
Tok...tok...tok...
Palu pengadilan di ketuk, air mata Kinan luruh seketika, Mamah mengusap punggung Kinan.
"Sabar ya Nak..." Kinan mengangguk.
Mereka keluar dari gedung, tanpa sengaja Kinan berpapasan dengan Bian.
"Harus nya kamu sadar siapa kamu baru hadapi saya."
Bian menunjuk wajah Kinan lalu ia kembali melangkah.
"Suatu saat kamu akan menyesal Mas."
Bian berhenti lalu berbalik.
"Tidak akan."
"Cukup Bian, jika mau pergi silahkan, jangan buat gaduh."
Bian tersenyum sinis.
"Silahkan Mamah bela wanita ini."
Mamah menggeleng lalu mengelus dada nya.
🍃🍃🍃
"Apa tahanan kota !!" Kinan mengangguk.
"Kenapa bisa seringan ini sih ?"
Wisnu memijit kening nya, ekspetasi Wisnu setidak-tidak nya 10 bulan - 1 tahun kurungan, tapi kenapa bisa hanya menjadi tahanan kota.
"Mungkin aku bisa iklas kalo soal itu Nu, tapi yang nggak bisa aku iklasin Mas Bian yang nggak nganggep Kafeel, bahkan dia nantang tes DNA, di mana hati nurani nya."
"Sabar ya Nan, memang uang bisa merubah segalanya, kalo soal tes DNA akan kita lakukan secepatnya."
"Kita ke RS sekarang kita ambil sempel Kafeel dan sempel kamu, kamu kan Adik nya Mas Bian otomatis DNA kamu sama Kafeel sama kan Nu."
"Nggak bisa gitu Nan, lebih baik kita pake sempel Bian sendiri karena nanti hasil nya lebih cocok kan, kalo kita pake sempel orang lain, takut nya Bian tambah nyepelin Kafeel."
"Tapi gimana caranya dapet sampel Bian?"
"Itu soal gampang kita bisa minta tolong Rafa."
Mamah memberi pendapat.
"Iya Mamah bener."
"Aku serahin ke kamu ya Nu, aku minta tolong banget, perjuangin keadilan untuk Kafeel."
"Iya Nan, pasti."
"Oh ya Nan ini aku beliin hp buat kamu, biar kamu mudah komunikasi sama orang rumah."
Wisnu menyerahkan paper bag berlogo mall besar.
"Makasih Nu."
"Iya, lebih baik kita sekarang ke RS udah hampir jam 2 siang, kamu belum anter ASI untuk Kafeel."
"Astagfirullah sampe lupa, ayo kita berangkat, kebetulan ASI nya udah siap, kalo gitu aku ambil dulu sebentar."
Sementara Mamah hanya tersenyum senang melihat kedekatan Kinan dan Wisnu saat ini.
__ADS_1
🍃🍃🍃
Sementara Bian kini sedang susah payah mengatur emosi nya karena selama ia di tahan Tasya sama sekali tidak menjenguk nya, rasanya ia tidak sabar sampai di rumah dan menanyakan kepada Tasya apa alasan nya tidak menemui nya sama sekali.
Namun Bian kembali berfikir positif, mungkin saja Tasya sedih jika melihat Bian di penjara, jadi Tasya memutuskan untuk tidak menemui nya, jika benar begitu sebaik nya Bian mampir ke toko bunga untuk membelikan bunga terbaik untuk Tasya.
"Fa, kita ke toko bunga dulu."
"Baik Tuan."
Bian melirik Rafa, dengan ragu ia menanyakan tentang Kinan setelah kejadian tempo hari.
"Fa, bagaimana kondisi Kinan."
"Baik Tuan."
"Apa dia sudah melahirkan saya lihat perut nya sudah tidak buncit saat di pengadilan tadi."
"Ya dia sudah melahirkan Anak nya secara prematur setelah anda siksa tempo hari Tuan."
"Saya hanya beri dia pelajaran."
"Terserah anda Tuan."
"Emh.... Anak nya laki-laki atau perempuan Fa."
