
Bian menghempaskan tubuh nya di atas ranjang.
"Tidak punya akal sehat wanita itu, jika terjadi sesuatu pada Anak ku akan ku buat hidupnya berakhir di jeruji besi."
Pintu kamar terbuka ternyata itu adalah Tasya. Dirinya terus meracau.
"Bian.... Bian..."
Racau Tasya sembari melangkah ke arah ranjang.
"Bi.... "
"Apa!!" Bian menatap tajam Tasya.
"Kamu cinta aku kan Bi, Bi nanti kalo Anak ini udah lahir aku pergi ya... sebenernya cinta tapi aku pengen keliling dunia hahahaha..sebentar aja habis itu pulang lagi deh."
Bian menggeleng.
"Terserah aku cuma mau Anakku. Harus nya aku memeluk tubuh istri ku malam ini, karena kamu menjebakku terpaksa aku menjadi pendengar racauan mu malam ini."
"Aduhh sakit nya kepalaku Bi..."
Bian memijit kepala Tasya.
"Minum berapa botol kamu, bau sekali."
Namun Tasya sudah tertidur pulas sebelum menjawab pertanyaan Bian.
"Kenapa aku malah terjebak permainan ku sendiri." Umpat Bian.
Bian membuka Google lalu mencari kemungkinan terbesar resiko janin yang terlahir dari ibu pemabuk.
Bian memijit kening nya.
"Semoga tidak terjadi kepadamu Nak."
ucap Bian sembari menatap perut Tasya.
Waktu menunjukkan pukul 00:45. Namun Bian tidak bisa memejamkan matanya.
"Kinan baru pulang dari RS sudah tidur sendiri. Apa aku pulang saja ya. Tapi tidak elok untuk kandungan Kinan jika datang malam-malam."
Bian melirik Tasya yang tertidur pulas di samping nya.
"Berapa usia kandungan Tasya?, besok akan ku bawa ke dokter saja."
Bian membuka ponsel nya lalu melihat satu persatu foto Kinan.
"Apa reaksi kamu jika tau aku menikahi Tasya Yank, sampai Anak kita lahir ini akan tetap jadi rahasia. Apa Kinan sudah bertemu Adik nya. Chat ku saja tidak di balas."
Bian terus bermonolog hingga dirinya ikut menjelajah alam mimpi.
🍃🍃🍃
Untuk pertama kali pagi Bian di sambut dengan tingkah gila Tasya.
"Bi, berikan aku uang atau aku minum lagi !"
Ancam Tasya yang kini sudah siap dengan pakaian kurang bahan nya.
"Owwhhh Wanita ini benar-benar memanfaatkan keadaan." Geram Bian.
"Berapa ?"
"200 juta aja Bi."
"Ku transfer sekarang tapi jaga kandungan mu baik-baik, beli Makanan bergizi susu hamil dan lainnya yang bagus untuk kandungan mu."
Tasya menyipitkan matanya.
"Ihh .. formal banget sih Bi."
__ADS_1
"Terserah, 1 minggu kedepan waktu ku dan Kinan, jangan ganggu kami."
Bian tetap berbicara sembari bersiap menuju kantor.
"Iya... Yang penting Cuan nya terus."
"Jangan lupa langsung ke Dokter yang sudah aku buat janji."
"Iyaa.... Bawel amat sih." Sungut Tasya
Bian menuju kantor nya.
Seharian ini Bian berkutat dengan laptop nya, pekerjaan nya sedikit menumpuk, dan Bian kembali menyalahkan Tasya.
"Gara-gara perbuatan gila nya aku tidak fokus bekerja." Umpat Bian.
Ponsel nya berdering tanda pesan masuk.
"8 minggu, Kinan 12 minggu sekarang ini."
Ternyata itu adalah pesan dari Dokter yang menangani Tasya.
Bian mengerjakan tugas nya sembari sesekali memijit kening nya, jika boleh mengakui dirinya sangat lelah akhir-akhir ini. Bukan lelah bekerja tapi lelah mengurus Tasya dan berbohong dari Kinan.
Yang Bian khawatirkan adalah janin di kandungan Tasya yang harus selalu di jaganya dari kelakuan gila Tasya, dan janin di kandungan Kinan yang harus di jaga dari stres ibunya.
Jika tadi nya ia berkata itu belum tentu Anak nya Tidak hati Bian kini mengatakan jika Tasya benar-benar mengandung Anak nya.
Apa reaksi Kinan jika sewaktu-waktu Bian pulang dengan membawa Anak nya dan Tasya, apa Kinan dengan leluasa menerimanya, atau mungkin......
Ahhhh.... Batin Bian sangat lelah memikirkan nya, Bian menyenderkan tubuh nya di kursi kebesaran nya.
"Aku ingin memeluk Kinan...."
Bian kembali melanjutkan Pekerjaan nya. Lagi-lagi Bian terngiang-ngiang ucapan Mamah nya.
