
"Beri saya kesempatan untuk menjelaskan kepada kalian, yang saya ucapkan nanti itulah fakta yang Kinan ceritakan kepada saya."
Bian mencoba menceritakan kebenaran yang Kinan ceritakan dini hari tadi kepada Bian.
"Baiklah Pak Bian, silahkan."
Bian pun mulai menceritakan nya kepada para Warga
"Kinan di jual oleh Ibu tirinya kepada mucikari untuk menjadi wanita penghibur. Kalian lihat saja wajah Kinan yang penuh lebam, itulah hasil pemberontakan nya kepada Pria yang akan menyewa nya.
Sesuai pernyataan Kinan kepada saya, beberapa hari yang lalu Kinan di bawa Ibunya untuk menemui calon majikan Kinan.
Namun alih-alih menemui calon majikan itu ternyata Ibu Kinan membawa Kinan kepada mucikari, Kinan di jual senilai lima puluh juta untuk di jadikan wanita penghibur.
Kinan sangat terpukul dengan tindakan Ibunya, malam pertama Kinan bersama mucikari itu Kinan langsung di jajakan kepada seorang Pria tua yang sanggup membeli keper*wanan nya lebih mahal dari nilai jual Ibu nya.
Namun Kinan memberontak dan Pria itu gagal untuk mengagahi Kinan."
Sebagian Ibu-ibu yang hadir sudah menangis dan merasa bersalah pada Kinan.
Wanita yang di panggil Bude oleh Kinan tadi langsung membelai rambut panjang Kinan yang tak sadarkan diri.
"Saya dari awal memang ragu jika Kinan seperti itu, karena saya sangat mengenal Kinan, tapi Ningsih Ibu tiri Kinan memperlihatkan foto-foto Bu**l Kinan bersama para lelaki berbeda kepada kami."
Ibu itu menjelaskan dengan suara bergetar menahan tangis.
"Tapi dari mana Bu Ningsih mendapat foto-foto itu, saya rasa itu memang benar Kinan."
Timpal Ibu lain nya
"Saya yakin itu bukan Kinan, karena setelah Kinan memberontak untuk tidur bersama Pria itu Kinan di pengaruhi oleh mucikari itu bahwa uang penjualan dirinya di gunakan untuk operasi Ayah Kinan, dia juga mengatakan bahwa Ayah Kinan sudah pulih seperti sedia kala.
Kinan sangat senang mendengar nya, Kinan bertekad akan melayani tamu selanjutnya jika benar uang itu untuk pengobatan Ayah nya.
Dan tamu selanjutnya adalah saya, disini saya bersaksi bahwa Kinan adalah gadis virgin.
Disitu saya heran kenapa Kinan rela menjadi wanita penghibur, lalu Kinan menceritakan kepada saya dari awal sampai detik dia bersama saya pada tadi malam." Jelas Bian lagi.
Tak lama Kinan sudah sadar.
"Bude, di mana makam Ayah, lalu Nasywa, di mana Adik ku sekarang." Dengan sempoyongan Kinan kembali bertabya di mana Ayah dan Adik nya.
"Makam Ayah mu di TPU dekat sini, tapi Nasywa dan Ningsih telah pergi, rumah Ayah mu sudah di jual."
"Kemana Ibu membawa Nasywa, apa Ibu benar-benar membawa Nasywa bersamanya."
Kinan benar-benar mengkhawatirkan Adik nya, karena melihat Kinan yang sudah di jual oleh Ningsih tak menutup kemungkinan bahwa Ningsih tak membawa Nasywa bersamanya.
"Aku akan ke makam Ayah."
Kinan berdiri lalu berjalan menuju tempat pemakaman umum yang di yakini Kinan tempat Ayah nya di makamkan.
__ADS_1
Bian yang sedikit iba dengan kehidupan Kinan hanya diam melihat Kinan pergi. ia tahu betul perasaan Kinan karna ia pernah merasakan yang di alami Kinan.
