mbak Anggun masih di rumah kan, aku juga takut nanti keluarga kamu curiga."


"Biarlah Sya, kamu lebih butuh aku. Aku seneng sekarang kamu banyak berubah."


"Berubah apa Bi."


"Emm... Ya lebih dewasa lah."


"Biasa aja Bi, sebentar lagi aku berpisah sama Anak ku, aku mohon jaga dia baik-baik ya Bi."


Tasya mengeluarkan air mata buaya nya.


"Lupain aja Sya, kamu akan tetap rawat Anak kita, dan kalian berhak dapet harta aku sebagian."


"Nggak Bi, aku malu sama kamu, aku udah terlanjur janji akan nyerahin Anak ini ke kamu, aku butuh harta itu buat bahagiain ibu di masa tua nya Bi."


"Udah jangan di fikirin Sya, itu juga termasuk tugas ku."


Tasya tersenyum kemenangan.


"Sya maaf aku harus ke kantor. Ada meeting dadakan."

__ADS_1


"Iya Bi, makasih udah pulang."


Bian menjawab anggukan lalu bergegas menuju kantor kembali.


Melihat menantu nya pergi Ibu Tasya segera masuk ke kamar menemui Tasya.


Ia melihat Tasya sudah duduk santai memainkan Ponsel nya.


"Sudahi sandiwara mu Nak..."


"Kasihan Bian dan Istri nya."


Mendengar Ibu nya lagi-lagi protes Tasya berdiri menghadap Ibu nya.


"Ibu nggak usah ikut campur urusan aku, Ibu cukup diem aja udah kok, reseh banget !!"


Tasya membentak Ibunya.


"Ibu tidak mendidik kamu untuk jadi Wanita seperti ini Nak..."


"Bu kalo mau ceramah ke masjid sana, bukan di sini, Tasya ngelakuin ini biar kita kaya Bu !!"


"Ibu cukup hidup miskin seperti ini asal halal Nak..."


"Hallah Bu, jangan munafik, nanti kalo udah dapet uang banyak pasti Ibu juga tergiur."


"Tidak Nak... Itu tidak halal."


Tasya menatap tajam Ibunya.


"Ahh... Ibu mending keluar deh, pusing aku denger Ibu nangis, mau dapet harta banyak malah nangis."


Tasya mendorong Ibunya agar keluar dari kamar nya.


"Usil banget..."


Umpat Tasya lalu kembali duduk memainkan ponsel nya.


🍃🍃🍃


Kinan sedang mencobakan Bridesmaid milik Nasywa.


"Wah cantik sekali Anak Mamah."


"Terimakasih Mah." Nasywa tersenyum manis.


"Cocok banget ya Nan sama Nasywa." Ucap Anggun.


"Iya Mbak."


Jawab Kinan singkat.


Anggun melirik Mamah nya.


"Coba punya kamu dong Nan."


"Tadi udah di coba Mbak, bagus banget."


Kinan mencoba terlihat seceria mungkin. Kinan melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 15:00.


"Nasywa waktu nya kamu les, kamu siap-siap ya."


"Iya kak."


Nasywa berlari menuju kamar nya.

__ADS_1


Mamah melihat Kinan yang selalu murung seharian ini. Tiba-tiba Mamah menemukan ide bagus untuk mengembalikan keceriaan Kinan.


__ADS_2