Kamu itu seorang pemimpin perusahaan besar tapi sikap mu tidak mencerminkan sikap pemimpin sesungguhnya.
Tiba-tiba ponsel nya berdering.
"Hallo sayang...."
"............."
"Iya... Aku pulang."
Bian segera menutup laptop nya lalu bergegas pulang.
Sampai di rumah Bian sudah melihat Kinan menangis.
"Ada apa ini!"
Suara bariton Bian mengalihkan perhatian semua orang.
Bian langsung menghampiri Kinan dan menanyakan apa sebenarnya yang terjadi.
"Ada apa Sayang." Tanya nya pelan.
Bian menatap Anak kecil yang diyakini Adik Kinan, dan dua orang dewasa.
"Ada apa Mah..."
Bian menatap Mamah nya mencari jawaban.
"Nasywa, Adik Kinan tidak mau bersama Kinan Bi."
"Kenapa bisa begitu." Bian terheran.
"Mungkin dia menyukai orang tua angkat nya Bi."
Mamah bergetar tidak tega melihat Kinan.
__ADS_1
"Tidak masuk akal dong Mah, Kinan ini Kakak kandung Nasywa."
"Apa yang kalian lakukan pada Nasywa." Introgasi Bian.
"Jika ingin memiliki jangan dengan cara kotor."
Tambah Bian lagi.
"Nasywa memang ingin bersama kami, kami tidak melakukan apapun, kami berani bersumpah." Papa angkat Nasywa meyakinkan.
Bian menggeleng.
"Walaupun 1 tahun Nasywa bersama kalian dia akan tetap memilih Kakak nya jika di beri pilihan, Nasywa sudah besar bukan bayi yang bisa lupa asal usul nya, Kinan yang membesarkan nya mana mungkin Nasywa tidak ingin bersama Kinan. Lepaskan Nasywa, karena dia punya kehidupan sendiri."
"Banyak anak di panti asuhan, bahkan yang baru lahir, adopsi saja, tidak perlu memakai cara kotor untuk mendapat Anak."
Orang tua angkat Nasywa menjadi kikuk dengan ucapan bertubi-tubi Bian.
Wisnu datang lalu memberi Nasywa air putih yang sudah di Doa kan di dapat Wisnu dari Kyai.
"Minum lah Nasywa. Bismilahirrahman nirrahim, Ya Allah hilangkan lah pengaruh buruk dalam tubuh Nasywa, buat lah Nasywa kembali seperti semula, Aminn..."
Wisnu membantu Nasywa meminum air itu.
"Nasywa sekarang ikut Mas Wisnu ya, kita main-main di taman, mau ?"
"Mama sama Papa." Tanya Nasywa.
"Mereka tunggu disini. Okee "
Nasywa mengangguk. Wisnu dan Nasywa pergi meninggalkan Orang-orang yang sedang panas itu.
"Kami memang membawa Nasywa ke orang pintar agar lupa pada Kakak dan Ibunya dan tetap bersama kami, Nasywa terus meminta di antar pulang karena ingin dengan Kakak nya."
Kinan mendongak kan kepala nya yang sedari tadi menunduk.
"Nasywa itu hidup dan mati saya om, tante. berhari-hari bahkan bulan saya tidak pernah tidur nyenyak memikirkan Adik saya dimana, sudah makan atau belum, dan apakah Ibu menjaganya dengan baik, dan setelah saya tau Nasywa di rawat kalian dengan baik saya sangat berterima kasih, tapi jangan ambil dia, hanya dia yang saya punya, kami sebatang kara sekarang."
Kinan tidak kuasa menahan tangis nya.
"Sudah sayang Nasywa tetap bersama kita."
Bian menguatkan Istri nya.
"Maafkan kami, kami terlanjur jatuh cinta pada Nasywa, biarkan Nasywa bersama kami, kami menyayangi nya."
"Silahkan jika Nasywa mau, Nasywa sudah meminum air yang di Doakan dengan Ayat-ayat suci Al-Quran, jadi pengaruh yang kalian tanam kan akan hilang."
Ucap Mamah tegas.
"Jika kalian tetap tidak menyerah, saya akan bawa masalah ini ke jalur hukum."
Bian mengeluarkan jurus ampuh.
Mereka sedikit kaget.
"Baiklah kami menyerah, kami akan kembali ke Bali."
Papa angkat Nasywa berdiri sembari menarik tangan Mama angkat Nasywa.
"Bagus itu silahkan..."
Bian mempersilahkan sembari menunjuk pintu.
Mereka pergi dengan wajah kecewa dan kesal.
"Dari pagi mereka ngotot ingin membawa Nasywa. Mana mungkin aku sanggup."
Adu Kinan pada Bian dengan suara yang hampir habis.
"Kamu menangis terus, suara mu habis, sekarang diam lah. Nasywa tetap bersama kita."
__ADS_1
Kinan mengangguk.Lalu Bian menuntun Kinan menuju kamar agar Kinan istirahat.