Setelah Kinan dan Rafa kembali mereka memutuskan untuk kembali ke Apartemen.
Bian membiarkan Kinan menenangkan fikiran nya.
Waktu menunjukan pukul 16:00 sore
Tak lama Bian mendapat telfon jika pernikahan siri Bian dan Kinan sudah siap.
Kinan memakai gamis syar'i dan Bian memaki kemeja putih.
Mereka menikah di kediaman Ustadz yang menikahkan mereka.
"Saya terima nikah nya Kinanti Azania Binti Herman dengan maskawin uang tunai lima juta rupiah di bayar tunai."
Sahh...
Kini Kinan dan Bian resmi menjadi pasangan suami Istri di mata Agama.
🍃🍃🍃
"Kamu pulang sendiri, saya akan pulang ke Apartemen jika saya membutuhkan kamu."
"Iya Tuan."
Bian meninggalkan Kinan di pinggir jalan raya dekat Apartemen.
"Lebih baik aku Menjadi Tawanan Tuan ini di banding melayani Pria hidung belang. Toh suatu saat aku juga akan bebas dari nya."
Kinan berdialog sambil merebahkan tubuh nya di atas ranjang.
"Tiga hari terakhir yang aku lalui rasanya sangat panjang dan melelahkan, Ayah ku telah tiada, Adik ku entah di mana. Kemana Ibu Ningsih membawa Nasywa, lindungilah Adik ku ya Allah.
Apa mungkin aku kurang dekat dengan mu Ya Allah sehingga engkau memberi ku ujian seberat ini." Ucap Kinan sembari menangis.
Kinan berdiri lalu membuka setiap pintu lemari Bian namun Kinan tak menemukan sajadah ataupun mukena.
Kinan memutuskan untuk mengambil Wudhu.
Setelah Wudhu Kinan menjadi lebih tenang, jika Bian kemari Kinan akan meminta sajadah,mukena, dan Al-Qur'an fikir Kinan.
🍃🍃🍃
Sementara Bian telah berdiri di depan sebuah rumah megah.
Hampir satu bulan lebih Bian tidak melangkah kan kaki nya di tempat ini.
Bian masuk ke dalam rumah itu, para pelayan yang melihat kedatangan Bian hanya saling melirik.
Bian berhenti saat melihat wanita paruh baya sedang duduk menonton televisi.
__ADS_1
"Mamah..."
Wanita itu menengok kesumber suara.
"Bian... tumben kamu pulang."
Bian menghembuskan nafas kasar
"Bian kangen mamah."
"Apa masalahmu dengan wanita itu, pasti sedang ada masalah jika kamu mau pulang."
"Kami baik-baik aja Mah.."
Mamah menggeleng melihat Bian yang sangat keras kepala.
"Bian mau minep disini mah.."
"Kenapa harus izin.."
Bian tersenyum.
"Di mana Wisnu mah."
"Ini malam Minggu, tentu cari calon Mantu yang baik buat Mamah."
"Bagaimana perusahaan." Sambung Mamah lagi.
"Semakin maju Mah, berkat Doa Mamah."
Mamah Bian mengangguk.
"Mamah sudah ingin menimang Cucu."
"Mungkin sebentar lagi Wisnu menikah Mah."
Mamah menatap Bian.
"Lalu kamu, hubungan seperti apa yang kamu jalani dengan Tasya."
"Tinggalkan dia carilah wanita yang lebih baik lagi, Adik mu akan sangat tidak suka jika kamu menikah dengan nya."
"Bian tidak mengerti apa masalah Mamah dan Wisnu, tapi Bian akan coba membaut Tasya berubah."
"Hmm... Terserah kamu saja lah."
Bian tetap membela Tasya dan tidak menceritakan tentang Tasya yang berkhianat.
Karena Bian masih berharap Tasya benar-benar berubah.
Untuk sementara ini Bian membiarkan Tasya introspeksi diri.
__ADS_1
Bian ingin melihat sampai mana Tasya bertahan untuk meyakinkan Bian.