"Laki-laki."
Hati Bian sedikit mencair, seulas senyuman tipis terlihat jelas di bibir nya, Rafa melirik Bian dari kaca sepion.
"Saya punya foto nya jika anda mau lihat Tuan."
Bian mengerutkan kening nya.
"Boleh Fa."
Rafa menyerahkan handphone nya kepada Bian.
"Siapa namanya Fa."
"Siapa ya, saya kurang faham Tuan, jika tidak salah Kafeel Artama, emh sepertinya ada yang kurang, anda tanya Wisnu saja karena dia yang memberi nama."
Rafa menyungging kan bibir nya.
"Owh, saya kira Ayah nya Anak ini si Frans itu."
Bian kembali menyerahkan handphone Rafa lalu menengok ke arah luar jendela.
"Rasakan." Rafa tersenyum puas.
"Jangan lupa berhenti di toko bunga !" Ketus Bian.
"Baik Tuan."
Tak lama mereka sampai di toko bunga lalu Bian memilihkan bunga mawar segar kesukaan Tasya.
Sepanjang perjalanan pulang ia tak berhenti memikirkan Kafeel, wajah nya mirip sekali dengan wajah dirinya sewaktu bayi.
"Akh.... mungkin karena dia selalu bersama saya sewaktu dalam perut."
🍃🍃🍃
Kinan dan Wisnu sudah berada di ruangan Kafeel, dengan antusias Kinan mendengar penjelasan suster yang mengatakan bahwa berat badan Kafeel sudah 2,2 ons.
"3 hari naik 2 ons, masya allah pintar nya Anak Bunda ini."
__ADS_1
"Iya pinter nih Anak Dady."
Kinan menatap wajah Wisnu yang sedang mengelus lembut kepala Kafeel.
"Dady ?"
"Kenapa, dari pada dia tumbuh tanpa seorang Dady lebih baik aku yang jadi Dady nya kan."
"Terserah lah."
Wisnu tersenyum manis lalu kembali mengajak Kafeel bicara.
"Kalo berat badan nya naik terus cepet pulang ke rumah Oma Kafeel nya."
"Alhamdulillah sayang."
"Iya sayang." Wisnu menyauri.
Mata Kinan melirik Wisnu.
"Sayang Kafeel, anak ganteng, anak sholeh."
Lanjut Wisnu lagi, Kinan menggeleng lalu menyiapkan ASI baru untuk Kafeel.
🍃🍃🍃
"Pasti Tasya seneng."
Lalu Bian melangkah memasuki rumah, namun bunga yang di tangan nya jatuh seketika, mimpi apa ia semalam, istri tercinta nya bercumbu mesra dengan laki-laki yang di sebut mantan kekasih oleh istri nya di depan mata nya sendiri.
"Tasya !!"
Suara Bian menggelegar di rumah besar itu, Tasya dan laki-laki itu kaget lalu segera berdiri.
"Bian."
"Kurang ajar kamu Sya."
"Kenapa ?"
Ucap Tasya santai sembari melangkah menghampiri Bian tanpa melepas pegangan tangan nya di tangan kekasih nya.
"Kenapa kamu bilang !! kamu selingkuh sama laki-laki brengsek ini."
Bian menunjuk mantan kekasih Tasya yang kini berdiri tak jauh dari nya.
"Kalo iya emang kenapa."
"Pergi kalian dari sini !!"
Mata Bian semakin merah dan emosi nya kian memuncah.
"Harus nya kamu yang pergi karena ini rumah ku, apa kamu lupa rumah ini udah atas nama ku."
"Oh jadi gitu mau kamu, oke, tapi liat nanti aku ambil Anak ku setekah lahir !!"
"Jika bisa ambil sekarang pun terserah, aku nggak perduli."
"Akh...." Bian memukul pintu lalu pergi.
"Dasar laki-laki bodoh, kenapa bisa bebas cepet."
Tasya kembali menutup pintu rumah nya.
Maaf ya gays Author jarang update.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, hadiah, jempol and komen biar Author lebih semangat update.....
salam sayang 😘